URstyle

Hidden Hunger; Ketika Anak Sehat dan Makan Lahap, Padahal Kurang Gizi

Urbanasia, Jumat, 23 Januari 2026 21.30 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Hidden Hunger; Ketika Anak Sehat dan Makan Lahap, Padahal Kurang Gizi
Image: Ilustrasi - Anak makan lahap. (Freepik)

Jakarta - Anak tampak sehat dan lahap saat makan saja ternyata tidak cukup. Orang tua harus benar-benar memperhatikan kandungan nutrisi yang dimakan anak, agar tidak mengalami hidden hunger

Hidden hunger atau kelaparan tersembunyi adalah kondisi ketika anak kekurangan gizi serius akibat tidak terpenuhinya asupan vitamin dan mineral penting, meskipun sudah makan cukup bahkan hingga kenyang. 

Menurut Dokter Gizi Klinik dari Primaya Hospital Tangerang, dr Monique Carolina Widjaja, hidden hunger ini bisa terjadi bahkan ketika anak terlihat sehat dan aktif, padahal secara biologis tubuhnya kekurangan zat gizi penting. 

“Inilah yang disebut hidden hunger. Gejala-gejalanya sering dianggap sepele atau bagian dari fase tumbuh kembang, padahal bisa menjadi sinyal awal malnutrisi,” kata dr Monique dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/1/2026). 

Dokter Monique membeberkan beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua, seperti anak mudah lelah dan sulit konsentrasi, sariawan berulang, gusi berdarah, rambut kusam dan mudah rontok, hingga anak sering mengalami infeksi berulang. 

Hidden hunger, kata Monique, saat ini menjadi tantangan baru di tengah menurunnya angka stunting menurut data SSGI 2024. Oleh karena itu, selain fokus pada mau dan lahapnya makan anak, orang tua juga perlu memperhatikan zat gizi penting dalam makanan anak, seperti zat besi, zinc, dan vitamin D. 

Selain itu, konsumsi makanan ultra-proses seperti nuget, sosis, sereal manis, dan camilan kemasan juga jadi pemicu utama masalah gizi pada anak yang dalam jangka panjang bisa memicu obesitas dan peningkatan risiko penyakit metabolik di usia muda. 

Monique juga mengingatkan pentingnya skrining gizi rutin pada anak. Tujuannya untuk mendeteksi hidden hunger sejak dini, memantau pertumbuhan, serta mencegah stunting terselubung. 

Adapun skrining gizi itu meliputi:

  • Pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lengan
  • Pemeriksaan fisik
  • Evaluasi pola makan harian
  • Pemeriksaan laboratorium bila diperlukan

“Nutrisi anak tidak boleh ditunda atau disepelekan. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing di masa depan,” pungkas Monique. 

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait