beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Seorang Siswa Trauma Usai Dipaksa Guru Nonton Kartun Singgung Nabi Muhammad

Nivita Saldyni,
11 November 2022 09.08.15 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Seorang Siswa Trauma Usai Dipaksa Guru Nonton Kartun Singgung Nabi Muhammad
Image: Ilustrasi siswa muslim. (PIXABAY/felixioncool)

Jakarta - Seorang ayah dari pelajar muslim di salah satu sekolah di Kota Melbourne, Australia mengungkap anaknya mengalami trauma usai dipaksa salah satu guru menonton kartun yang singgung Nabi Muhammad. Kejadian yang menimpa siswa kelas 11 SMA itu dibagikan ke media sosial.

Dilansir dari news.com.au, Jumat (11/11/2022), peristiwa itu terjadi pada 14 Oktober 2022 saat sang anak mengikuti kelas studi media di Mount Ridley College, Craigieburn. Saat itu sang guru memutar materi kartun yang secara eksplisit menghujat Nabi Muhammad. Diduga kartun yang dimaksud adalah halaman depan majalah 'Charlie Hebdo' asal Prancis di tahun 2015 yang memicu protes besar-besaran umat Islam di seluruh dunia.

Siswa itu telah mengajukan keberatan atas konten yang ditampilkan sang guru, namun tak meninggalkan ruang kelas. Seakan acuh dengan pendapat muridnya, sang guru melanjutkan video tersebut.

“Putri saya juga mencoba mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap video tetapi sayangnya sang guru tidak peduli dan terus memutar video itu, memaksa anak saya untuk melihat kontennya,” ujar ayah siswa tersebut di Facebook.

Sang ayah mengatakan bahwa anaknya mengalami trauma psikologis karena melihat konten tersebut.

"Memaksa anak untuk melihat konten adalah ilegal dan melanggar hukum. Ini telah memperburuk perasaan anak saya dan keluarga saya dengan cara yang menyakitkan dan telah menempatkan kami dalam trauma psikologis dan mental,” tuturnya.

Tuntut Permintaan Maaf

Kini ayah siswa itu menuntut permintaan maaf dan penjelasan resmi dari pihak sekolah. Ia pun meminta agar sekolah melakukan penyelidikan dan memberikan jaminan agar kejadian serupa tak terulang di masa depan.

“Kami juga menuntut agar guru tersebut diskors dari sekolah dan penyelidikan harus dilakukan terhadapnya," tegas ayah siswa itu.

Sementara itu, dilansir dari TWTWorld, Dewan Islam Victoria (ICV) dari Departemen Pendidikan (DET) tengah meninjau insiden tersebut. Mereka menegaskan materi ofensif yang diajarkan itu bukan bagian dari kurikulum standar.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait