Surabaya - Sepanjang hampir 10 tahun Tri Rismaharini memimpin Kota Surabaya, banyak suka dan duka yang telah dilewati bersama warga. Namun ternyata, peristiwa bom Surabaya 2018 lalu menjadi masa terberat bagi Risma.

"Saat peristiwa bom dua tahun lalu, itu adalah hal yang sangat menyedihkan dan berat untuk kami," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dikutip dari rilis resmi Humas Pemkot Surabaya, Minggu (25/10/2020)

Mungkin Urbanreaders ada yang lupa? Dua tahun lalu, tepatnya pada 13 Mei 2018 pagi telah terjadi pengeboman pada tiga gereja di Kota Surabaya. Pengeboman ini melibatkan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan empat orang anak.

Mereka adalah Dita Oepriarto (ayah), Puji Kuswati (ibu), dua putra mereka YF dan FH beserta dua putrinya FS dan FR. Mereka berpencar dan melakukan bom bunuh diri di tiga lokasi, yaitu Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. 

Tak berhenti sampai di situ. Keesokan harinya, tepat pada 14 Mei 2018 percobaan bom bunuh diri kembali terjadi. Kali ini sasarannya Mapolrestabes Surabaya. Mirisnya, lagi-lagi aksi ini melibatkan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan tiga orang anak.

Mereka datang dengan mengendarai dua sepeda motor dan berusaha menerobos masuk. Namun tak berselang lam, tiba-tiba bom meledak. Sayangnya hanya satu anak berinisial AIS yang berhasil selamat. 

Pelibatan perempuan dan anak-anak, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku dalam aksi pengeboman ini menjadi perhatian Risma. Berbagai langkah pun dilakukan untuk memulihkan kondisi Kota Pahlawan yang aman dan nyaman bagi setiap warga.

"Saya bersyukur bisa melewati semua itu," imbuhnya.

Selain momen terberat, menjelang akhir masa jabatannya, Risma juga berbagi tentang pengalaman paling berkesan selama dua kali menjabat sebagai walikota Surabaya. 

Momen berkesan itu adalah saat penutupan lokalisasi Dolly. Selain itu Risma juga mengaku selalu bahagia setiap melihat data angka kemiskinan Kota Surabaya yang turun secara signifikan. Apalagi ditambah dengan rentetan apresiasi dan prestasi yang berhasil diraih Kota Surabaya dari dalam dan luar negeri.

"Lalu suhu udara turun, warga lebih ramah. Itu yang membuat orang asing atau wisatawan berkunjung ke kota ini. Dan masih banyak lagi tentunya. Kami sangat bersyukur Surabaya sudah semakin baik dari hari ke hari," terangnya.

Namun terlepas dari itu semua, Risma mengaku masih ingat betul di tahun-tahun pertamanya memimpin. Sebab saat itu, ia berjanji akan membuat Surabaya dikenal di dunia dengan berbagai perubahan kemajuan.

"Saya harus bisa membawa kota ini ada di peta dunia. Artinya warga dunia bisa mengerti dan tahu bahwa ada kota yang namanya Surabaya. Alhamdhulillah terwujud," pungkasnya.

Nah, suka duka itu terakhir kali diungkapkan Risma kepada warga saat bincang-bincang santai dengan paguyuban warga perumahan Sambikerep secara virtual, Sabtu (24/10/2020) lalu.

 

 

Komentar
paper plane