menu
user
URnews

SETARA Institute Rilis 10 Kota Paling Toleran di Indonesia 2020

Shelly Lisdya,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
SETARA Institute Rilis 10 Kota Paling Toleran di Indonesia 2020
Image: Dari kiri ke kanan Bonar Tigor Naiposos (Wakil Ketua SETARA Institute), Sayyidatul Insiyah (Peneliti SETARA Institute), Kidung Asmara (Peneliti SETARA Institute), Ikhsan Yosarie (Peneliti SETARA Institute). (SETARA Institute)

Jakarta - SETARA Institute pada 25 Februari 2021 lalu telah mengeluarkan Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2020.

Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos menjelaskan, pihaknya telah mengeluarkan sedikitnya empat kali laporan IKT sejak 2015.

"Pertama 2015, 2017, 2018 dan sekarang 2020," katanya.

Dalam laporan IKT 2020 tersebut, Salatiga menempati posisi pertama dengan perolehan skor 6,717. Kemudian, pada posisi kedua, diperoleh Kota Singkawang dengan skor toleransi sebesar 6,450.

Peringkat tiga diperoleh kota Manado dengan skor toleransi sebesar 6,200, sementara di peringkat empat kota Tomohon dengan pencapaian skor toleransi sebesar 6,183. Selanjutnya peringkat lima diperoleh Kota Kupang dengan skor toleransi sebesar 6,037.

Kota Surabaya menempati peringkat keenam dengan skor toleransi sebesar 6,033. Peringkat tujuh diperoleh Kota Ambon dengan perolehan skor 5,733. Di peringkat delapan ditempati Kediri dengan perolehan skor 5,583.

Kemudian di peringkat sembilan diperoleh Sukabumi dengan mendapatkan skor 5,546 dan posisi terakhir adalah Bekasi dengan skor sebesar 5,530.

Skor tersebut menggunakan skala satu hingga tujuh yang menggambarkan kualitas buruk ke baik. Dengan demikian, skor satu memiliki arti skor situasi paling buruk, sedangkan tujuh yang paling baik.

Survei IKT 2020 melibatkan 94 kota dari total 98 kota di Indonesia. 

Dilansir dari laman resmi SETARA Institute, yang dimaksud dengan kota toleran dalam studi indexing ini didefinisikan sebagai kota yang memiliki beberapa atribut sebagai berikut:

1. Pemerintah kota tersebut memiliki regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, baik dalam bentuk perencanaan maupun pelaksanaan.
2. Pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut kondusif bagi praktik dan promosi toleransi.
3. Di kota tersebut, tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan rendah atau tidak ada sama sekali.
4. Kota tersebut menunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait