Wah, FDGBI Ajukan Bahasa Indonesia-Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional

Siapa yang tak bangga kalau bahasa Indonesia dan bahasa Melayu digunakan warga dunia?

Nivita Saldyni
6 November 2019
Wah, FDGBI Ajukan Bahasa Indonesia-Melayu Jadi Bahasa Ilmiah Internasional

Image: Humas Universitas Negeri Surabaya

Surabaya - Siapa yang tak bangga kalau bahasa Indonesia dan bahasa Melayu digunakan warga dunia? Yup, hal ini lah yang sedang diupayakan oleh Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI).

Musyawarah Internasional ini dihadiri oleh 31 perguruan tinggi dari beberapa negara dan 154 guru besar.

Acara yang dilaksanakan di Hotel Golden Tulip Surabaya itu menghadirkan guru besar, baik dari luar dan dalam negeri, diantaranya Prof Drs. Koentjoro, MBSc, Ph.D., Prof. Dr. Koh Young Hun, Prof. Dr. Setya Yuwana, M.A., Prof. Dr. Haris Supratno, Prof. Kamaruddin Said, Asst. Professor Siripu Maneechukate, serta Endina Asri Widratama.

Dalam Musyawarah Internasional dan Seminar FDGBI IV yang digelar oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Surabaya pada 4-7 November 2019 ini, FDGBI mengusulkan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu menjadi Bahasa Ilmiah Internasional.

Baca Juga: Dosen Politeknik Negeri Bandung Ini Bikin Soal UTS yang Kreatif Banget

Hal ini berangkat dari rekomendasi munas antar profesor yang ingin menyatukan bahasa melayu dengan berbagai aspek.

Oleh karenanya kegiatan ini dilaksanakan untuk membahas bahasa indonesia melayu sebagai bahasa ilmiah internasional.

Prof. Setya Yuwana selaku Ketua Panitia Musyawarah mengaku, hasil dari forum musyawarah ini akan secepatnya dibawah ke Kemendikbud agar bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmiah internasional bisa segera dicapai.

Selain karena banyak pembelajar bahasa Indonesia di luar negeri, hal ini dianggap penting untuk memudahkan seorang doktor di Indonesia menjadi profesor.

"Banyak doktor yang sekarang ini harusnya jadi guru besar tapi terhambat oleh Scopus. Hanya karena harus terindeks scopus. Mungkin (penelitian) yang di otaknya bagus, tapi karena penyampaian di Bahasa Inggris kurang bagus," imbuhnya.

Baca Juga: Viral Disertasi Seks Pra Nikah Dosen IAIN Surakarta, Ini Lho Isinya

Langkah berikutnya, hasil musyawarah ini akan segera dibawa ke Mendikbud. Ia berharap pada Februari atau Maret 2020 akan terlaksana raker di Uniersitas Islam Riau untuk memantau perkembangan klusterisasi ini.

Prof. Nurhasan, Rektor Unesa selaku tuan rumah penyelenggaraan musyawarah menyambut usulan ini sebagai momentum bersejarah.

Hal ini karena pelaksanaan musyawarah berdekatan dengan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan. Ia berharap, Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu bisa segera menjadi bahasa Internasional yang diakui.

"Diharapkan momentum ini bisa memberikan masukan pada kabinet baru agar bahasa kita, Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu, apapun nanti terminologinya, diganti apapun, tapi menjadikan ilmiah internasional yang bisa memberi percepatan jadi guru besar," ungkap Prof. Nurhasan.

Baca Juga: Daftar CPNS Guru dan Tenaga Kesehatan Butuh STR dan Serdik, Gimana Ketentuannya?

Sebelumnya juga diketahui bahwa Bahasa Indonesia sudah banyak dipelajari di kampus-kampus luar negeri.

Beberapa di antaranya seperti Austria, Ceko, Turki, Australia, Timor Leste, dan Thailand.

Hal ini membuat Prof. Koentjoro, Ketua Dewan Guru Besar UGM optimis ke depannya para pembelajar ini akan membantu percepatan penyebaran virus-virus bahasa Indonesia di negaranya.(*)

author

Loading ...