Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URtainment

Ernest Prakasa, Tantangan dan Tekanan dalam Menggarap Film Milly & Mamet

Urbanasia,
sekitar 3 tahun yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Ernest Prakasa, Tantangan dan Tekanan dalam Menggarap Film Milly & Mamet
Image: Jajaran pemain dan sutradara film spin-off AADC, Milly & Mamet (Urban Asia/Thea Fathanah Arbar)

Urban Asia “ Setelah sukses menyutradarai tiga film komedi keluarga yakni Ngenest (2015), Cek Toko Sebelah (2016), dan Susah Sinyal (2017), kini komika Ernest Prakasa bekerja sama dengan istrinya, Meira Anastasia sedang menggarap sebuah spin-off dari Ada Apa dengan Cinta (AADC) universe, film Milly & Mamet.

Dalam konferensi pers film Milly & Mamet hari Senin (27/8) lalu, Ernest tidak hanya membocorkan nama-nama pemeran lainnya, Ia juga membocorkan beberapa tantangan dan tekanan dalam menggarap film ini.

Ernest dan Meira mengaku merasa punya beban yang berat saat pertama kali bertemu dengan Mira Lesmana dan Riri Riza. Mbak Mira dan Mas Riri bisa dibilang legend di perfilman Indonesia. Kita berpikir, gimana caranya biar dua produser ini enggak kecewa, karena AADC kan brand yang terkenal sekali, ungkap Ernest.

Bapak dua anak ini juga mengaku tidak bisa mengubah karakter Milly dan Mamet seenaknya. Sejak awal, baik dari Ernest maupun Mira Lesmana menyamakan interpretasi mengenai karakter utama, Milly dan Mamet. Setelah sepemahaman dan satu visi dalam membedah karakter Milly dan Mamet, mereka mulai membahas lebih detail mengenai jalan cerita.

Kita menyamakan visi dulu, karena karakternya punya mereka (Mira Lesmana dan Riri Riza). Gue enggak bisa ngubah dari apa yang udah ada di kitabnya AADC universe ya. Ini juga pertama kali gue bikin film yang karakternya sudah ada. Biasanya kita bikin ide cerita dulu, setelahnya baru mencari karakter yang cocok untuk membawakan cerita ini. Karakter bisa kita bentuk semaunya, tapi di sini enggak bisa karena udah ada karakternya, ungkap Ernest.

Dalam spin-off Milly & Mamet, Ernest dan Meira dituntut untuk menulis cerita yang sesuai dengan karakter. Ini pertama kalinya kita melakukan ini, dan di awalnya kita lumayan bingung nyari celahnya. Ruang gerak kita kayak dibatasi banget,

Di sisi lain, sebagai penulis naskah, Meira merasa senang dengan projek ini karena diberikan banyak ruang untuk bisa mengeksplor dunia motherhood yang akan diaplikasikan dalam jalan cerita film ini. Ernest ngasih banyak porsi ke aku untuk berimajinasi. Karakter Milly itu baru menjadi ibu dan punya anak, aku sudah pernah merasakan menjadi ibu dua kali, jadi aku tau banget rasanya terjun ke motherhood, ujar Meira.

Selain itu, sama seperti tiga film sebelumnya, Ernest juga menghadirkan beberapa komika untuk ikut serta dalam film ini. Ernest merangkul komika-komika, terutama yang baru, agar mereka bisa memperlihatkan potensi diri masing-masing yang ada, walaupun karakter yang mereka dimainkan tidak begitu sering muncul.

Film (Milly & Mamet) ini paling sedikit komikanya, dibawah 10 orang. Kalau di tiga film gue sebelumnya, pasti ada belasan komika. Sedikit karena karakter Milly dan Mamet-nya aja udah lucu, jadi udah banyak scene komedi mereka. Gue gak perlu minta komedi dari supportingnya, mereka aja sebagai lead dimaksimalin udah lucu banget,

Selain menyamakan interpretasi karakter dan jalan cerita, Ernest juga menyatakan dirinya menggunakan jasa comedy consultant agar lelucon dan gurauan yang ada bisa dipantau agar tidak melewati batas dan bisa dikembangkan agar lebih baik.

Bahkan dari sejak reading, gue sudah minta tolong comedy consultant untuk ikut membedah naskahnya untuk melihat mana jokes yang gak lucu, mana yang bisa dikembangin lagi. Ini juga biar komika-komika yang ada improvisasi bisa dipantau,

Film keempat ini juga sebagai bahan evaluasi dari tiga film Ernest sebelumnya, terutama dalam masalah lelucon dan gurauan seksis agar tidak kembali terulang. Kalau diteliti, memang tidak bisa dipungkiri jika lelucon seksis sudah ada dari zaman dahulu, namun Ernest menyatakan bukan berarti hal tersebut tidak bisa diperbaiki.

Film Milly & Mamet dan film-film garapan selanjutnya akan lebih aman dari jokes yang sifatnya mengobjektifikasi perempuan dan cewek-cewek seksi. Kontrol sejak dari naskah. Dari segi karakterisasi kita sudah lihat bahwa enggak ada karakter yang menonjol dari fisik, juga kita enggak bahas dalam dialog, ujar Ernest.

Selain Sissy Prescillia sebagai Milly dan Dennis Adishwara sebagai Mamet, ikut bermain Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Ernest Prakasa, Eva Celia, Surya Saputra, Dinda Kanya Dewi, Roy Marten, Arafah Rianti, Aci Resti, Ardit Erwandha, Muhadkly Acho, Awwe, Bintang Emon, Isyana Sarasvati, Melly Goeslaw, Tike Priatnakusumah, Jevin Julian, Gebi Ramadhan, Pierr Gruno, August Melasz, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, dan Titi Kamal.

Film Milly & Mamet produksi Starvision dan Miles Films sendiri rencananya akan mulai proses syuting pada 2 September mendatang dengan lokasi di sekitaran Jabodetabek dan akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada Desember 2018 mendatang.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait