menu
user
URguide

6 Mitos Tentang Perempuan yang Bisa Dipatahkan

Afid Ahman,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
6 Mitos Tentang Perempuan yang Bisa Dipatahkan
Image: Ilustrasi perempuan saat bekerja. (Freepik/rawpixel.com)

Jakarta - Perempuan sering kali dianggap sebelah mata. Alhasil, banyak perempuan yang membatasi dirinya untuk menorehkan prestasi karena terhalang oleh stigma yang ada di masyarakat.

Padahal, baik laki-laki dan perempuan punya hak yang sama loh. Apalagi banyak hal yang seharusnya bisa dilakukan perempuan tanpa harus meninggalkan kodratnya sebagai istri, bahkan ibu. Untuk itu gak ada salahnya kalau perempuan punya cita-cita dan mimpi setinggi langit untuk diperjuangkan.

Kira-kira apa saja ya stigma negatif tentang perempuan yang seringkali jadi penghalang perempuan untuk berkarya? Berikut enam mitos tentang perempuan yang bisa dipatahkan:

1. Perempuan tak bisa ilmu sains

1615875603-ilmuwan-perempuan.jpgIlustrasi ilmuan perempuan. (Pixabay/Knowledgetrain)

Banyak yang meragukan kemampuan perempuan di bidang ilmu sains. Padahal faktanya, tak sedikit penemuan-penemuan di dunia yang berhasil dengan campur tangan perempuan.

Di Indonesia misalnya, ada dua orang ilmuwan perempuan bernama Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD dan Tri Mumpuni yang berhasil mendapatkan pengakuan dunia.

Adi Utarini masuk dalam daftar Nature’s 10: Ten People Who Helped Shape Science in 2020 dari jurnal ilmu pengetahuan Nature. Sementara Tri Mumpuni, Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) keluar sebagai 22 Most Influential Muslim Scientists dalam daftar The 500 Most Influential Muslims yang diterbitkan Royal Islamic Strategic Studies Centre.

Selain keduanya, tentu masih banyak lagi nama-nama ilmuwan perempuan hebat lainnya yang sukses di berbagai bidang. Kalau seperti ini, tentu mitos yang mengatakan perempuan tak bisa menguasai ilmu sains jelas terpatahkan.

2. Perempuan lemah terhadap tekanan

Salah satu mitos tentang perempuan yang masih tumbuh subur hingga saat ini adalah perempuan lemah terhadap tekanan. Namun hal ini terbantah oleh suatu studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas Ben Gurion di Negev, Universitas St. Gallen, dan NYU shanghai.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisa berdasarkan 8.280 pertandingan tenis laki-laki dan perempuan. Hasilnya, perempuan lebih bisa menjaga ketenangan daripada pria saat berada di bawah tekanan pertandingan.

Meski penelitain itu berbasis pada bidang olahraga, namun Dr. Alex Krumer, peneliti dari University of St. Gallen lewat wawancara bersama Harvard Business Review menilai hal ini bisa diterapkan dalam berbagai hal. Sehingga menurutnya, secara fisik mungkin rata-rata laki-laki masih lebih kuat. Tapi soal ketangguhan mental, dalam keadaan tertentu wanitalah yang memiliki keunggulan.

Contoh sederhananya adalah para ibu-ibu rumah tangga yang juga bekerja nembantu sang suami. Mereka membuktikan bahwa perempuan bisa mengerjakan berbagai hal dengan baik. Memulai dari masalah pekerjaan di kantor, nengurus rumah, mendampingi anak belajar, dan masih banyak lagi.

3. Perempuan tak bisa atur keuangan

1615876123-perempuan-atur-keuangan.pngIlustrasi perempuan atur keuangan. (Pixabay/Knowledgetrain)

Tidak semua perempuan boros dalam menggunakan uang. Sehingga tampaknya mitos bahwa perempuan tak bisa mengatur keuangan tampaknya tak tepat.

Dalam rumah tangga contohnya, tak sedikit suami menyerahkan urusan keuangan untuk rumah tangga mereka pada istrinya. Istrilah yang akan bertanggung jawab mengatur kebutuhan sehari-hari dan mengatur keuangan agar berjalan lancar. Jadi apakah kamu percaya kalau perempuan tak bisa mengatur keuangan dengan baik?

4. Perempuan tak bisa memimpin

1615876420-perempuan-bekerja.pngIlustrasi perempuan saat bekerja. (Freepik/rawpixel.com)

Siapa bilang perempuan tak bisa menjadi pemimpin? Buktinya, banyak tokoh-tokoh penting di dunia yang berada di bawah kepemimpinan seorang perempuan.

Beberapa nama yang cukup terkenal di antaranya adalah Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dan banyak lagi lainnya. Mereka adalah contoh perempuan-perempuan tangguh yang kompeten dengan kemampuan kepemimpinan.yang perlu diragukan lagi. 

Kamu pun bisa belajar dan mengikuti jejak mereka dari langkah kecil dan sederhana, yaitu mulai dengan memimpin diri sendiri. Tak ada yang tak mungkin selama kamu mau terus belajar dan berusaha, guys. 

5. Perempuan tak perlu berpendidikan tinggi

1615875882-graduation.jpgIlustrasi graduation. (Pixabay/Standsome)

Penampilan bukanlah satu-satunya hal yang harus dimiliki seorang wanita. Dengan perkembangan zaman yang sangat pesat, pendidikan jadi salah satu bekal penting untuk kita bertahan dan terus maju. Apalagi untuk para perempuan yang sering dipandang sebelah mata.

Pendidikan juga penting bagi para perempuan. Selain untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri, pendidikan juga bisa membawa perempuan menjadi guru yang sukses bagi anak-anak mereka kelak.

Yap, mungkin kamu sudah sering dengar kalau ibu adalah 'sekolah' pertama bagi anak-anak mereka. Hal ini menuntut kita, para perempuan punya bekal yang cukup untuk mengajarkan berbagai hal-hal baik untuk anak kita. Sehingga harapannya, mereka akan tumbuh jadi anak yang cerdas pula. Kalau seperti ini, masihkah pendidikan bukan hal penting untuk seorang perempuan?

6. Perempuan tempatnya di rumah

1615876501-perempuan-bekerja-sambil-urus-anak---Standsome.jpgIlustrasi bekerja sambil mengurus anak di rumah. (Pixabay/JESHOOTS-com)

Sebagai seorang perempuan, apalagi kamu yang telah berumah tangga, maka menjaga dan mengatur rumah tangga adalah tugas utama. Namun hal ini bukan berarti kamu hanya bisa 'bergerak' di rumah aja loh.

Bagi kamu yang ingin memperluas wawasan dan keterampilan, tempat kursus jadi pilihan tepat. Untuk kamu yang ingin membantu suami mungkin membuka usaha atau bekerja di kantor adalah solusi untuk kamu. Dengan kata lain, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki sehingga membuatnya punya kesempatan untuk berkembang.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait