URtrending

Efek Pandemi Corona pada Bumi di Berbagai Negara

Eronika Dwi, Selasa, 24 Maret 2020 11.38 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Efek Pandemi Corona pada Bumi di Berbagai Negara
Image: istimewa

Jakarta - Seperti jatuhnya Tembok Berlin, pandemi corona (COVID-19) adalah peristiwa yang mampu menghancurkan dunia secara luas. Virus COVID-19 telah mampu menghancurkan kehidupan, mengganggu pasar, dan dampak-dampak lainnya. 

Namun, wabah corona yang mengharuskan untuk setiap orang berada di rumah demi memutus rantai penyebaran, membuat kurangnya pemanasan global dan bumi tampak lebih bersih. Hal itu telah terjadi di berbagai negara di dunia, seperti berikut ini:

Indonesia

1585026014-Jalan-Lenggang-Jakarta-030619-RN-1.jpg

Sejak pemerintah menghimbau untuk masyarakat agar bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah, membuat jalanan dan lalu lintas di kota-kota besar terhindar dari kemacetan maupun polusi kendaraan.

Suasana kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Jogjakarta, yang sepi dari aktivitas manusia akibat diterapkannya social distancing membuat jumlah polusi berkurang.

China

1585024566-china-juga.jpg

China menjadi kota pertama yang terserang virus COVID-19. Sejak banyaknya korban meninggal, pemerintah Cina langsung menutup banyak aktivitas masyarakat. Roda transportasi berkurang, serta banyak pemilik pabrik menghentikan produksi untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Setelahnya, kota-kota Cina, terutama Wuhan, pun disebut kota hantu.

Berkurangnya aktivitas masyarakat itulah yang membuat penurunan taraf polusi dan taraf nitrogen dioksida, seperti yang terlihat dari foto-foto dari satelit NASA. Apalagi Cina dikenal memiliki populasi terbanyak di dunia.

Badan antariksa juga menyebut bahwa penurunan taraf polusi terjadi saat jutaan orang dikarantina serta penetapan larangan terhadap aktivitas bisnis dan transportasi. Berkurangnya semburan kendaraan bermotor dan asap dari cerobong pabrik menjadi alasan terbesar berkurangnya jumlah polusi. Lockdown juga membuat langit di kota Hubei, Cina menjadi biru. Jumlah rata-rata kualitas udara yang baik di kota tersebut meningkat 21,5 persen, menurut laporan Kementerian Ekologi dan Lingkungan Tiongkok.

Pada gambar satelit yang dirilis NASA juga menunjukkan penurunan drastis pada emisi nitrogen dioksida, serta hampir menghilangnya awan gas beracun yang biasa terlihat di atas pusat-pusat industri. 

Hong Kong

1585024968-877350-720.jpg

Kualitas udara di Hong Kong meningkat baik sejak masa lockdown untuk memutus penyebaran virus COVID-19. Menurut data dari Hong Kong University School of Public Health, polusi udara di negara ini menurun hampir sepertiga dari Januari kemarin setelah berkurangnya kendaraan darat (motor/mobil), kapal laut, serta pembangkit listrik di Hong Kong.

Italia

1585024635-italia-juga.jpg

Jumlah kasus positif COVID-19 di Italia berjumlah 4.825 orang, membuat pemeritahnya memutuskan untuk mengisolasi (lockdown) seluruh wilayah di Italia. Tidak boleh ada aktivitas masyarakat di luar rumah, kecuali ke supermarket dan itu pun diberi jarak.

Setelah keputusan tersebut, Badan Antariksa Eropa [ESA], serta beberapa peneliti independen, mencatat bahwa emisi nitrogen dioksida telah menurun signifikan di Italia. Penurunan emisi tersebut menandakan berkurangnya polusi udara, terutama di wilayah bagian utara.

1585024659-italia-lumba-lumba.jpg

Selain itu, air menjadi bening di kanal-kanal Kota Venesia, Italia. Bahkan saking bersihnya, muncul Ikan lumba-lumba di kanal Venesia. Wow! 

Amerika Serikat

1585024847-usa.jpg

Para peneliti di Universitas Columbia, New York mengatakan bahwa dampak tersebut juga terjadi pada kota New York, Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan karbon monoksida yang disebabkan oleh kendaraan berkurang hampir 50 persen. Ada juga penurunan CO2 sebesar 5-10 persen di kota tersebut.

Menurut Prof Corinne Le Quéré dari University of East Anglia, Inggris, pembatasan perjalanan dan aktivitas ekonomi memiliki kemungkinan terjadi penurunan emisi secara keseluruhan.

Inggris

1585024866-london.jpg

Penurunan tingkat polusi udara juga terjadi di kota London, Inggris. Sejak Perdana Menteri Inggris menetapkan kebijakan terhadap masyarakat untuk tinggal di rumah, tingkat polusi yang tadinya berjumlah 96 menjadi hanya 20. Selain itu, nitrogen dioksida (gas rumah kaca berbahaya) kini menjadi lebih rendah dibanding sebelum-sebelumnya.

Berkurangnya aktivitas tersebut, disebut-sebut juga sejalan dengan munculnya rasa kemanusiaan dan perdamaian. Semua orang dari berbagai negara terlihat kompak bersatu melawan wabah virus mematikan itu.

 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait