menu
user
URtech

Mengenal Love Scam dan Tips Menghindarinya

Afid Ahman,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Mengenal Love Scam dan Tips Menghindarinya
Image: Ilustrasi love scam. (Freepik/drawlab19)

Jakarta -  Belakangan ini banyak orang menggunakan aplikasi kencan online atau situs jejaring sosial untuk bertemu seseorang. Tetapi alih-alih menemukan romansa, banyak yang malah menemukan penipu yang mencoba mengelabui mereka.

Penipuan berkedok asmara/cinta dikenal dengan istilah love scam. Dosen Fakultas Hukum UGM sekaligus Ketua Pusat Kajian Law, Gender, and Society UGM, Sri Wiyanti Edyyono, mengatakan kasus love scam semakin marak terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Perkembangan teknologi dan internet menjadikan jangkauan love scam kian meluas.  

“Love scam ini bukan fenomena baru dan banyak terjadi, tetapi yang lapor jarang,” tuturnya dalam Webinar Series: Love Scam yang diselenggarakan Pusat Studi Wanita (PSW) UGM.

Dalam melancarkan aksinya bisanya pelaku love scam membuat profil palsu yang begitu menarik di situs dan aplikasi kencan. Mereka kerap menggunakan media sosial populer seperti Instagram, Facebook,  atau WhatsApp untuk berkomunikasi dengan target. 

Para penipu berusaha menjalin hubungan intens dengan target untuk membangun kepercayaan mereka. Terkadang mereka  berbicara atau mengobrol beberapa kali dalam sehari.

Beragam cerita dibuat untuk memperdaya korban. Sering kali pelaku mengaku punya bisnis atau pekerjaan yang mengharuskannya ke luar kota atau luar negeri

Hebatnya para pelaku love scam begitu ahli mengelabui perasaan korban. Mereka terlihat begitu tulus, perhatian, dan dapat dipercaya, sehingga membuat korban jatuh hati.

Bila sudah begitu, si penipu mulai leluasa melancarkan tujuan utamanya. Entah itu mengeruk uang korban, bahkan ada yang melakukan eksploitasi seksual.

Sayangnya begitu pelaku kabur, korban tidak melapor ke pihak berwajib. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya, salah satunya, rasa malu pada korban. Selain itu, adanya ketakutan dijadikan bahan candaan di media sosial, khawatir disalahkan dan lainnya.

“Takut dijadikan guyonan yang menyudutkan mereka. Lalu, bukan dianggap persoalan serius saat dilaporkan ke aparat penegak hukum kecuali mendapat sorotan publik,” jelas Wiyanti.

Lebih lanjut dia menilai pencegahan terhadap kasus love scam di Tanah Air masih terbilang lemah. Ironisnya lagi penegakan hukum juga belum konsisten, pengawasan yang tidak berkelanjutan hingga permasalahan data yang tidak lengkap.

Kondisi tersebut  menjadikan tidak sedikit kasus love scam yang tidak dapat terselesaikan. Ditambah dengan permasalahan budaya yaitu persepsi yang sangat kuat terhadap seksualitas dan stereotip menyebabkan korban love scam menjadi korban kembali.

Wiyanti menegaskan risiko love scam bisa dicegah dengan adanya peraturan yang kuat. Disamping itu, juga adanya intervensi dalam upaya pencegahan seperti literasi digital pada perempuan, promosi perlindungan, mekanisme pengaduan, perubahan peraturan dan lainnya.

“Ini harusnya masuk dalam bagian isu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan ada payung hukum baru karena kalau mengacu peraturan yang ada itu tidak bisa,” terangnya.

Sementara Dosen FISIP UIN Walisongo Semarang, Nur Hasyim, M.A., yang juga pemerhati gender menyebutkan bahwa love scam merupakan tindakan kekerasan karena mengandung unsur pemaksaan kehendak, manipulasi, serta eksploitasi.

Korban love scam yang mengalami eksploitasi seksual menunjukkan gejala kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, stres, bahkan depresi.

Nur Hasim mnjelaskan  love scam dapat dialami oleh siapa saja. Namun demikian, perempuan terutama janda maupun wanita yang menjalani hidup sendiri merupakan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban love scam.

“Norma gender tradisional juga menjadikan mereka rentan menjadi korban love scam,” terangnya.

Tips untuk Menghindari Penipuan Romantis:  

- Berhati-hatilah dengan apa yang kamu posting dan publikasikan secara online. Penipu dapat menggunakan detail yang dibagikan di media sosial dan situs kencan untuk lebih memahami dan menargetkan Urbanreaders.

- Teliti foto dan profil orang tersebut menggunakan penelusuran online untuk melihat apakah gambar, nama, atau detailnya telah digunakan di tempat lain.

- Lakukan perlahan dan ajukan banyak pertanyaan.

- Waspadalah jika orang tersebut tampak terlalu sempurna atau dengan cepat meminta kamu meninggalkan layanan kencan atau situs media sosial untuk berkomunikasi secara langsung.

- Berhati-hatilah jika orang tersebut mencoba mengisolasi kamu dari teman dan keluarga atau meminta foto atau informasi keuangan yang tidak pantas yang nantinya dapat digunakan untuk memeras.

- Waspadalah jika individu tersebut berjanji untuk bertemu secara langsung tetapi kemudian selalu memberikan alasan mengapa dia tidak bisa. Jika kamu belum bertemu orang itu setelah beberapa bulan, karena alasan apapun, kamu punya alasan kuat untuk curiga.

- Jangan pernah mengirim uang kepada siapa pun yang hanya berkomunikasi dengan kamu secara online atau melalui telepon.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait