menu
user

Malang - Masih ingat dengan teknologi bernama ‘smart tongkang’ yang dibuat oleh sekelompok mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)?

Setelah mesin temuan mereka ini meraih juara di kompetisi Asosiasi Program Studi Teknik Mesin-Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia, inovasi ini bakal unjuk gigi di ajang inovasi tingkat dunia yakni Advance Innovation Jam (AI-JAM) di Tokyo, Jepang pada 8 Desember mendatang.

Peserta yang ikut dalam kompetisi ini pun beragam. Mulai dari siswa setingkat SMA hingga perusahaan yang merupakan penemu teknologi, termasuk artificial intellegent, big data, robotika dan lainnya.

Melalui INNOPA (Assosiasi Promosi Penemuan dan Inovasi Indonesia), UMM maju dengan 17 tim dari Indonesia lainnya setelah membuat deskripsi dan abstrak terkait karya tersebut.

Baca juga: Mengenal Foculance, Aplikasi Penyeimbang Waktu Belajar Karya Mahasiswa ITS

Sebagai penyesuaian, ‘Smart Tongkang’ ini akan berganti nama menjadi ‘Smart Barge’. Diharapkan karya ini dapat mendulang kesuksesan seperti halnya karya lainnya di Korea Selatan dan Jerman baru-baru ini.

Perlu diketahui, smart tongkang ini merupakan alat yang diciptakan untuk membantu para petani garam dalam menambah produksi garam yang selama ini masih menggunakan sistem eksploitasi tradisional.

Selain kurang maksimal dan punya beberapa kekurangan seperti kepemilikan lahan terbatas, sistem tradisional juga sangat tergantung pada cuaca dan efisiensi produksi yang rendah. Sehingga tak heran jika kualitas garam lokal kurang diminati industri.

Menurut salah satu anggota tim innovator, Zehandana Khatami, smart tongkang ini mampu menjadi solusi berupa penambahan lahan terapung karena bisa dipindah-pindah atau didekatkan menuju pabrik.

Baca juga: Uniknya 'Hope', Game Casual Arcade Karya Mahasiswa ITS

“Serta disematkan teknologi tambahan berupa control device android untuk mengetahui posisi, kadar air, temperatur, dan pengaktifan fitur mekatronika otomatisnya,” ujar Zehandana.

Karena dilengkapi atap, cermin, generator kincir, sekop yang bisa dikendalikan otomatis, tongkang anti karat, tow hook, dan anchor membuatnya mudah dipindahkan.

Dengan begitu, pembuatan tambak garam hybrid ini diharapkan jadi solusi untuk membantu petani mempercepat pembuatan garam yang sesuai standar keperluan industri.

Selain itu, inovasi ini diharapkan dapat menjawab masalah seperti keterbatasan lahan karena proses kristalisasi dilakukan di atas laut, kualitas garam yang bisa ditingkatkan seperti kebersihan, warna, penurunan kadar air, dan percepatan produksi yang semula 15 hari menjadi 8-10 hari karena rekayasa mekatronika.

Baca juga: Nutriva, Aplikasi Pesan Antar Makanan Sehat Karya Mahasiswa ITS

Yang artinya produksi panen akan lebih cepat dengan kualitas yang lebih baik dan akan meningkatkan harga jual panen yang lebih tinggi.

“Kami sedang menyusun dokumen paten untuk produk ini,” pungkas Zehandana.

Komentar
paper plane