beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URtrending

Anggaran 'Bukan TOA Biasa' DKI Jakarta Capai Rp 4 M, Kayak Apa Sih Kualitasnya?

Nunung Nasikhah,
lebih dari 2 tahun yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Anggaran 'Bukan TOA Biasa' DKI Jakarta Capai Rp 4 M, Kayak Apa Sih Kualitasnya?
Image: Aplikasi sistem peringatan bencana dini untuk mengurangi resiko banjir atau Flood Early Warning and Early Action System (FEWEAS). Foto: Antara

Jakarta – Belajar dari pengalaman bencana banjir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tahun ini bakal menambah unit sistem peringatan dini atau Disaster Warning System (DWS) dalam bentuk pengeras suara atau toa jarak jauh.

Tak tanggung-tanggung. Untuk pengadaan DWS ini, Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan dana Rp 4.073.901.441 untuk 6 set.

Anggaran Rp 4 miliar lebih tersebut belum termasuk biaya perawatan 14 set alat DWS di 14 titik selama satu tahun yakni sebesar Rp 165 juta.

Total biaya tersebut sudah dianggarkan di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun ini. "Tahun 2020 ini, pengadaan enam set DWS anggarannya Rp4,03 miliar, sesuai dengan nilai yang ada di e-budgetting," ungkap Kepala Pusdatin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohammad Insyaf dilansir dari Antaranews (17/1/2020).

Baca Juga: Mulai Gotek sampai Grab Boat, Netizen Malah Kreatif Bikin Meme Banjir Jakarta

Budget yang cukup besar untuk pembelian 6 set toa ini menjadi kontroversi publik sebab dinilai terlalu mahal.

Menjawab hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI punya alasanya. “Pengeras ini bukan Toa biasa karena bisa dipantau dari Pusdatin untuk langsung ke lokasi yang ada. Anggaran tersebut sudah ada di e-bugedting," ucap Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), Muhammad Insyaf.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan BPBD DKI Jakarta mengatakan, bujet mahal ini harus dikeluarkan karena pengembangan dari Early Warning System (EWS) bantuan Jepang tahun 2014.

"Ini kayaknya pengembangan EWS (Early Warning System) bantuan Jepang. Ini TOA seperti yang dipakai di Jepang, jadi memang mahal," kata Kepala Pusdatinkom BNPB Agus Wibowo kepada wartawan, Kamis (16/1/2020) malam.

Selain berstandar Jepang, pengeras suara ini juga cukup canggih karena dapat dikendalikan dari jarak jauh sebagaimana sirene yang dipakai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selama ini. Dengan begitu, alat ini dinilai sudah sesuai dengan kebutuhan Jakarta.

"Bisa dikendalikan jarak jauh. Seperti sirene yang dipakai BMKG. Sudah sesuai (kebutuhan di Jakarta), itu standar seperti di Jepang," katanya.

Sebagai informasi, enam titik pengeras suara DWS tersebut bakal dipasang di enam kelurahan yakni di Bukit Duri, Kebon Baru, Kedaung Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate dan Marunda.

Setiap DWS akan terdiri dari empat pengeras suata yang dipasang di satu tiang mengarah ke empat mata penjuru angin. Pengeras suara ini memiliki jarak dengar mencapai 500 meter.

Baca Juga: Hingga Siang Ini, Sejumlah Rel KAI Daop 1 Jakarta Masih Tergenang!

"Enam itu sudah memenuhi kebutuhan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Menambah yang sudah ada sebelumnya 14 titik," ucap Insyaf.

Adapun 14 set alat DWS yang terdapat di 14 kelurahan. Di Jakarta Selatan akan dipasang di Ulujami, Petogogan, Cipulir, Pengadegan, Cilandak Timur, dan Pejaten Timur.

Sementara di Jakarta Barat akan dipasang di Rawa Buaya, Kapuk, dan Kembangan Utara. Serta dipasang di Kampung Melayu, Bidara Cina, Cawang, Cipinang Melayu, dan Kebon Pala yang berada di Jakarta Timur.

Insyaf menyebutkan DWS tersebut akan terkoneksi dengan sistem peringatan dini banjir. Jadi, saat tinggi muka air bendungan mencapai siaga 3, DWS akan berbunyi secara otomatis sebagai peringatan banjir kepada warga.

"Ini (toa) berbunyi saat pintu air siaga 3, bersamaan dengan peringatan dini yang dikirimkan SMS blast dan WhatsApp grup kelurahan-kelurahan," tegasnya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait