Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Fakta Pembantaian 1.428 Lumba-lumba dalam Sehari di Kepulauan Faroe

Alwin Jalliyani,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Fakta Pembantaian 1.428 Lumba-lumba dalam Sehari di Kepulauan Faroe
Image: -Ilustrasi - Lumba-lumba di Pantai Lovina, Bali.(Pinterest/Balinese Travel)

Jakarta - Pembantaian sebanyak 1.428 lumba-lumba sisi putih terjadi di pantai Skalabotnur, Kepulauan Faroe, Denmark pada akhir pekan lalu menarik perhatian. Penduduk setempat menyembelih lumba-lumba menggunakan pisau. Akibatnya air pantai yang bening berubah menjadi merah.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, pembantaian tersebut merupakan tradisi mengerikan Grindadrap yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Tradisi Grindadrap dilakukan setiap tahun menjelang musim panas. Lebih tepatnya sekitar bulan Juli dan September.

Kepulauan Faroe sendiri termasuk daerah otonom terakhir di Eropa yang mendapat izin berburu mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus. Hal ini disebabkan tradisi Grindadrap dinilai sebagai contoh perburuan lumba-lumba asli secara tradisional.

Membunuh lumba-lumba sisi putih adalah kegiatan yang legal tapi tidak populer, kata Sjurdur Skaale, anggota parlemen Denmark untuk Kepulauan Faroe. Skaale membela perburuan tersebut karena cara yang digunakan hanya memerlukan kurang dari satu detik untuk membunuh paus.

“Dari sudut pandang kesejahteraan hewan, ini adalah cara yang baik untuk membunuh daging, Jauh lebih baik daripada memenjarakan sapi dan babi," kata Skaale, mengutip BBC, Senin (20/9/2021).

Tujuan penduduk setempat berburu lumba-lumba dan paus yaitu untuk memenuhi kebutuhan makanan. Daging hasil tangkapan akan dibagikan kepada 53.000 penduduk lokal pulau Faroe. Selain itu, mereka menjadikan tradisi ini sebagai identitas budaya yang berkelanjutan.

Namun, tidak semua penduduk Faroe mendukung keberlangsungan tradisi Grindadrap sampai hari ini.

“Dugaan saya kebanyakan lumba-lumba akan dibuang ke tempat sampah atau lubang di tanah, kita harus memiliki kuota per distrik, dan kita tidak boleh membunuh lumba-lumba,” ujar seorang warga kepada media lokal, melansir The Guardian, Senin (20/9/2021).

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait