URguide

Pengaruh Drakor pada Tren Desain Rumah Tinggal Anak Muda

Georgie T Kadarusman, Selasa, 12 Desember 2023 16.28 | Waktu baca 6 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Pengaruh Drakor pada Tren Desain Rumah Tinggal Anak Muda
Image: Pinterest

Jakarta - "Tante Gie, aku pengen desain rumahku seperti rumah Choi Woong di drama Korea (drakor) berjudul ‘Our Beloved Summer’,” ujar Valerie, klien baru saya anak generasi milenial. Val berprofesi desainer grafis dan content creator.

Beberapa waktu sebelumnya saya juga mendapatkan briefing yang sama dari salah satu pengembang apartemen di Jakarta Selatan. Mereka minta saya mendesain unit rumah contoh dengan konsep ala-ala drakor. 

Tidak berselang lama, ada kenalan dokter,  berencana membuka klinik dermatologi baru dengan target market milenial dan gen Z. Permintaannya juga sama, "Yang ala-ala drakor gitu, Gie, referensinya klinik Cha Mi-Jo di drakor ‘Thirty Nine’."

Pekerjaan saya sehari-hari adalah profesional desainer interior, cukup lama saya malang melintang di industri ini. Apa yang sedang menjadi trend, hip, booming harus mampu diserap dengan baik.

Seperti dalam fashion, trend desain rumah tinggal, dan interior juga mengalami siklus dan evolusi. Termasuk tren ala-ala drakor yang sekarang sedang digemari.

Awalnya saya  tidak kenal dan sedikit under-estimate dengan hal-hal berbau Korea, baik lagu, film dan drama-dramanya. Mungkin karena sebelumnya terbiasa dengan segala sesuatu yang western minded.

Tapi akhirnya mau tidak mau, dengan alasan riset, saya mulai berkelana dari satu judul drakor ke judul drakor yang lain. Ternyata drakor  banyak menyajikan cerita-cerita menarik dengan kualitas akting yang mumpuni.

Secara subyektif saya menandai, jika ceritanya bagus, aktingnya prima, desain rumah dan interiornya juga menarik. 

Akhirnya saya paham mengapa drakor mempengaruhi berbagai segi kehidupan terutama yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat visual. Terutama rumah dan interiornya yang mencuri perhatian.

Ada apa dengan rumah tokoh utama drakor ‘Our Beloved Summer’ yang diperankan Choi Woo Shik? 

Menurut saya, Valeri jatuh cinta pada sang tokoh yang berprofesi sebagai seniman dan ilustrastor terkenal. Valeri merasa relate dengan konsep rumah dan interior rumah tersebut.

Mengambil konsep industrial, lengkap dengan ekspos dinding batu bata, dan gaya konstruksi yang belom jadi, ada sebagian dinding yang dibiarkan pecah, nggak rata.

Antar ruang dibiarkan open space, tanpa sekat dinding masif, kecuali kamar mandi. Bahkan tempat tidur juga hanya dibatasi partisi kaca dengan aksen metal warna hitam.

Apakah ekspos dinding batu bata tidak membuat ruangan menjadi gelap? Nah, inilah menariknya interior ala drakor. Desain dibuat dengan cermat. 

King the LandSumber: Pinterest

Mereka sering menghadirkan bukaan-bukaan alami, seperti jendela yang besar. Hal ini bisa kita lihat karena scene banyak mengambil tempat di ruang keluarga dan meja makan.

Ada jendela lebar menghadirkan cahaya alami. Sofa besar warna putih, dinding selain aksen batu bata dan plafon juga warna putih tulang. Lantai mengaplikasikan motif kayu berwarna terang.

Warna kayu lebih tua dihadirkan pada desain rak buku yang juga sebagai pembatas spasial dan elemen dekoratif. Lampu dinding dan gantung dipilih model modern untuk memberikan polesan kekinian.

Yang menarik adalah studio di lantai dua. Ruang kerja di tata artistik. Lampu-lampu bergaya industrial.

Meja kayu lebar, kursi kayu menghadap ke arah jendela yang lebar. Sehingga hijau tanaman di luar jendela seakan dihadirkan ke dalam ruangan.

Terlihat ada beberapa spot kerja. Meja terlebar untuk untuk menghasilkan sketsa dengan lembaran-lembaran kecil.

Ada meja kecil panjang yang terlihat ada komputer dan rak-rak buku. Wooden easel atau stand kayu untuk menggambar dengan ukuran kertas/kanvas lebar.

Di dekat jendela ditempatkan kursi goyang dengan otoman untuk istirahat riset atau membaca. Ikonik.

Singkatnya, studio keja ini sangat fotogenic, menarik untuk diabadikan dari berbagai angle kamera. Selain inspiratif, tenang, juga menarik untuk merekam konten.

***

Semakin hari harga tanah semakin melonjak tak terkendali, apalagi di Jakarta. Kebutuhan akan rumah yang semakin besar tetapi dengan besaran lahan yang tidak bertambah, akhirnya kavling yang dijual juga mengecil, baik landhouse ataupun unit-unit apartemen. 

Kavling-kavling kecil ini terkadang membuat pembeli habis akal. Bagaimana bisa dikondisikan untuk layak huni.

Dengan serbuan media sosial dan berbagai platform penyedia film-film gratis bisa mudah di akses oleh siapapun, selera estetis masyarakat terhadap properti, rumah tinggal secara umum juga meningkat.

Nilai awal bahwa rumah sebagai tempat berteduh dan melepas lelah, berinteraksi bersama keluarga berkembang juga ke fungsi estetis menjadi tempat yang indah menyenangkan.

Seperti ulasan di atas, apabila mampu menghadirkan rumah dan interior yang fotogenic, bisa buat ngonten, keren dipake zoom meeting dan WFH, walaupun lahan yang dimiliki kecil saja, ujung-ujungnya mampu meningkatkan nilai jual, cepet laku.

Dalam drama Korea, rumah atau apartemen yang berukuran kecil tetap tampil menarik. Rata-rata compact house bergaya modern minimalis.

Secara tidak langsung masyarakat berkenalan dengan konsep Rumah Compact atau Compact House, konsep yang berkembang di kalangan masyarakat urban, generasi milenial yang baru menikah.

Compact house adalah istilah dari rumah minim sekat atau partisi tapi mampu meminimalkan kebutuhan ruang dengan memprioritaskan beberapa fungsi rumah yang esensial saja. Misalnya, dapur, ruang makan, ruang keluarga dan menerima tamu menjadi satu area. 

Terkadang dalam beberapa cerita drakor,  karena ukuran ruangan terlalu mungil  kegiatan makan di lakukan di ruang keluarga, dengan meja yang duduk di lantai. Semua dengan estetika yang konsisten.

Kita ambil contoh apartemen Kim Mi-so, yang diperankan oleh Park Min Young di drakor berjudul ‘What's Wrong with secretary Kim’. Atau Cheon Sa-Rang di drama berjudul ‘King The Land’.

What's Wrong with secretary KimSumber: Pinterest

Dengan memaksimalkan ruangan dan perabot yang multifungsi, artinya biaya untuk produksi, pembelian perabotan juga bisa ditekan. Bahan-bahan yang diperlukan juga cukup mudah ditemukan di pasaran.

Menerapkan cahaya alami, ruang-ruang yang terang. Ujung-ujungnya ke penekanan biaya listrik.

Urusan penghematan energi diperlihatkan secara sederhana dengan lampu-lampu bersensor gerak. Jadi kalo ada yang lewat di bawahnya lampu baru hidup, kalo ngga ya lampunya mati.

Warna-warna yang dipakai pada rumah dan interior drakor kebanyakan warna-warna terang, putih dengan seluruh variasi turunan warnanya dan warna-warna pastel sebagai aksen, seperti abu-abu, biru, pink.

Tak jarang menampilkan perpaduan dengan material alam seperti ekspos batu bata, kayu, dan batu. Inovasi desain juga sangat variatif, seakan-akan berlomba meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Didesain secara cermat disesuaikan dengan karakter tokoh.

Tokoh yang feminin, psikopat yang dark, olahragawan, sekretaris, anak kuliah, seniman musik, seniman tari, pelukis, penulis, dokter, politisi, pelakor, pekerja seksual, semua memiliki desain rumah dan interior yang berbeda, eksplorasi psikologis seperti ini membuka ruang bagi semua orang untuk terinspirasi, menyerap ide dan  ingin memiliki rumah dan interior ala-ala drakor.

Dibandingkan dengan konsep lain, gaya minimalis modern pada rumah ala-ala drakor nyatanya minim perawatan.  Cocok bagi siapa saja yang menerapkan gaya hidup praktis.

Sehingga memiliki banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal lain yang disukai selain bekerja dan ngurusin rumah.

Bagian depan rumah atau biasa disebut dengan istilah fasad, kebanyakan berdesain simple, tapi dalamnya lengkap dan artistik. Beda dengan style di Indonesia pada umumnya, yang banyak menghabiskan biaya dan segala detail untuk tampilan luar rumah, tapi desain interior atau masuk ke dalam rumah tidak selaras atau diluar ekspektasi.

Banyak contoh, fasad didesain heboh, penuh ukiran-ukiran emas ala-ala Eropa atau bergaya Da Vinci, tapi setelah masuk ke dalam rumah bergaya Informa atau Olympic yang asal beli. 

Hal tersebut berdasarkan pengamatan dan pengalaman-pengalaman saya sebagai praktisi. Biaya konstruksi dan landscape biasanya luar biasa dan menyedot banyak alokasi pendanaan klien.

Untuk interior seperti orang kehabisan nafas, dana seringkali merupakan dana tersisa, sangat sulit untuk menyesuaikan dengan citra luar yang di bangun.

Saya menduga bisa jadi ini berkaitan dengan mental yang terbentuk akibat kolonialisme yang menempatkan pribumi pada posisi yang sangat rendah. Jiwa inferiorisme masih tersisa.

Maka meningkatkan status, derajat sosial salah satunya dengan membangun citra luarnya yang hebat.

Oh ya, tampilan akhir rumah ala-ala drakor ini sesederhana apapun selalu terlihat estetis, modis, catchy. Ngga heran jika pada akhirnya juga berimbas pada tren interior di pasaran. Dan saya pribadi sebagai praktisi, desainer interior menyambut hal ini dengan suka cita.

Secara perlahan drakor-drakor tersebut memberikan pelajaran tentang selera, simplicity, estetis dan lebih penting betapa pemenuhan hal-hal yang berkaitan dengan ruang dalam lebih penting dari sekedar gagahnya tampilan luar.

*) Penulis adalah Professional Desainer Interior 

**) Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis, bukan pandangan Urbanasia

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait