Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Perenungan Filosofis tentang Kehidupan dan Kematian Lewat Kelas Salihara

Alwin Jalliyani,
2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Perenungan Filosofis tentang Kehidupan dan Kematian Lewat Kelas Salihara
Image: Suasana pembelajaran virtual Kelas Filsafat: Narasi Maut dalam Kosmologi yang dibimbing Karlina Supelli dan dipandu Zen Hae. (Komunitas Salihara)

Jakarta - Selama pandemi COVID-19, kematian merupakan hal yang sering dijumpai. Untuk memperluas perspektif tentang kematian dan kehidupan, Komunitas Salihara Arts Center menggelar Kelas Filsafat berjudul Narasi Maut dalam Kosmologi dengan pembicara Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Karlina Supelli secara virtual setiap Sabtu hingga 28 Agustus 2021.

“Faktanya, hampir setiap tradisi filosofis mengeksplorasi bagaimana manusia harus berhubungan dengan kehidupan dan kematian. Platon bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa tujuan filsafat adalah untuk mempersiapkan kita menghadapi kematian,” ungkap Karlina, dalam siaran pers yang diterima Urbanasia, Jumat (14/8/2021).

Karlina menambahkan bahwa kebanyakan masyarakat modern menaruh kematian pada jarak yang jauh. Kematian sering dinggap sebagai peristiwa yang jarang terjadi dan peristiwa yang insidental.

Namun, pandemi COVID-19 mematahkan kenyataan tersebut, sekaligus menekankan ungkapan para psikolog mengenai 'arti-penting kematian', yaitu kesadaran manusia akan kerentanan diri sendiri terhadap kematian

“Di sinilah filsafat hadir membantu kita memahami dunia secara rasional dan pengalaman kita di dalamnya. Dalam hal ini, telaah kosmologis membantu kita mengklarifikasi apa yang secara etis dipertaruhkan dalam kesedihan dan duka dengan menempatkannya dalam kerangka evaluatif yang lebih besar,” sambung Kordinator Program Gagasan Komunitas Salihara Arts Center, Rebecca Kezia.

Rebecca menyampaikan bahwa kosmologi memungkinkan manusia melihat apa yang baik tentang kesedihan dan duka.

Secara lebih konstruktif, filsafat dapat membantu mengembangkan praktik untuk memahami kesedihan, memaknai arti kehilangan, dan memastikan bagaimana masyarakat harus memperingati pandemi serta mengenang para korbannya.
 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait