URedu

Festival Komunikasi UI 2023: Peran Etika Komunikasi dalam Pragmatisme Teknologi dan Artificial Intelligence

Ken Yunita, Kamis, 30 November 2023 13.27 | Waktu baca 4 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Festival Komunikasi UI 2023: Peran Etika Komunikasi dalam Pragmatisme Teknologi dan Artificial Intelligence
Image: Festival Komunikasi UI 2023

Depok – Bicara mengenai Artificial Intelligence (AI) dengan segala kemampuannya, masyarakat cenderung terpolarisasi menjadi dua kelompok yakni kelompok yang antusias dengan perkembangan AI dan kelompok yang khawatir dengan jangkauan kemampuan AI. Tidak bisa dipungkiri, AI telah banyak membantu mempermudah, mempercepat, dan melengkapi pekerjaan manusia. Namun pada saat bersamaan, kemampuannya untuk mengumpulkan data dari beragam sumber seringkali membenturkannya dengan aspek etika.

Diskusi pada FESKOM UI 2023 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI pada Sabtu, 25 November lalu secara garis besar membahas mengenai situasi dilematis ini. Dengan mengundang berbagai narasumber dari instansi ternama, talkshow berusaha menggali penggunaan AI secara etis pada setiap instansi.

Salah satu narasumber adalah, Erwin Haryono, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia. Erwin menjelaskan bahwa pemanfaatan AI dan teknologi digital membantu Bank Indonesia dalam menghimpun impresi masyarakat terkait krisis.

Disebutkan bahwa apabila mulai muncul kekhawatiran krisis pada masyarakat, maka akan disusul oleh perilaku-perilaku masyarakat yang justru dapat memicu krisis untuk benar-benar terjadi. Erwin khawatir masyarakat tidak dapat menerima dengan baik disrupsi teknologi yang berkembang dan menilai bahwa hal ini dapat mengancam kestabilan komunikasi keuangan.

Festival Komunikasi UI 2023Sumber: Festival Komunikasi UI 2023

Pada situasi itulah Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengambil peranan melalui berbagai corong komunikasi yang dimiliki untuk menginformasikan kestabilan situasi guna mencegah kepanikan masyarakat. Walau saat ini Bank Indonesia belum sepenuhnya menerapkan pemanfaatan AI, namun saat ini Bank Indonesia tengah mengembangkan salah satu teknologi digital pada sektor keuangan, yaitu QR Code Indonesia Standard (QRIS).

Bertujuan untuk mendukung ekonomi integrasi keuangan digital di Indonesia, QRIS dikembangkan untuk mendukung digitalisasi keuangan dengan memanfaatkan teknologi digital dan data dalam proses bisnis keuangan.

Fadjar Djoko Santoso, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) juga menjelaskan mengenai penerapan teknologi digital di Pertamina berupa Pertamina Integrated Command Center (PICC). PICC merupakan pusat informasi yang membantu Pertamina dalam memantau aktivitas operasional perusahaan baik yang bersifat core, critical maupun supporting process.

Selain itu, PICC berperan sebagai single source of truth bagi lingkungan internal Pertamina Group berupa data yang sudah terintegrasi. Tidak hanya itu, PICC juga dapat melakukan analisis data menjadi informasi, mendeteksi data, anomali, menguji kehandalan data serta menyusun executive summary dan rekomendasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan.

Namun demikian ditekankan bahwa sumber daya manusia tetap memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan. Teknologi yang dalam hal ini adalah PICC hanya berfungsi untuk mengumpulkan data, memetakan pola dan memberikan rekomendasi. Terkhususnya pada daerah-daerah di Indonesia dan masyarakat yang belum melek teknologi, tetap dibutuhkan bantuan manusia untuk memudahkan seluruh proses operasionalnya.

Sementara itu sebagai perusahaan penyedia biller aggregator, PT Jatelindo Perkasa Abadi yang diwakili oleh Fathur Dion mengatakanm Indonesia harus bersiap menciptakan developer teknologi yang andal untuk mengatasi tantangan dalam kemajuan teknologi dan AI yang semakin pesat.

Salah satu project yang berhasil mengubah kebiasaan masyarakat dalam sektor komunikasi transportasi yang dikembangkan oleh Jatelindo dan pemerintah adalah program JakLingko di Jakarta. Fathur mengatakan kesiapan masyarakat dalam era digital bukan hanya dari teknologinya, tetapi juga dari diri masyarakat yang mau turut beradaptasi.

Melengkapi diskusi hari itu, Karen Kusnadi, Communication Lead Microsoft Indonesia, memberikan perspektif dari Microsoft sebagai penyedia AI. Karen menyebutan bahwa Microsoft memposisikan AI sebagai co-pilot.

Meskipun kecerdasan buatan terus berkembang, pada akhirnya, manusia tetaplah aktor yang memiliki contextual intelligence, kepekaan terhadap situasi sosial dan etika, sehingga manusia tetap menjadi pilot yang memutuskan konten yang layak untuk diproduksi.

Hal tersebut yang mendasari Bing, mesin pencari dari Microsoft selalu mencantumkan catatan kaki dari setiap hasil pencarian untuk menegaskan bahwa kebijaksanaan dalam memilih dan memutuskan tetap diserahkan kepada manusia sebagai pilot. AI sebagai co-pilot hanya mengumpulkan data-data yang kemudian disusun menjadi berbagai bentuk rekomendasi.

Dari sisi akademis, Irwansyah, memberikan pandangannya terkait kecenderungan masyarakat yang apriori terhadap perkembangan AI. Irwansyah menyatakan bahwa pemanfaatan AI justru membuka kesempatan bagi kelompok-kelompok marjinal untuk bersuara dan mengambil peran dalam masyarakat.

Kekhawatiran terhadap kelompok marjinal justru membuat mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan. Irwansyah mengimbau bahwa manusia jauh lebih cerdas dibandingkan teknologi, jadi jangan sampai manusia takut dengan digitalisasi maupun perkembangan AI.

Mengutip dari salah satu jurnal psikologi, Irwansyah mengungkapkan hanya 3% dari otak manusia yang saat ini digunakan, artinya masih ada 97% kapasitas otak manusia yang belum dikembangkan. Oleh sebab itu, manusia harusnya bisa lebih unggul dari teknologi.

“Teknologi dan AI adalah ciptaan manusia, yang punya kontrol juga manusia, jadi kenapa mesti takut kalau belum dicoba terlebih dahulu? Sebagai orang komunikasi, AI ini justru membantu kita dalam penyampaian pesan melalui medium yang lebih advance”, ungkap Irwansyah di tengah diskusi.

Diskusi yang dipandu Fira Abdurachman itu kemudian ditutup dengan suatu kesimpulan yang mengarah kepada perlunya keterbukaan terhadap perkembangan teknologi AI yang tetap diselaraskan dengan rasional dan emosional manusia. Setelah diskusi berakhir, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi hiburan yang diisi oleh Ramond & Friends, standup comedian SemakindiDevan, hingga penampilan musik dari band internal.

FESKOM UI 2023 ini dihadiri oleh peserta dengan berbagai latar belakang diantaranya mahasiswa baik dari jurusan ilmu komunikasi dan dari jurusan lainnya, akademisi, praktisi bisnis, jurnalis, dan berbagai komunitas. Keberhasilan acara tidak terlepas dari peran pendukung yakni Bank Indonesia, dan para sponsor yaitu PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Patra Niaga, PT Bank Mandiri Tbk, PT Jaminan Pembiayaan Askrindo, J99 Corp, MS Glow Beauty, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk, Y&Co, Snuff, dan Tomoro Coffee.

Acara ini juga dapat tersebarluaskan dengan baik melalui media partner yaitu Urbanasia, The Conversation Indonesia, TV UI, Radio Telekomunikasi Cipta UI, Kuyou. Id, Correcto. Id, dan The Ekuatorial.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait