Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URnews

Disebut Kebal Vaksin, COVID-19 Varian Botswana Terdeteksi di 3 Negara

Shelly Lisdya,
2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Disebut Kebal Vaksin, COVID-19 Varian Botswana Terdeteksi di 3 Negara
Image: Ilustrasi virus. (Pixabay/TheDigitalArtist)

Jakarta - Dunia kembali digemparkan dengan varian virus corona, Botswana yang dinilai kebal vaksin COVID-19. Varian Botswana pertama kali diidentifikasi pada awal pekan ini.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengatakan varian ini juga disebut B.1.1.529, yang memiliki lonjakan sangat berbeda dengan yang ada pada virus corona asli. 

Varian virus corona ini baru diidentifikasi menyebar di Afrika Selatan yang mungkin membuat vaksin kurang efektif dan membahayakan upaya untuk memerangi pandemi. 

"Ini adalah varian paling signifikan yang kami temui hingga saat ini dan penelitian mendesak sedang dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang penularan, tingkat keparahan, dan kerentanannya terhadap vaksin," kata Kepala Eksekutif UKHSA Jenny Harries, dikutip Reuters, Jumat (26/11/2021).

Seorang profesor mikrobiologi klinis di Universitas Cambridge, Ravi Gupta mengatakan, penelitian di labnya menemukan bahwa dua mutasi pada B.1.1.529 kurang dikenali oleh antibodi. Artinya, antibodi yang selama ini dibangun oleh vaksin COVID-19 yang sudah ada tidak dapat melawan virus corona varian Botswana ini.

Sementara itu, Boyers Javid mengatakan, diperlukan lebih banyak data tentang varian tersebut. Para ilmuwan mengatakan studi laboratorium diperlukan untuk menilai kemungkinan mutasi yang mengakibatkan vaksin tidak dapat mencegah varian ini.

Sebelumnya pada hari Kamis (25/11/2021), para ilmuwan Afrika Selatan mengatakan mereka telah mendeteksi varian COVID-19 baru dalam jumlah kecil dan sedang bekerja untuk memahami implikasi potensialnya. Varian ini juga telah ditemukan di Botswana, Afrika Selatan dan Hong Kong.

Ahli epidemiologi Imperial College London, Neil Ferguson mengatakan, bahwa B.1.1.529 memiliki jumlah mutasi yang "belum pernah terjadi sebelumnya" pada lonjakan dan mendorong peningkatan pesat baru-baru ini dalam jumlah kasus di Afrika Selatan.

"Namun, kami belum memiliki perkiraan yang dapat diandalkan tentang sejauh mana B.1.1.529 mungkin lebih menular atau lebih resisten terhadap vaksin, jadi terlalu dini untuk dapat memberikan penilaian berbasis bukti tentang risiko yang ditimbulkannya," pungkas Neil.

Sementara itu, ada tujuh negara yang sementara waktu melarang penerbangan dari dan ke Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Lesotho dan Eswatini. Mereka adalah Inggris, Singapura, Israel, Jepang, Jerman, Italia, dan Uni Eropa.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait