beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Produk Tembakau Alternatif Dinilai Minim Risiko, Ini Penjelasan Pengguna

Shelly Lisdya,
3 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Produk Tembakau Alternatif Dinilai Minim Risiko, Ini Penjelasan Pengguna
Image: Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dinilai minim risiko dibanding rokok konvensional (ilustrasi: Shutterstock)

Jakarta - Produk tembakau alternatif kian populer di kalangan pengguna di Indonesia. Selain karena praktis dan memiliki banyak pilihan, produk tembakau alternatif juga dinilai memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok.

Karena tidak melalui proses pembakaran tembakau, paparan bahan kimia pada produk tembakau alternatif itu lebih rendah dibandingkan dengan rokok konvensional. Sehingga produk tersebut memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok konvensional.

Bahkan tim PUI IPK Unpad juga telah melakukan studi dan menyimpulkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok konvensional

Namun bagaimana menurut para pengguna produk tembakau alternatif?

Salah satu pengguna aktif produk tembakau alternatif, Al Ahtur Bima Lazuardy mengatakan, bahwa ada perbedaan antara rokok konvensional dan rokok alternatif.

Salah satunya, ia menyebut bahwa rokok konvensional menghasilkan asap hasil pembakaran yang mengandung ribuan bahan kimia berbahaya.

"Saya menggunakan produk tembakau alternatif cukup lama ya, karena kurang nyaman pakai rokok biasa. Setelah beralih saya merasa jauh lebih baik," kata Bima dalam sesi URLife bersama Urbanasia, Jumat (24/6/2022).

"Karena menurut saya ada perbedaan yang signifikan, makin khawatir jika terus-menerus mengonsumsi rokok dan itu yang bikin saya beralih ke produk tembakau alternatif yang minim risiko," lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO), Dimas Syailendra yang juga pengguna tembakau alternatif mengatakan, pemerintah di beberapa negara maju sudah menekankan ke masyarakatnya untuk beralih dari rokok konvensional ke produk tembakau alternatif. Hal ini dikarenakan tembakau alternatif lebih rendah risiko.

"Seharusnya ini yang dicontoh oleh Indonesia untuk tidak lagi mengonsumsi rokok konvensional karena risikonya (kesehatan) yang tinggi. Pemerintah seharusnya bersikap terbuka dulu," bebernya.

"Pemerintah kemudian turun tangan untuk membuktikan apakah benar produk tembakau alternatif ini lebih minim risiko. Setelah itu, bisa mengeluarkan regulasinya, ini untuk lebih memudahkan perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti dari kebiasaannya agar dapat beralih ke produk tembakau alternatif," lanjut Dimas.

Meski dikenal lebih rendah risiko, rokok dan produk tembakau alternatif sebenarnya sama-sama masih ada risikonya. Namun, bila dibandingkan, sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih rendah terhadap kesehatan daripada rokok.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait