Jakarta - Aplikasi penunjuk waktu sholat populer, Muslim Pro, diduga menjual data penggunanya ke militer Amerika Serikat (AS). 

Hal tersebut terungkap saat laman berita Motherboard melakukan investigasi mengenai bagaimana cara militer AS mendapatkan data mengenai lokasi pengguna. 

Rupanya militer AS mendapatkanya lewat dua metode. Pertama melalui Locate X yang dibuat perusahaan bernama Babel Street.

Locate X digunakan divisi militer dalam bertugas di luar negeri untuk melawan terorisme, pemberontakan dan pengintaian khusus yang bernama US Special Operations Command (USSOCOM). Cara Kedua melalui melalui X-Mode. Perusahaan ini memdapatkan data lokasi dari aplikasi yang memiliki banyak pengguna. Sebagau balasannya sejumlah uang kepada aplikasi berdasarkan jumlah pengguna.

Misalnya aplikasi yang memiliki 50 ribu pengguna aktif harian di Amerika Serikat akan mendapatkan US$ 1.500 atau kisaran Rp 21 juta per bulan. 

Nah salah satu aplikasi yang memberikan data pengguna kepada X-Mode adalah Muslim Pro. Kabar ini langsung menggemparkan sebab memiliki banyak pengguna. Hingga saat ini aplikasi tersebut memiliki pengguna 100 juta di 216 negara.

Seruan untuk menguninstal aplikasi ini pun menggema salah satunya datang dari tokoh muslim AS, yakni Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Nihad Awad. 

Dia mengajak boikot aplikasi tersebut dan mendesak agar dilakukan penyelidikan terkait dugaan jual-beli data pengguna aplikasi Muslim Pro ke Militer AS.

"Kami mendesak agar kongres menyelidiki lebih lanjut dan guna memastikan bahwa lembaga pemerintah atau pemain lain tidak menyalahgunakan data atau memiliki akses ilegal yang melanggar kepercayaan dan privasi pengguna," tegas Awad.

Komentar
paper plane