Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URtech

Indonesia Jadi Pasar IT dengan Pertumbuhan Tercepat di Asia Pasifik

Afid Ahman,
sekitar 2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Indonesia Jadi Pasar IT dengan Pertumbuhan Tercepat di Asia Pasifik
Image: Indonesia Jadi Pasar IT dengan Pertumbuhan Tercepat di Asia Pasifik. (Dok. Innovecs)

Jakarta - Indonesia diperkirakan akan memimpin Asia-Pasifik dalam belanja TI dalam empat tahun ke depan. Hal tersebut didorong oleh pergeseran kuat ke layanan terkait cloud saat pandemi COVID-19 mendorong perusahaan lokal untuk mendigitalkan layanan mereka.

Pengeluaran TI negara itu diperkirakan akan mengalami tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 13 persen selama beberapa tahun ke depan, membawa nilai sektor ini menjadi US$6 miliar (Rp 82,6 triliun) pada 2024, menurut laporan oleh Boston Consulting Group (BCG) dan Cisco yang diterbitkan belum lama ini.

India diperkirakan akan mengalami pertumbuhan tercepat kedua dengan CAGR 12 persen, kemudian Malaysia dengan CAGR 10 persen pada periode yang sama.

"Indonesia adalah pasar TI yang tumbuh paling cepat di Asia Pasifik, Jepang, dan China," kata presiden Asean Cisco Naveen Menon, seperti dikutip laman The Star, Senin (30/8/2021). 

Pandemi COVID-19 telah mendorong permintaan layanan cloud di Indonesia karena pembatasan mobilitas telah memaksa perusahaan untuk mengakomodasi tenaga kerja jarak jauh dan melayani permintaan online yang lebih besar.

Di tengah pembatasan, tingkat hunian kantor telah dibatasi dan aktivitas online melonjak karena warga yang tinggal di rumah bergantung pada platform online untuk membeli barang, mengadakan pertemuan, dan menghadiri sekolah.

Lembara riset Gartner memperkirakan bahwa dari total pengeluaran TI Indonesia pada 2024, 52 persen akan digunakan untuk layanan cloud publik, sedangkan 48 persen sisanya akan digunakan untuk infrastruktur TI di lokasi.

Potensi pasar cloud di Indonesia yang begitu besar telah menarik beberapa raksasa teknologi, termasuk Google Cloud, Microsoft, Alibaba, dan Amazon Web Services (AWS) membangun pusat data di Tanah Air.

Namun, perwakilan IBM Indonesia dan Google Cloud Indonesia mengatakan pada awal Februari bahwa masalah keamanan siber dan biaya tinggi serta ketersediaan sumber daya manusia yang terbatas menghalangi banyak perusahaan untuk bermigrasi ke infrastruktur berbasis cloud.

Sebuah survei terpisah yang dilakukan oleh firma hukum Baker McKenzie terhadap 800 bisnis dari delapan negara Asia-Pasifik menunjukkan bahwa 84 persen bisnis Indonesia merasa terganggu selama setahun terakhir, yang berarti mereka tertinggal dari pesaing dalam mendigitalkan operasi mereka.

"Tidak ada [metode] satu ukuran untuk semua, atau satu solusi yang cocok untuk semua organisasi, dalam peta jalan cloudifikasi," kata direktur pelaksana dan mitra BCG Singapura Prasanna Santhanam.

Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa pengeluaran TI Indonesia akan menjadi yang tertinggi kesebelas di kawasan ini pada 2024. Jepang diperkirakan memiliki pengeluaran tertinggi dengan US$155 miliar (Rp 215,5 triliun) dan China daratan tertinggi kedua dengan US$141 miliar (Rp 202,5 triliun).

Secara keseluruhan, pengeluaran Asia-Pasifik untuk TI diperkirakan akan tumbuh pada CAGR 8 persen menjadi US$475 miliar (Rp 682,5 triliun) pada tahun 2024, didorong oleh pengeluaran untuk layanan cloud publik.

Kepala Ekonom Economist Intelligence Unit Simon Baptist mengatakan ukuran pasar Indonesia, terbesar di Asia Tenggara, menjadikannya negara yang menarik untuk investasi teknologi digital.

"Tantangan yang dihadapi Indonesia adalah seputar nasionalisme data, bahwa pemerintah di sana membatasi perusahaan dalam hal harus menjadi tuan rumah semuanya dan tunduk pada pembatasan dalam memindahkan data ke dalam dan ke luar negeri, lintas batas. Itu akan membatasi adopsi beberapa teknologi di pasar," katanya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait