URguide

Nge-fans Sehat Tanpa Lupa Diri

Ika Virginaputri, Selasa, 28 Juni 2022 21.39 | Waktu baca 4 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Nge-fans Sehat Tanpa Lupa Diri
Image: Parasocial Relationship

Nge-fans sama artis atau public figure memang sah-sah aja, Guys. Namun, para fans terkadang lupa, meski perasaan mereka buat idolanya memang terasa sungguh-sungguh, tetap saja itu semu. Soalnya kita cuma bisa lihat mereka dari media, tanpa interaksi nyata seperti kita sama keluarga atau sama teman-teman yang sering ketemu.

Wajar aja kalau kita merasa terhibur atau excited melihat kehidupan mereka sehari-hari yang mereka bagikan di medsos atau menikmati karya-karyanya. Tapi, kalau sampai bikin kita berjarak dengan kehidupan di dunia nyata, wah red flag banget tuh, Guys! Bisa dibilang kita sudah terlibat dalam parasocial relationship dengan idola.

Pengalihan Relasi Nyata

Menurut psikolog klinis Denrich Suryadi, parasocial relationship merupakan bentuk pengalihan relasi di dunia nyata yang sesungguhnya. Bentuk pengalihan ini semacam kompensasi atas kurang atau hilangnya relasi dengan manusia lain. Sebagai contoh, si A nggak punya teman atau nggak ada kedekatan sama keluarga, maka sebagai gantinya dia membangun hubungan parasosial dengan public figure idolanya.

“Ketergantungan emosional dengan figur tertentu ini membantu meningkatkan harga diri dan rasa aman si penggemar,” ungkap Denrich kepada Urbanasia.

"Biasanya terjadi pada masa remaja di mana remaja sedang membutuhkan idola atau tokoh artis yang mereka kagumi. Jika terjadi pada individu usia dewasa di atas 20 tahun maka kemungkinan ada isu psikologis terkait kematangan psikologis mereka. Kesadaran pribadi sangat dibutuhkan untuk dapat mengontrol diri dan emosi dalam menanggapi makna relasi parasosial ini dengan artis idolanya,” imbuh dosen Universitas Tarumanegara ini.

1626522279-Denrich.jpgSumber: Psikolog Universitas Tarumanegara, Denrich Suryadi (Foto: instagram @angiedenrich)

Dampak Hubungan Parasosial

Lebih jauh lagi, Denrich menjelaskan hubungan parasosial yang dibangun fans dengan idolanya punya dua sisi. Ada dampak positifnya, namun ada pula dampak negatifnya. Bisa dibilang positif jika si fans mendapat suntikan semangat dan optimisme dari idolanya.

“Plusnya yaitu menambah rasa percaya diri, meningkatkan harga diri, memiliki rasa aman, memiliki teladan positif dari artis atau idolanya, memiliki interaksi sosial lebih dengan para fans dalam komunitas penggemar, menemukan antusiasme dan optimisme dalam kehidupan sosial,” kata Denrich menjabarkan sisi positif hubungan parasosial.

Lalu bagaimana kita menilai ketertarikan pada idola udah termasuk kategori nggak wajar? Simpelnya sih, saat kamu mulai berlebihan dalam bersikap. Itulah waktunya kamu mesti berubah dan keluar dari jebakan parasosial.

“Kalau minusnya saat fans terjebak dalam relasi yang semu jika berlebihan, membuat relasi dałam dunia nyata menjadi sangat terbatas atau tidak ada sama sekali. Menjadi tidak realistis, bahkan dalam konteks tidak wajar membuat seseorang menjadi pelaku kriminalitas, bullying, agresif yang brutal tanpa pertimbangan baik secara verbal, psikis, atau fisik,” ungkap Denrich.

1656426381-marriagecom.jpgSumber: Memuja idola nggak berarti membatasi atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial ya, Guys. Kehidupan kita di dunia nyata tetap harus jadi fokus dan prioritas.

Nge-fans Sehat dan Wajar

Selama nggak berlebihan, nge-fans berat dengan idola itu masih wajar kok, Guys. Cukup sekadar jadi hiburan atau pengisi waktu senggang aja. Terus, tentukan batas supaya intensitasnya nggak terlalu tinggi. Dengan begitu, orang-orang sekitar juga pasti bakal ikutan memandang positif idola kita, kan?

“Ambil hal positif dari tokoh idolamu sehingga kamu tidak hanya bangga terhadap tokoh idolamu saja, namun juga bangga terhadap diri sendiri karena menjadi pribadi yang lebih baik,” Denrich berpesan. “Memiliki figur idola tidak menjadikanmu membatasi atau bahkan menarik diri dari lingkungan sosial karena idealnya contoh atau teladan baik dan lingkungan sosial akan membantu kita untuk lebih sejahtera secara psikologis,” tambahnya lagi.

Seperti yang disampaikan Denrich, boleh-boleh aja mantengin idola di media. Namun, kehidupan kita di dunia nyata tetap harus jadi fokus dan prioritas.

“Jika justru relasi itu membuat kita jadi pelaku pelecehan atau bullying, maka artinya relasi itu negatif dan menjadi bumerang untuk kita. Relasi parasosial dapat membuat kita terasa lebih terpenuhi kebutuhannya, namun tidak perlu menggantikan kehidupan nyata. Penting juga fokus pada penyelesaian masalah kita dałam kehidupan sosial agar tidak melarikan diri pada bentuk relasi parasosial yang toxic,” pungkas Denrich.

Wah, ternyata ngefans dengan idola juga butuh kesadaran diri yang tinggi ya, Guys? Apalagi di usia-usia yang menurut Denrich sudah selayaknya menunjukkan kematangan psikologis. Harus pintar-pintar deh, mengendalikan kadar ketertarikan kita terhadap idola.

Nah, terus tanda-tanda ngefans seperti apa yang masuk kategori mengkhawatirkan? Simak poin-poinnya di bawah ini, ya?

* Menjatuhkan orang lain yang berkomentar atau mengkritik artis idolanya yang tanpa sadar mengandung kekerasan, melecehkan atau menjatuhkan nama baik orang tersebut.

* Memaknai relasi tersebut sebagai hal yang pasti dan nyata sehingga bersikap dan berperilaku menyerang orang yang dianggap bersikap tidak menyenangkan terhadap artis idolanya secara langsung maupun tidak langsung.

* Membatasi relasi dalam kehidupan nyata atau bahkan mengisolasi atau menarik diri dari lingkungan sosialnya.

* Terobsesi dengan segala pemberitaan artis yang diidolakan dan menganggap diri sebagai bagian dari hidup mereka.

* Mengawasi bahkan menjaga berbagai status dan komen media sosial artis secara berlebihan.

* Kondisi terparah, memiliki waham, keyakinan, ilusi yang keliru sehingga mengganggu kondisi mental dań kemampuan seseorang beradaptasi.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait