Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Pakar Sosiologi Ungkap Faktor Penyebab Kemiskinan

Shelly Lisdya,
3 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pakar Sosiologi Ungkap Faktor Penyebab Kemiskinan
Image: Ilustrasi kampung kumuh. (ANTARA)

Surabaya - Siapa yang mau hidup miskin? Tentu saja, tidak seorang pun dari kita ingin hidup dalam kemiskinan bukan, Urbanreaders?

Ada pola pikir, jika kita malas bekerja, hidup akan semakin sulit. Jadi, bagaimana kemiskinan dan kemalasan bisa memiliki keterkaitan?

Dari perspektif Sosiologi, ada dua pandangan mengenai penyebab kemiskinan. Pertama, kemiskinan dianggap bersumber dari hal-hal yang berkaitan dengan psikologis, dan karakteristik budaya individu. Misalnya malas atau tidak memiliki etos wirausaha.

Kedua, kemiskinan muncul dari faktor struktural, seperti kurangnya kesempatan, persaingan yang ketat, atau tidak memiliki modal usaha.

Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Bagong Suyanto mengatakan, miskin dan malas tidak ada hubungannya, ini karena kemiskinan terjadi karena faktor struktural ketimbang budaya.

“Kami terbiasa menilai orang miskin sebagai orang yang malas atau tidak mau bekerja keras. Bahkan, kita melihat pengemis di pinggir jalan, kepanasan, dengan kostum badut menari. Ini pekerjaan yang sangat berat,” katanya, Rabu (27/10/2021).

Sebagai perbandingan, kata Bagong, pekerjaan di sektor informal bahkan lebih menuntut daripada kelas menengah. Namun, karena ketidakmampuan pendidikan ditambah minimnya akses jaringan, masyarakat miskin terpaksa bertahan.

Sementara itu, sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2019 mengungkapkan, bahwa anak-anak dari keluarga miskin akan tetap miskin saat dewasa.

Hal tersebut, dikatakan Bagong, menunjukkan bahwa mata rantai kemiskinan akan sulit diputus.

“Karena keluarga miskin tidak memiliki modal ekonomi yang cukup dan tidak bersekolah dengan baik, pada akhirnya mereka miskin lagi. Peluang mereka untuk naik ke kelas yang lebih tinggi kecil karena mereka tidak memiliki modal sosial dan ekonomi yang cukup,” jelasnya.

Dekan FISIP Unair ini juga mengatakan, selain faktor struktural yang tidak bersahabat, kebijakan pemerintah yang meritokrasi, tidak melindungi masyarakat miskin.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait