URedu

Pesan Kemenag soal Antipelecehan Seksual dan Narkoba untuk Siswa Baru

Ken Yunita, Jumat, 14 Juli 2023 15.48 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pesan Kemenag soal Antipelecehan Seksual dan Narkoba untuk Siswa Baru
Image: Kemenag

Jakarta - Di sekolah umum awal tahun pelajaran baru diisi dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sementara di madrasah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) bernama Masa Ta'ruf Siswa Madrasah (Matsama). Kemenag menegaskan tidak boleh ada praktik kekerasan seksual dalam pelaksanaan Matsama tersebut.

Pesan itu disampaikan Direktur Kurikulum, Sarana, Kesiswaan, dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kemenag M Isom Yusqi di Jakarta pada Kamis (13/7). Dia mengatakan Matsama adalah masa bagi siswa batu untuk mengenal temannya, gurunya, dan lingkungannya. Selain itu jadi wadah murid baru merasakan nuansa akademik yang baru dari sebelumnya.

"Matsama tanpa ada praktik bullying, diskriminasi, dan kekerasan seksual," tegasnya. Kemenag meminta pihak guru atau pengelola madrasah untuk mengawasi dengan seksama pelaksanaan Matsama. Sehingga bisa mendeteksi jika ada praktik perundungan atau perpeloncoan oleh siswa kakak kelak atau seniornya. Dia mengatakan pada umumnya Matsama digelar pada Senin (17/7) pekan depan.

1689324395-WhatsApp-Image-2023-07-14-at-13.52.00.jpegSumber:

Kasubdit Kesiswaan Direktorat KSKK Madrasah Kemenag Imam Bukhori mengatakan Kemenag sudah menerbitkan panduan atau juknis Matsama 2023-2024. "Tidak berubah dari Matsama sebelumnya," katanya. Meskipun begitu ada tambahan muatan atau pengayaan materi tentang Budaya bersih, sehat dan halal serta penumbuhan  sikap mandiri dan berprestasi. Kemudian materi tentang anti pelecehan dan kekerasan seksual, narkoba, merokok serta pengkondisian suasana anti pergaulan bebas di madrasah.

"Semua materi dikondisikan senyaman mungkin dalam metode penyampaiannya," katanya. Madrasah harus menyesuaikan tingkat perkembangan dan karakteristik anak masing-masing jenjang. Prinsip utama adalah membuat siswa baru nyaman. Kemudian mengenali diri dan lingkungan belajar barunya, agar segera dapat menyesuaikan diri mengikuti pembelajaran selanjutnya.

Sementara itu praktisi pendidikan Muhammad Nur Rizal mendukung penghapusan perundungan pada masa pengenalan siswa baru. Dia menegaskan praktik perundungan, bully, atau senioritas yang negatif dan menakut-nakuti harus dibuang jauh-jauh dari pelaksanaan MPLS. Apalagi jika praktik-praktik negatif itu ditujukan kepada peserta didik atau murid baru. Dia mengatakan banyak sekali dampak negatif dari perundungan.

’’Dampak perundungan itu besar,’’ kata pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan itu. Diantaranya adalah ada kesedihan, perasaan tidak nyaman, dan rasa ketakutan. Menurut dia rasa ketakutan tersebut membuat seseorang berada di emosi negatif. Efeknya mereka tidak memiliki keinginan untuk berkembang.

Untuk itu Rizal mengatakan MPLS harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Selama ini murid baru cenderung dijadikan objek dalam MPLS. Idealnya adalah para guru dan kakak kelas yang justru mengenal para murid baru. Sehingga akan terbangun suasana pembelajaran yang nyaman kepada para siswa baru tersebut.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Diantaranya adalah melibatkan kakak kelas sebagai pendamping. ’’Kakak kelas bukan dijadikan sebagai panitia MPLS yang kemudian menakut-nakuti adik kelas atau siswa baru,’’ tuturnya. Lebih dari itu kakak kelas menjadi sahabat atau teman siswa baru untuk sama-sama mengenali lingkungannya.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait