menu
user
URstyle

Studi Oxford Ungkap Penyintas COVID-19 Parah Bisa Alami Masalah Mental

Kintan Lestari,
11 hari yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Studi Oxford Ungkap Penyintas COVID-19 Parah Bisa Alami Masalah Mental
Image: Ilustrasi orang-orang mengenakan masker. (Pixabay/icsilviu)

Jakarta - Pasien COVID-19 yang selamat dari gejala berat yang dialaminya nyatanya masih butuh berjuang. 

Pasalnya setelah gejala COVID-19, mereka juga didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental.

Hal itu dibuktikan dari studi yang dilakukan peneliti Oxford pada 236.379 pasien di Amerika Serikat. 

Dilansir The Guardian, studi tersebut menemukan satu dari tiga orang pasien yang kondisinya parah karena COVID-19, enam bulan setelahnya didiagnosis dengan kondisi neurologis atau kejiwaan.

Sebanyak 17 persen pasien mengalami gangguan kecemasan, 14% pasien mengalami gangguan mood, sebanyak 7% mengalami gangguan penyalahgunaan zat, dan 5% pasien mengalami insomnia. 

Sementara hasil untuk kondisi neurologis lebih rendah dengan 0,6% perdarahan otak dan 0,7% untuk demensia.

Penulis utama studi tersebut, Prof Paul Harrison, menyatakan kalau banyak pasien COVID-19 yang didiagnosis mengalami gangguan serius yang mempengaruhi saraf mereka.

“Ini adalah data nyata dari sejumlah besar pasien. Mereka mengkonfirmasi tingginya tingkat diagnosis kejiwaan setelah COVID-19 dan menunjukkan bahwa gangguan serius yang mempengaruhi sistem saraf (seperti stroke dan demensia) juga terjadi. Sementara yang terakhir jauh lebih jarang, mereka signifikan, terutama pada mereka yang menderita COVID-19 parah," ujarnya seperti dikutip The Guardian, Rabu (7/4/2021). 

Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa orang yang selamat dari virus corona mungkin berisiko lebih tinggi mengalami gangguan neurologis. 

Sebuah studi observasi sebelumnya oleh kelompok penelitian yang sama melaporkan bahwa orang-orang berisiko lebih tinggi mengalami gangguan mood dan kecemasan dalam tiga bulan pertama setelah terinfeksi.

Meski demikian, hingga saat ini, belum ada data berskala besar yang meneliti risiko diagnosis neurologis maupun kejiwaan dalam enam bulan setelah terinfeksi.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait