Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

BKKBN Ajukan Syarat Baru Pernikahan untuk Cegah Stunting, Ini Isinya

Eronika Dwi,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
BKKBN Ajukan Syarat Baru Pernikahan untuk Cegah Stunting, Ini Isinya
Image: Ilustrasi pernikahan. (Unsplash/Wu Jianxiong)

Jakarta - Stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak di Indonesia. Karenanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021.

Perpres yang sudah berlaku sejak 5 Agustus 2021 itu diharapkan dapat menyelesaikan persoalan tersebut.

Hadirnya Perpres itu pun kemudian melahirkan program baru yang rencananya akan dikerjakan secara nasional pada awal 2022, yakni memasukkan daftar syarat baru bagi calon pengantin.

Syarat tersebut diajukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang mana syarat barunya adalah calon pengantin wajib mengisi data status nutrisi tubuh mereka.

"Saya sudah mohon izin kepada Kementerian Agama setelah Perpres ini turun untuk melakukan suatu kewajiban mendaftar tiga bulan sebelum nikah disertai dengan menyampaikan tinggi badan, berat badan, status hb, dan lingkar lengan atas bagi mereka yang mau nikah," ujar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di webinar Sosialisasi Perpres Nomor 72 Tahun 2021, dikutip dari YouTube HUMASBKKBN, Minggu (5/9/2021).

Menurut Hasto, upaya pencegahan stunting sangat bisa dilakukan sebelum kehamilan terjadi dengan memastikan calon pengantin benar-benar memiliki kualitas tubuh yang baik.

Hal tersebut, Hasto Wardoyo menambahkan, berkaca dari masih tingginya angka anemia pada ibu baru di Indonesia.

"Berdasarkan Riskesdas 2018, kejadian anemia pada ibu hamil masih cukup tinggi yakni di atas 40%. Padahal, anemia pada ibu hamil menjadi salah satu sumber bayi lahir stunting," paparnya.

"Karena itu, sebelum hamil harus dipersiapkan dengan baik si calon pengantinnya, khususnya sang ibu, sehingga tiga bulan sebelum hamil sudah dilakukan pemeriksaan," lanjutnya.

Agar ide ini bisa terealisasikan dengan baik, BKKBN sudah menciptakan suatu aplikasi dan telah diujicobakan ke beberapa wilayah, seperti di Aceh dan Banyuwangi.

"Aplikasi yang kami punya akan disempurnakan dengan aplikasi yang akan dibuat juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Jika mereka punya PeduliLindungi, kenapa BKKBN tidak bisa punya dan ini nantinya dapat memberi manfaat yang luar biasa besar," ungkapnya.

Rencananya, Hasto mengatakan, syarat baru bagi calon pengantin ini akan berjalan pada Oktober 2021 mendatang, sehingga Januari 2022 BKKBN sudah bisa mengumpulkan data dari para calon pengantin.

"Karena kan tiga bulan sebelum menikah pengumpulan datanya," terangnya.

Nantinya, dari data dalam aplikasi yang tengah dipersiapkan dengan Kemenkes, maka semua yang mau nikah, yang rerata enam ribu sehari, sistem bisa mengumpulkan jumlah tersebut dalam sehari pula.

"Dari situ kami bisa memberi respons, apabila si calon pengantin dinyatakan anemia, kami bisa memberi rekomendasi untuk penanganan anemianya. Kemudian, kalau dia 'undernutrition' lain, kami bisa beri nasihat bagaimana mengatasi 'undernutrition' itu sebelum nantinya hamil," papar Hasto.

"Itulah satu langkah penting yang akan kami lakukan bersama dengan Kementerian Kesehatan, yakni melakukan intervensi di awal, pencegahan bayi lahir stunting sebelum nikah, benar-benar bisa kami lakukan demi keluarga yang lebih berkualitas," tambahnya.

Sebagai informasi, stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait