Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Pengamat: Ji Telah Bertransformasi Jadi Organisasi Kemanusiaan Sejak 2013

Nivita Saldyni,
15 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pengamat: Ji Telah Bertransformasi Jadi Organisasi Kemanusiaan Sejak 2013
Image: Pengamat terorisme Al Chaidar. (Instagram @alchaidar)

Jakarta - Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan bahwa Jamaah Islamiyah (JI) sudah tak lagi berkaitan dengan jaringan terorisme. Organisasi yang telah bertransformasi sebagai organisasi kemanusiaan sejak 2013 itu kini hanya mencari sumber pendanaan di Indonesia.

“Setelah tahun 2007, mereka (JI) memutuskan tidak lagi mau menyerang di Indonesia dan hanya mencari uang saja di Indonesia. Dan kemudian di tahun 2013 mereka berubah dari organisasi dakwah menjadi organisasi kemanusiaan. Maka mereka tidak lagi melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat terorisme itu,” kata Chaidar dalam URtalks ‘Terduga Teroris di Tubuh MUI’ yang disiarkan secara langsung di Instagram Urbanasia pada Kamis (18/11/2021).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa cara yang digunakan JI dalam mencari sumber pendanaan adalah dengan menyebar kotak amal melalui organisasi-organisasi baru yang didirikannya di berbagai daerah. Beberapa organisasi yang menjadi sayap pergerakan baru JI itu, kata Chaidar, di antaranya HASHI, HILAL AHMAR, Syam Organizer, dan juga One Care.

“JI sendiri sejak tahun 2007 sudah boleh dikatakan tidak pernah aktif, gak bisa lagi disebut sebagai kelompok teroris. Mereka sudah mendirikan organisasi-organisasi baru, HASHI, HILAL AHMAR, Syam Organizer, One Care, dan juga ada beberapa organisasi lainnya yang bersifat kemanusiaan dan mereka tidak lagi bergerak di bidang terorisme. Jadi orang-orang baru yang direkrut pun tidak tahu menahu sejarah masa lalu dari organisasi-organisasi ini. Mereka tidak tahu lagi bahwa ada konektivitas dengan Jamaah Islamiyah di masa lalu,” jelasnya panjang lebar.

Hal itu, kata Chaidar, telah dilakukan selama 18 tahun. Menariknya dari upaya tersebut, JI berhasil mengantongi Rp 28 miliar per bulan, guys.

“Setahu saya dengan adanya pembentukan lembaga-lembaga tersebut yang baru dan mereka aktif mencari uang dengan menyebarkan berbagai kotak amal dan juga mencari crowdfunding di berbagai daerah itu, mereka mampu mengumpulkan uang Rp 28 miliar per bulan selama 18 tahun. Itu sebuah jumlah yang sangat besar. Jadi bisa dihitung sendiri, kurang lebih Rp 200 miliar per tahun,” ungkapnya.

Nah dana-dana yang terkumpul itu digunakan untuk bantuan kemanusian ke berbagai lokasi. Namun menurut Chaidar ternyata beberapa otoritas keamanan di Indonesia masih menganggap aksi penggalangan dana itu berkaitan dengan kegiatan terorisme.

“Dana-dana tersebut digunakan untuk bantuan kemanusiaan di Rohingya, Palestina, Suriah, Afghanistan, di mana-mana. Tapi oleh beberapa otoritas keamanan di Indonesia itu masih dianggap sebagai sebuah kegiatan terorisme, padahal bukan. Murni bantuan kemanusiaan,” katanya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait