Hot News

Malang - Tahu nggak sih, menurut data Global Status Report on Road Safety (WHO, 2015) setiap tahun di seluruh dunia, lebih dari 1,25 juta korban meninggal dunia dan 50 juta orang luka berat akibat kecelakaan lalu lintas, lho.

Dari jumlah ini, 90% kecelakaan terjadi di negara berkembang. Bahkan, kecelakaan lalu lintas ini menjadi pembunuh terbesar kedua di dunia.

Selain itu, menurut data WHO, transportasi roda dua inilah yang paling sering terjadi kecelakaan. Ironisnya, sering kali terjadi kecelakaan yang tidak diketahui orang sehingga korban tidak bisa tertolong dengan cepat.

Berangkat dari situ, tercetuslah ide untuk membuat sebuah helm pintar oleh Tito Setyawal Putra dan Dwi Puji Laksono, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Baca juga: Ciptakan Skincare Alami, Mahasiswa Unair Kenalkan Racikan Asli Indonesia

Ide Tito dan Dwi ini berangkat dari keprihatinan atas banyaknya kecelakaan lalu lintas yang tidak segera tertangani pada pengguna kendaraan roda dua atau sepeda motor.

Helm pintar ini diberi nama IOSHEL (Iot Smart Helmet). Helm ini bisa secara otomatis mengirim koordinat Global Positioning System (GPS) saat pengendara mengalami kecelakaan lalu lintas.

Nggak cuma itu, guys. Helm ini juga dilengkapi dengan solar cell sebagai pengisian daya dan dapat juga diisi dayanya dengan menggunakan pengisi daya handphone.

Kapasitas baterainya 1100 MAh dan bisa bertahan sekitar 24 jam ketika digunakan dalam berkendara. Tito dan Dwi sih berharap IOSHEL ini dapat diproduksi masal oleh perusahaan di Indonesia.

Baca juga: Hindari Salah Jurusan Kuliah Pakai Knowlej.id, Platform Besutan Mahasiswa Unpad

Cara kerjanya, helm pintar ini akan secara otomatis mengirimkan koordinat GPS ke aplikasi Telegram dan SMS biasa ke nomor yang telah di daftarkan. Bisa ke polisi, keluarga, ataupun rumah sakit secara otomatis ketika terjadi kecelakaan.

Helm ini akan mengirim data berupa koordinat lokasi kecelakaan dengan 3 indikator yang ada yakni getaran, kemiringan, dan percepatan. Dengan begitu, lokasi kendaraan akan segera diketahui oleh penerima pesan.

Atas inovasi ini, Tito dan Dwi meraih bronze medal di ajang inovasi tingkat dunia Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019 yang diselenggarakan oleh Korea Invention Promotion Association (KIPA) dan didukung International Federation of Inventors' Association (IFIA) di Korea Selatan.

Pembuatan helm pintar ini tentu bukan tanpa kendala. Tito mengatakan bahwa ia dan rekannya mengalami banyak masalah selama perakitan.

“Selain harus belajar lagi tentang elektronika dan pemrogaman, karena kita jurusan Teknik Mesin, kendala kami juga dari beberapa komponen yang tidak ada di Indonesia sehingga kita harus pesan di luar,” pungkasnya.

Komentar

Loading ..