URedu

‘English 1 Unite for Sumatra’ Bantu Ribuan Anak Terdampak Banjir

Urbanasia, Kamis, 2 April 2026 10.37 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
‘English 1 Unite for Sumatra’ Bantu Ribuan Anak Terdampak Banjir
Image: English 1 Unite for Sumatra galang dana dan bantuan untuk anak terdampak banjir di Sumatera Utara dan Aceh. (Ist)

Jakarta - Di tengah rutinitas belajar dan aktivitas sehari-hari, ada momen ketika ruang kelas berubah menjadi ruang empati. Bukan soal nilai atau pelajaran, tapi tentang bagaimana anak-anak dan orang tua diajak memahami arti berbagi lewat aksi nyata.

Hal itulah yang terasa dalam gerakan English 1 Unite for Sumatra yang diinisiasi English 1. Lewat penggalangan dana yang digelar sejak awal tahun, mereka berhasil menghimpun dana hingga Rp100 Juta untuk membantu anak-anak dan keluarga terdampak banjir di Sumatra.

Di malam puncak yang digelar di kawasan Menteng, suasana terasa hangat dan penuh kebersamaan. Orang tua murid, mitra, hingga perwakilan lembaga kemanusiaan berkumpul, bukan sekadar hadir, tapi ikut terlibat dalam sesi live fundraising yang jadi penutup rangkaian kampanye.

Operation Director English 1, Christopher Lloyd, menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar soal donasi. “Kami ingin melibatkan siswa dan orang tua dalam aksi nyata yang menumbuhkan empati dan kepedulian,” katanya, Rabu (1/4/2026). 

Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, hingga layanan kesehatan. 

Bersama Save the Children Indonesia, bantuan ini ditargetkan menjangkau sekitar 250 ribu penerima manfaat, termasuk 170 ribu anak-anak di berbagai wilayah seperti Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.

Di balik angka-angka tersebut, ada cerita tentang kolaborasi yang dibangun sejak awal. Kampanye ini sudah dimulai secara online melalui KitaBisa, lalu berlanjut dengan berbagai aktivitas offline yang melibatkan komunitas secara langsung.

Menariknya, gerakan ini bukan berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari kampanye yang lebih besar bertajuk Super Parents: Kindness in Action, yang mendorong budaya berbagi tumbuh dari lingkungan belajar.

Selama Ramadan, misalnya, murid dan orang tua ikut terlibat dalam kegiatan berbagi melalui program Sharing as One, mengumpulkan donasi dalam berbagai bentuk. Ada juga Evening Together, momen buka puasa bersama yang mempererat hubungan antar komunitas.

Namun, salah satu yang paling berkesan datang dari program Junior Learning Buddies. Di sini, murid tidak hanya belajar, tapi juga berperan sebagai pengajar bagi anak-anak di komunitas sekitar.

Prosesnya pun tidak instan. Mereka harus melewati seleksi, mulai dari menulis surat motivasi, wawancara, hingga pelatihan sebelum akhirnya terjun mengajar. Pengalaman ini menjadi cara sederhana tapi bermakna untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial sejak dini.

Marketing Director English 1, Rhea Danaparamita, menyebut bahwa seluruh rangkaian ini memang dirancang sebagai proses berkelanjutan. 

“Kami ingin budaya berbagi tumbuh secara konsisten di lingkungan belajar,” katanya.

Dari ruang kelas hingga aksi di lapangan, gerakan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu soal teori. Kadang, pelajaran paling penting justru datang dari hal sederhana, seperti berbagi dan peduli pada sesama.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait