Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Menteri LHK Pastikan FoLU Net Sink Beda dengan Zero Deforestation

Shelly Lisdya,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Menteri LHK Pastikan FoLU Net Sink Beda dengan Zero Deforestation
Image: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. (Dok. Humas Kementerian LHK)

Jakarta - Pemerintah Indonesia sangat berkomitmen dalam penanganan isu perubahan iklim. Keseriusan Indonesia untuk urusan penanganan isu perubahan iklim tergambar pada inisiasi “Indonesia FoLU Net-Sink 2030”.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan, bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan target Indonesia untuk mencapai Net-Zero Emission secepatnya pada 2060.

Komitmen ini merupakan pencanangan pencapaian penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya. Suatu kondisi saat tingkat serapan sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi sektor terkait pada tahun 2030.

Siti Nurbaya pun menjelaskan bahwa zero deforestation tidak sama dengan carbon neutral untuk sektor kehutanan.

''Kita juga menolak penggunaan terminologi deforestasi yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada di Indonesia. Karena di negara Eropa contohnya, sebatang pohon ditebang di belakang rumah, itu mungkin masuk dalam kategori dan dinilai sebagai deforestasi. Ini tentu beda dengan kondisi di Indonesia,'' kata Siti dikutip Urbanasia, Kamis (4/11/2021).

Untuk itu, Siti mengajak semua pihak untuk berhati-hati memahami deforestasi dan tidak membandingkannya dengan terminologi deforestasi negara lain, karena di situ ada persoalan cara hidup, gaya hidup termasuk misalnya tentang definisi rumah huni menurut masyarakat Indonesia dengan halaman rumah dan sebagainya yang berbeda dengan konsep rumah huni menurut kondisi di Eropa, Afrika dan negara lainnya.

"Apakah seperti itu? Tentu saja tidak!" tegasnya di Glasgow pada Selasa, 2 November 2021.

"Kita menganut carbon net sink. Kita mengurangi seminimal mungkin deforestasi dan terus melakukan reforestasi, melakukan perbaikan, pemulihan lingkungan," lanjutnya.

"Jadi harus ada 'compatibility' dalam hal metodologi bila akan dilakukan penilaian. Oleh karenanya pada konteks seperti ini jangan bicara sumir dan harus lebih detil. Bila perlu harus sangat rinci,'' bebernya.

Siti pun memberikan gambaran tentang tingkat kemajuan pembangunan suatu negara. Beberapa negara maju dikatakan sudah selesai membangun sejak tahun 1979-an, selebihnya mereka tinggal menikmati hasil pembangunan.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait