Perahu Kertas Resmi ‘Berlayar’ di Panggung Musikal

Jakarta - Ada cerita yang tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah medium, mencari cara baru untuk bernapas. Perahu Kertas adalah salah satunya.
Setelah lama hidup di halaman buku, lagu, dan layar lebar, kisah tentang mimpi, pilihan, dan keberanian ini kini resmi “berlayar” di panggung musikal.
Musikal Perahu Kertas memulai rangkaian pementasannya di Ciputra Artpreneur, Jakarta, dan akan berlangsung hingga 15 Februari 2026 dengan total 21 pertunjukan.
Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network bersama Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), pementasan ini menjadi penanda baru perjalanan panjang cerita yang telah melekat di benak banyak orang.
Mengusung semangat Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi, musikal ini tidak sekadar menghadirkan ulang kisah Kugy dan Keenan, tetapi mengajak penonton menyelami ulang pergulatan yang mungkin terasa akrab: tentang bertahan pada mimpi di tengah realita yang kerap menuntut kompromi.
Bagi Dee Lestari, Perahu Kertas adalah kisah yang terus bergerak, tumbuh, dan menemukan bentuk-bentuk baru. Dari imajinasi, ke kata, ke visual, hingga kini ke panggung.
“Perahu Kertas telah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Kisah Kugy dan Keenan bertransformasi ke dalam bentuk yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, dan perjalanan ini mengajarkan bahwa mimpi yang dijaga dengan sabar akan selalu menemukan jalannya,” ungkap Dee.
Dee pun berharap versi musikal ini dapat menyentuh lebih banyak hati sekaligus mengingatkan penonton untuk berani menghidupkan kembali mimpi-mimpi mereka.
Di atas panggung, perjalanan Kugy dan Keenan dirangkum sebagai kisah dua insan yang sama-sama lahir dari darah seni, namun harus menghadapi jalan hidup yang tidak selalu searah dengan harapan.
Kugy dengan dunia dongeng dan kata-katanya, Keenan dengan kanvas dan warna, bertemu dalam persimpangan mimpi, perasaan, dan pilihan-pilihan yang tak selalu mudah diambil.
Cerita bergerak tidak hanya sebagai kisah cinta, tetapi juga perjalanan mengenal diri, menerima realita, dan memahami bahwa hidup jarang berjalan lurus.
Diproduseri oleh Billy Gamaliel bersama Eunike Elisaveta dan Chriskevin Adefrid, musikal ini menjadi ruang pertemuan antara musik, sastra, dan teater dalam satu pengalaman panggung yang emosional.
Billy melihat karya ini bukan sekadar adaptasi, melainkan upaya merawat imajinasi yang telah hidup lama di hati publik. Selain mengalihwahanakan novel populer menjadi teater musikal, karya ini menghadirkan sajian yang memanjakan visual, telinga, dan terutama hati.
“Kami berharap pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap seni pertunjukan dan mengingatkan bahwa mimpi selalu layak diperjuangkan,” ujarnya.
Ditulis oleh Widya Arifianti dan disutradarai sekaligus dikoreografikan oleh Venytha Yoshiantini, Musikal Perahu Kertas diterjemahkan ke dalam bahasa panggung yang mengandalkan kekuatan gerak dan ritme emosi.
Koreografi, musik, dan tata panggung dirancang menyatu dengan alur cerita, menjadikan perjalanan Kugy dan Keenan sebagai pengalaman yang tak hanya disaksikan, tetapi juga dirasakan.
Lebih dari sekadar pertunjukan, musikal ini juga menjadi ruang tumbuh bagi generasi baru pelaku seni. Melibatkan lebih dari 250 orang, Perahu Kertas memberi tempat bagi talenta muda untuk berproses dan bereksplorasi di panggung profesional.
Pada akhirnya, Perahu Kertas di panggung musikal bukan hanya tentang nostalgia. Ia adalah pengingat halus bahwa mimpi mungkin berubah bentuk, tertunda, atau sempat terlupakan, namun selama masih dijaga, selalu ada kesempatan untuk kembali berlayar.
