Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Pasca Erupsi Gunung Api Nusantara Menarik Perhatian Ahli di Eropa

Shelly Lisdya,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pasca Erupsi Gunung Api Nusantara Menarik Perhatian Ahli di Eropa
Image: Ilustrasi - Letusan Gunung Anak Krakatau. (Dok. PVMBG)

Jakarta - Eksotisme gunung api Indonesia telah menarik perhatian para ahli sejak zaman kolonial. Hal ini disebabkan, di balik bencana vulkanik yang menyebabkan kerusakan infrastruktur hingga mampu menelan korban jiwa dan materi, ada proses revegetasi ekosistem pasca erupsi.

Literatur pasca erupsi gunung api di Nusantara ternyata telah banyak dilakukan oleh ahli dari bangsa Eropa. Hal ini mendorong Sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad), Fadly Rahman melakukan pendokumentasian dari jejak penelitian para ahli botani masa kolonial dalam mempelajari kondisi pasca erupsi di Hindia Belanda.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Sejarah, pada Agustus 2019, Fadly memaparkan bahwa geliat para ilmuwan untuk meneliti dampak bencana vulkanik kian mengemuka setelah dua bencana erupsi besar gunung api terjadi pada abad ke-19, yaitu erupsi Gunung Tambora pada 1815 dan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883. Kedua erupsi tersebut sama-sama terjadi di Hindia Belanda.

Kendati terjadi jauh dari Benua Biru, dua bencana erupsi ini telah menyita perhatian dunia. Ini disebabkan, erupsi Tambora dan Krakatau berdampak pada perubahan iklim global. Perubahan ini kemudian berakibat pada kerusakan lahan pangan dan kelaparan di berbagai penjuru dunia.

Dalam jangka panjang, dampak bencana vulkanik Tambora dan Krakatau juga mempengaruhi kondisi vegetasi di wilayah sekitar gunung api. Pengaruh abu vulkanik terhadap kondisi tanah kemudian menyita perhatian para botanis.

Mengutip situs resmi Unpad, Fadly mengungkapkan, ada perbedaan dari perhatian para botanis terhadap kondisi vegetasi pasca erupsi Tambora dan Krakatau. Erupsi Tambora yang terjadi 68 tahun sebelum Krakatau dinilai menjadi erupsi terbesar dalam kurun 500 terakhir saat itu. Namun, peristiwa ini belum banyak mendapat perhatian dari para ilmuwan untuk menelitinya.

Krakatau Lebih Lengkap

Erupsi Krakatau serupa dengan Tambora, yaitu sama-sama memiliki dampak global setelahnya. Namun, Fadly menemukan, yang membedakan adalah letusan Krakatau memiliki pengumpulan informasi lebih lengkap dan tersebar lebih cepat sebelum sebaran debu vulkaniknya.

Penulis buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 Simon Winchester menyebut, sebaran informasi yang cepat disebabkan adanya kemajuan teknologi komunikasi berupa jaringan internasional kabel telegraf dasar laut, sehingga kabar erupsi dapat diwartakan di London 36 jam setelah erupsi berlangsung.

Selain itu, pasca erupsi Krakatau menjadi lahan studi yang unik bagi botanis untuk mengkaji bagaimana restorasi sistem hujan hujan tropis di pulau itu setelah hancur total disapu erupsi.

Beberapa ahli botani, sebut saja Treub (1886), Verbeek (1886); Backer (1888); Valeton (1905), Ernst (1907), Ter Braake (1945), hingga Mohr (1945) tercatat melakukan penelitian vegetasi pasca-erupsi Krakatau.

Catatan penelitian tersebut kemudian didokumentasikan oleh Fadly untuk selanjutnya direkonstruksi bagaimana Krakatau menjadi contoh kasus menarik untuk dikaji mengenai sistem restorasi vegetasi pasca-erupsi, sebagaimana yang dilakukan para ilmuwan kolonial.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait