Jakarta – Mempromosikan film sama sulitnya dengan proses pembuatan film. Dalam melakukan promosi film, diperlukan strategi yang matang agar mendapatkan target pasar yang tepat sasaran.  

Tim produksi juga dituntut lebih kreatif dan aktif dalam mengenalkan film tersebut. Di tengah pandemi COVID-19, promosi digital jadi satu-satunya strategi yang aman dan efektif dilakukan.

Meski kelihatannya mudah, promosi digital juga memiliki tantangan dan kesulitan tersendiri. 

Tantangannya adalah bagaimana seseorang bisa mengemas materi promosi film semenarik mungkin dalam waktu yang singkat dan terbatas. 

Dalam acara Samsung Glaxy Workshop bertajuk 'Cerita Sinema Festival Film Indonesia', sutradara kenamaan Indonesia, Ernest Prakasa,membagikan tips jitu dalam melakukan promosi di media sosial.

Menurutnya ada 5 elemen penting yang bisa digunakan dalam promosi secara digital, yaitu poster film, video teaser, meme, konten kreatif lain dan challenges.

"Elemen penting yang bisa dipakai dalam promosi film itu yang paling umum ada poster dan video, seperti poster official atau video teaser," jelas Ernest.

"Bisa juga pakai meme, atau konten kreatif lain seperti komik panel dan juga challenges," paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ernest juga memberikan referensi film yang menurutnya memiliki strategi promosi yang matang. 

Ada tiga film yang bisa dijadikan acuan strategi promosi para sineas yaitu, Wiro Sableng 212, Bebas dan Pengabdi Setan.

1605170258-Samsung-Workshop.jpgSumber: Samsung

"Ketiga film ini menurut gue punya strategi pomosi yang matang dan bisa dijadikan acuan buat promosi film secara digital".

Di akhir sesi, Ernest menegaskan bahwa konten yang bagus tetap menjadi kunci utama kesuksesan sebuah film. 

Karena pada akhirnya, cara marketing yang paling jitu adalah 'word of mouth' atau cerita dari mulut ke mulut. Cara ini hanya bisa didapat secara otomatis jika konten yang dihasilkan bagus.

"Mau promosi sebagus apapun, semahal apapun, akan sia-sia kalau dari kontennya sendiri nggak bagus," pungkasnya.

Komentar
paper plane