menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

5 Fakta Menarik tentang Hari Raya Galungan

Nivita Saldyni,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
5 Fakta Menarik tentang Hari Raya Galungan
Image: Prajurit Koarmada II gelar persembahyangan saat rayakan Hari Raya Galungan. (Ilustrasi/Dok. Puspen TNI)

Jakarta - Hari ini umat Hindu di Indonesia tengah merayakan Galungan. Hari besar umat Hindu ini dirayakan setiap Budha Kliwon Dungulan dalam perhitungan kalender Bali yang jatuh setiap 210 hari sekali.

Pada 2021, Hari Raya Galungan dimulai pada hari ini, Rabu (14/4/2021) dan berakhir pada Sabtu (24/4/2021) mendatang. Nah, di balik perayaan Galungan ini ada hal-hal unik yang mungkin jarang diketahui orang loh. Penasaran apa saja? Yuk, simak fakta Hari Raya Galungan yang telah Urbanasia rangkum dari berbagai sumber berikut ini!

Sejarah Hari Raya Galungan

Bicara soal sejarah, sepertinya tak ada yang tahu pasti kapan tepatnya Galungan mulai dirayakan. Dilansir dari website Pemkab Buleleng, mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama, I Gusti Agung Gede Putra pernah mengatakan bahwa Galungan diperkirakan sudah dirayakan umat Hindu seluruh Indonesia sebelum populer di Pulau Bali.

Sementara menurut lontar Purana Bali Dwipa, hari besar ini dirayakan pertama kali pada Hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) pada 882 Masehi atau tahun Saka 804.

“Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka,” bunyi lontar tersebut, dikutip dari website Pemkab Buleleng, Rabu (14/4/2021).

Galungan biasanya dirayakan 10 hari sebelum Kuningan. Keduanya sama-sama dirayakan dua kali dalam setahun dengan perhitungan kalender Bali. Kalau Galungan dirayakan setiap Rabu pada wuku Dungulan, Kuningan dirayakan setiap Sabtu pada wuku Kuningan.

Makna Galungan bagi Umat Hindu

Masih dari sumber yang sama, Galungan diketahui berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya bertarung. Galungan juga memiliki arti lain yaitu menang yang juga disebut dengan ‘dungulan’.

Secara filosofis, Galungan dirayakan untuk memberi kekuatan spiritual agar umat Hindu mampu membedakan dharma (kebenaran) dan adharma (kejahatan) dalam diri manusia. Umat Hindu juga percaya bahwa Galungan adalah simbol bersatunya rohani dan pikiran yang terang sebagai wujud menangnya dharma melawan adharma.

Galungan Hanya Ada di Indonesia

Dilansir dari situs Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM, Galungan ternyata hanya dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia. Sementara, umat Hindu di India merayakan hari kemenangan dharma melawan adharma dengan Deepavali. Mereka merayakan dengan pemujaan dan juga festival.

Galungan Identik dengan Penjor

Kalau Urbanreaders berkunjung ke Bali saat Galungan, kamu akan menemukan penjor di rumah-rumah warga. Penjor merupakan atribut keagamaan yang terbuat dari bambu. Bambu ini biasanya dihias dengan sajen, buah, kelapa, padi, jagung, umbi-umbian, jajan, uang sebelas kepeng, sampian penjor, lengkap dengan porosan (sirih, kapur, pinang), bunga dan sanggahnya.

Sebagian percaya bahwa penjor adalah simbol dari Naga Basukih yang digambarkan dengan kelapa sebagai kepala naga dan sampian penjor sebagai ekor naga bermakna kemenangan. Penjor biasanya dicabut sebulan setelah Galungan atau pada Budi Kliwon Pahang yang disebut juga Pegatwakan.

Perayaan Galungan Terdiri dari Serangkaian Hari Suci

Dilansir dari situs Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (PHDI), Galungan terdiri dari serangkaian hari suci. Perayaan Galungan sendiri terdiri dari persiapan, puncak perayaan, dan akhir perayaannya.

Nah perayaannya diawali Tumpek Wariga, 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Pada hari ini, umat Hindu memuja Dewa Sangkara agar tumbuh-tumbuhan berbuah lebat. Biasanya hal ini dilakukan lewat tradisi menghaturkan sesaji berupa bubur sumsum.

Kemudian ada Soma Paing Warigadean untuk memohon keselamatan diri yang dilanjutkan dengan Sugihan Jawa. Nah Sugihan Jawa ini adalah hari pesucian sarana galungan. Di hari ini akan dilaksanakan upacara Mererebu atau Mererebon untuk menetralisir segala sesuatu yang negatif dalam diri manusia yang disimbolkan dengan pembersihan merajan dan rumah. 

Selanjutnya ada Sugihan Bali, yaitu hari pembersihan diri sendiri yang dilakukan setiap Jumat Kliwon wuku Sungsang. Pada Sugihan Bali umat Hindu akan mandi dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih sebagai simbolis penyucian jiwa raga untuk menyambut hari Galungan.

Kemudian ada yang namanya Panyekeban yang dirayakan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan. Panyekeban dilakukan untuk nyekeb indriya atau mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama. 

Kemudian ada Penyajaan yang dirayakan tiap Senin Pon wuku Dungulan. Pada hari ini akan dilakukan semedi untuk pengendalian diri sebelum menyambut Galungan.

Tepat sehari sebelum Galungan, akan ada Pehampahan yang dirayakan tiap Selasa Wage wuku Dungulan. Setiap Pehampahan, umat Hindu di Bali akan sibuk membuat penjor, yaitu bambu hias yang berisi sesajen, buah, kelapa, padi, dan gulungan janur kuning. Selain itu, merak juga akan menyembelih babi sebagai simbolis membunuh nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia. Mereka juga akan menyediakan ‘suguhan’ untuk para leluhur yang dipercaya akan datang di hari Penampahan.

Baru setelah serangkaian perayaan tersebut, umat Hindu di Bali akan merayakan Galungan. Pada Hari Raya Galungan akan ada upacara di rumah masing-masing dan juga Pura di sekitar lingkungan.  Pada hari ini pula, ada tradisi pulang kampung bagi para perantau. Mereka biasanya akan  menyempatkan diri untuk sembahyang di daerah asalnya.

Belum selesai sampai di sana loh. Setelah Galungan akan ada Umanis Galungan. Biasanya di hari ini akan ada persembahyangan yang dilanjutkan dengan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara ataupun tempat rekreasi.

Setelah itu di Minggu Wage wuku Kuningan akan ada Ulihan. Umat Hindu di Bali percaya bahwa hari ini adalah hari kembalinya para dewata-dewati ke kahyangan dengan meninggalkan berkat untuk mereka yang tinggal di bumi.

Kemudian hari suci selanjutnya adalah Pemacekan Agung yang dirayakan setiap Senin Kliwon wuku Kuningan. Hari ini menjadi simbol keteguhan iman umat manusia atas segala godaan selama Hari Raya Galungan, guys.

Baru setelah itu masuk ke Hari Kuningan. Pada hari ini umat Hindu di Bali akan merayakan dengan memasang tamiang sebagi simbol senjata Dewa Wisnu, kolem sebagai simbol senjata Dewa Mahadewa, dan endong yang menjadi simbol kantong perbekalan yang dipakai oleh Para Dewata dan Leluhur saat berperang melawan adharma.

Selain itu persembahan yang digunakan adalah tumpeng berwarna kuning. Semuanya harus selesai sebelum jam 12 siang agar tak hanya diterima Bhuta dan Kala karena para Dewata telah kembali ke Kahyangan.

Terakhir, ditutup dengan Pegatwakan yang dilaksanakan pada Rabu Kliwon wuku Pahang atau sebulan setelah Gakungan. Pada hari Kuningan ini digelar persembahyangan. Penjor dicabut, dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait