Selain Estetik, Warna Biru Juga Bisa Jadi Penyeimbang Emosi

Jakarta – Warna sering kali dipilih karena selera visual semata. Padahal, di balik tampilannya yang estetik, warna juga memiliki peran psikologis yang memengaruhi emosi dan respons seseorang terhadap ruang.
Salah satu warna yang dipilih karena estetikanya adalah warna biru. Di balik itu, biru juga diasosiasikan dengan ketenangan, rasa aman, dan stabilitas emosional.
Founder & Board of Patrons Filoksenia Foundation, Sylvia M. Siregar menjelaskan, warna bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan bagian dari lingkungan yang berinteraksi langsung dengan kondisi mental seseorang.
Dalam pengalamannya mendampingi anak-anak dengan neurodiverse, warna biru kerap menjadi elemen visual yang membantu menciptakan rasa tenang dan fokus.
“Lingkungan visual yang tepat bisa membantu menurunkan kecemasan dan meredam over stimulasi. Bagi banyak anak, terutama yang neurodiverse, warna biru menjadi penyeimbang emosional yang membuat mereka merasa lebih aman dan nyaman,” jelas Sylvia, dalam Peluncuran Dulux Colours of the Year 2026, Rhythm of Blues, Senin (26/1/2026)
Pendekatan psikologi warna ini menjadi semakin relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh rangsangan. Paparan layar, aktivitas yang padat, serta tuntutan untuk selalu aktif membuat banyak orang kehilangan ruang untuk berhenti sejenak.
Dalam konteks inilah, warna, terutama warna biru, mulai dilihat sebagai bagian dari pengalaman ruang yang mendukung kesejahteraan emosional.
Peluncuran Dulux Colours of the Year 2026, Rhythm of Blues. (Urbanasia)
Pemahaman tersebut sejalan dengan peluncuran Dulux Colours of The Year 2026 yang mengusung tema ‘Rhythm of Blues™’. Alih-alih menghadirkan satu warna tunggal, Dulux memperkenalkan spektrum biru sebagai pendekatan yang lebih personal.
Melalui Rhythm of Blues™, Dulux menghadirkan tiga nuansa biru dengan karakter berbeda. Slow Swing menawarkan biru gelap yang menenangkan, dirancang untuk membantu melambat dan memulihkan energi.
Mellow Flow hadir sebagai biru terang yang lembut, menciptakan rasa seimbang dan kebersamaan. Sementara Free Groove menjadi biru yang lebih ekspresif dan dinamis, memberi ruang untuk kreativitas tanpa kehilangan rasa nyaman.
Head of Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia, Niluh Putu Ayu Setiawati menyampaikan, pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa ketenangan bersifat personal. Setiap orang memiliki cara dan ritme berbeda dalam menemukan rasa tenang di ruangnya masing-masing.
“Melalui Rhythm of Blues™, kami ingin mengajak masyarakat melihat warna sebagai bagian dari pengalaman hidup. Warna bukan hanya soal tampilan, tetapi bagaimana ruang bisa mendukung rasa aman, nyaman, dan seimbang secara emosional,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tren warna, pendekatan ini menempatkan biru sebagai medium yang membantu manusia beradaptasi dengan tekanan kehidupan sehari-hari. Ketika ruang mampu menghadirkan ketenangan, aktivitas sederhana seperti beristirahat, berkumpul, hingga bekerja pun terasa lebih manusiawi.
