menu
user
Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URedu

Lulus Program Doktor Fisip UI, Fadjroel Rachman Angkat Disertasi Distingsi Pemilih di Indonesia

Shelly Lisdya,
15 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Lulus Program Doktor Fisip UI, Fadjroel Rachman Angkat Disertasi Distingsi Pemilih di Indonesia
Image: Fadjroel Rachman sidang terbuka promosi doktor Fisip UI (Foto: Ist)

 

Jakarta - Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman baru saja dinyatakan lulus S3 oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). 

Dalam sidang terbuka promosi doktor ilmu komunikasi dengan promovendus, Fadjroel menyampaikan penelitian disertasi dengan judul “Distingsi Pemilih di Indonesia (Studi Interpretative Phenomenological Analysis Habitus Kelas dan Perilaku Memilih dengan Pendekatan Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu)”. 

Disertasi Fadjroel adalah penelitian komunikasi politik khususnya perilaku memilih (voting behavior) yang bertujuan menemukan bagaimana pemilih berdasarkan distingsi (distinction) kelas sosial dan habitus kelas sosial tertentu melakukan pemrosesan informasi untuk 
memproduksi opini politik dan pilihan politik pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019. 

1618983996-IMG-20210421-WA0005.jpgSumber: Fadjroel Rachman sidang terbuka promosi doktor Fisip UI (Foto: Ist)

Kelas sosial, distingsi kelas sosial dan habitus kelassosial pemilih dalam formasi sosial masyarakat kontemporer Indonesia (historical situatedness) tersebut, dianalisis dengan memakai model kelas sosial baru berdasarkan pendekatan strukturalisme genetik Pierre Bourdieu. 

Metode yang digunakan adalah convergent parallel mixed method, pendekatan kuantitatif dengan analisis kluster digunakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kelas-kelas sosial di Indonesia, sementara pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan para informan kunci digunakan untuk mendapatkan pemahaman tentang habitus kelas dan modus produksi opini politik masing-masing kelas sosial dengan menggunakan the modes of production of opinion Bourdieu.

"Melalui analisis kuantitatif dan kualitatif dengan interpretative phenomenological analysis berhasil mengidentifikasi empat kelas sosial di 
Indonesia lengkap dengan habitus kelas masing-masing, yakni kelas elite, kelas menengah profesional, kelas menengah tradisional, dan kelas marhaen," isi disertasi Fadjroel.

Baca Juga : Sekolah Kedinasan Mulai Dibuka, Lulusan Bisa Jadi Calon PNS 

"Tiap-tiap kelas sosial memiliki jumlah dan portofolio kapital ekonomi, kapital budaya, dan kapital sosial yang berbeda, serta habitus kelas dan kapital simbolik yang berbeda pula dan memiliki modus produksi opini politik yang juga menunjukkan perbedaan (distinction) signifikan pada masing-masing kelas sosial. Perbedaan modus produksi opini politik berhubungan langsung dengan perbedaan habitus kelas masing-masing kelas sosial," tambahnya.

Penelitian Fadjroel pun menunjukkan, bahwa modus produksi opini politik dan pilihan politik tersebut terkondisikan oleh arena sosial (social field). Kelas elite dan kelas menengah profesional mengalami modus produksi opini dan pilihan politik berdasarkan etos kelas dan prinsip politik atau produksi orang-pertama (first person production), di mana opini dan pilihan politik pemilih dari kelas ini berdasarkan kesadaran diskursif dan pengetahuan kritis-kognitif. 

Sementara kelas menengah tradisional dan kelas marhaen mengalami modus produksi opini dan pilihan politik berdasarkan production by proxy, di mana opini dan pilihan politik pemilih dari kelas ini berdasarkan kesadaran nondiskursif dan nonkritis, rentan terhadap doxa (realitas dunia yang dirumuskan pihak dominan), serta propaganda dan kekerasan simbolik.

Baca Juga: 3 Tips Persiapan Pembelajaran Tatap Muka, Apa Saja? 

Dalam penelitian ini, Fadjroel juga menemukan, bahwa habitus kelas merupakan mediator dari modus produksi opini dan pilihan politik para pemilih pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019. 

Habitus kelas elite yakni visioner, rasional, outward looking, etos pengusaha, dan profesional yang penuh passion dan resilience. Sementara habitus kelas menengah profesional yakni rasional, berkembang ke arah kemajuan pendidikan dan profesionalisme serta pro perubahan sosial dan meritokrasi.

Sedangkan habitus kelas menengah tradisional yakni konservatisme nilai dan kecemasan dalam kepemilikan kapital serta kehidupan sosial. Terakhir habitus kelas marhaen, yakni subsistensi, ketidakpedulian sosial, serta keputusasaan hampir total di semua bidang kehidupan. 

Secara singkat Fadjroel menyebut penemuannya sebagai Janus Theory, di mana individu pemilih memproses informasi dimediasi habitus yang merupakan sejarah kehidupannya namun tetap dapat menavigasi strategi (strategizing) produksi opini politik dan pilihan politik dalam arena komunikasi politik.

Selain itu dalam temuan kualitatif terhadap informan kunci penelitian, berdasarkan distingsi kelas sosial dan habitus kelas sosial masing-masing, ia menemukan bahwa para pemilih pada pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019 pada dasarnya sudah 
menentukan pilihan politik mereka masing-masing bahkan sebelum pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019 itu berlangsung. 

Baca Juga: 3 Tips Memilih Sekolah Kedinasan, Biar Nggak Salah Pilih 

"Meminjam konsep Lazarfeld et al dari Columbia School para pemilih tersebut adalah deciders (sudah memilih dengan keputusan tetap)," bunyi disertasi.

Bisakah kelas sosial dan habitus kelas sosial berubah? 

Fafjroel menilai bisa saja, pasalnya konsep habitus yang menyatakan bahwa individu adalah produk sosial melalui dialektika struktur mental dan struktur sosial atau dialektika internalisasi eksternalitas (structured structure) dan eksternalisasi internalitas (structuring structure), memberikan peluang untuk perubahan sosial. 

Perubahan bisa saja asal merombak struktur sosial, kepemilikan kapital ekonomi, kapital sosial dan kapital budaya melalui strategi transformasi struktural terukur dan progresif. 

Perombakan kelas sosial yang ada melalui strategi transformasi struktural terukur dan progresif tersebut akan melahirkan agen sosial dengan habitus berbeda. Pemilih baru dengan disposisi habitus baru diharapkan menjadi pemilih yang mampu mendemokratisasikan demokrasi sesuai agenda Reformasi Mei 1998. Peran komunikasi politik khususnya dan ilmu komunikasi umumnya tentu berkembang menjadi kekuatan perubahan sosial substantif dan demokratis di Indonesia.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait