Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URtech

Hacktiv8 Ingin Lahirkan Ribuan Talenta Digital di 2022

Shinta Galih,
14 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Hacktiv8 Ingin Lahirkan Ribuan Talenta Digital di 2022
Image: Ilustrasi bekerja di startup. (Freepik/pch.vector)

Jakarta - Perusahaan pemberdaya talenta digital Hacktiv8 berkeinginan lahirnya ribuan talenta digital di Indonesia. 

Hal tersebut didorong oleh hasil riset Korn Ferry yang mengestimasikan bahwa Indonesia akan mengalami kekurangan talenta digital dari 1,8 juta hingga 3,8 juta orang dalam 10 tahun mendatang.

Padahal Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan sektor teknologi paling cepat di dunia.

Badan Kebijakan Fiskal memprediksi pertumbuhan teknologi tanah air tahun depan mampu mencapai angka 10,1%. Sektor yang terus bertumbuh ini juga mendatangkan kebutuhan terhadap SDM teknologi yang tinggi.

“Indonesia menghabiskan sekitar Rp 21,3 triliun untuk pendidikan tingkat tinggi pemrograman, dengan 250 ribu pelajar baru setiap tahunnya. Namun, menurut data dari Bank Dunia, hanya sekitar 17% lulusan Teknologi Informatika (TI) yang bekerja di bidang pengembangan software. Kesenjangan inilah yang ingin kami atasi dengan solusi pendidikan yang kami tawarkan," ujar Ronald Ishak, CEO & Founder Hacktiv8.

Kesenjangan itulah yang ingin Hacktiv8 jawab dengan solusi pendidikan yang ditawarkan. Ditambah lagi berdasarkan survei dari McKinsey tahun 2018, 15 dari 20 eksekutif perusahaan teknologi mengaku kesulitan menemukan talenta digital yang tepat, dan setengah di antaranya kesulitan mempertahankan mereka.

Walau Google dan Temasek memproyeksi akan ada lebih dari 200 ribu talenta digital professional di Asia Tenggara pada 2025, kenyataannya masih jauh dari angka tersebut.

Kini, kebanyakan posisi tersebut didominasi oleh profesional yang lebih senior dari sektor perbankan, ritel, dan perusahaan di luar wilayah tersebut," jelasnya.

Berangkat dari misi tersebut, saat ini Hacktiv8 telah mencetak lebih dari 1,100 talenta digital berkualitas yang bekerja di perusahaan-perusahaan digital ternama yang juga menjadi hiring partner seperti Investree, SIRCLO, Xendit, Mekari, Loket, Qlue, dan Axiata Digital.

Kebanyakan lulusan mereka telah melalui coding bootcamp professional yang terdiri dari program Full Stack Javascript dan Data Science.

Full Stack Javascript merupakan program kursus selama 16 minggu untuk mempelajari pemrograman dasar dan Bahasa pemrograman seperti JavaScript, Node.js, Vue.js, dan framework Facebook’s React dengan ratusan sesi latihan yang dibimbing oleh instruktur. 

Sedangkan program Data Science merupakan program intensif 12 minggu yang memberikan siswa ilmu pengolahan data, seperti pemrograman, statistik, hingga bisa menjadi seorang data scientist atau data analyst yang dapat memberikan kesimpulan dari data yang diolah.

Ronald mengatakan, kurikulum di Hacktiv8 juga dirancang dengan melibatkan para hiring partner agar para lulusannya dapat langsung mempraktikkan ilmu yang didapatkan di perusahaan tempat mereka bekerja.

“Model bootcamp kami menuntut pelajar untuk menghabiskan waktu sekitar 10 hingga 12 jam sehari, sehingga hanya yang terbaik saja yang bisa lulus dari program dan mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.

Secara rata-rata, lulusan Hacktiv8 bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu 2 hingga 3 minggu. Selain itu untuk memudahkan belajar di bootcamp dari sisi biaya pendidikan, Hacktiv8 juga mengembangkan fitur Income Share Agreement (ISA) atau perjanjian bagi hasil.

“Kami melihat belum banyak pendidikan formal di bidang teknologi informatika yang benar-benar terjangkau. Pinjaman pendidikan yang berbunga juga cenderung tidak syariah. Melalui ISA ini, siswa akan membayar biaya pendidikan ketika mereka sudah mendapatkan pekerjaan, dengan menyisihkan sebagian dari gaji mereka. Fitur ini diharapkan dapat membuka akses bagi banyak orang yang ingin belajar pemrograman tanpa harus terkendala biaya,” pungkas Ronald.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait