Banner Skinner Urfluencer
Banner Skinner Fomo
URstyle

Mengenal Ekshibisionis: Pengertian, Penyebab dan Cara Menanganinya

Deandra Salsabila,
2 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Mengenal Ekshibisionis: Pengertian, Penyebab dan Cara Menanganinya
Image: Kesehatan mental perempuan (ilustrasi: Pixabay/Pimnana)

Jakarta - Beberapa hari ke belakang, netizen diramaikan dengan kabar seorang public figure yang dikirimkan foto yang mana orang tersebut menunjukkan organ genitalia.

Nah, hal tersebut dapat termasuk ekshibisionis karena memperlihatkan sesuatu yang bentuknya sangat privasi. 

Psikiatri Santi Yuliani, menjelaskan, dari kacamata kejiwaan, ekshibisionis termasuk ke sebuah diagnosis atau gangguan. Banyak orang yang suka menonjolkan bagian yang sebenarnya tidak sebaiknya ditontonkan (alat kelamin). Jika kondisi ini sudah mengganggu orang lain apalagi abuse, hal ini perlu dievaluasi lebih lanjut. 

“Kita jangan sedikit-sedikit mendiagnosis orang kalau dia itu ekshibisionis,” ujar Santi dalam URlife Urbanasia, Jumat (27/8/2021).

Menurut Santi, ekshibisionis terjadi karena ada dorongan dari limbic system yang bekerja berlebihan. Semua orang pada dasarnya memiliki sexual drive, tetapi orang dalam kondisi sehat mampu mengendalikan hal tersebut. Maka sebaliknya, orang yang mengalami ekshibisionis tidak dapat mengendalikan hal tersebut.

Ekshibisionis sebenarnya sudah muncul sejak balita dan sangat susah mendiagnosis ekshibisionis di awal. Sebab, anak-anak masih senang berfantasi. Namun, di masa remaja kita sudah bisa melihatnya.

Berkaca pada hal tersebut, maka pendidikan mengenai genetalitas perlu disampaikan sedini mungkin, seperti area mana yang dapat diperlihatkan atau area mana yang perlu dijaga.

“Di usia PAUD sudah mulai bisa diperkenalkan tentang tubuh dia. Kita nggak secara langsung mengajarkan ekshibisionis, tetapi bagaimana memperkenalkan mereka mengenai area genital,” jelas Santi.

Menurut Santi, ekshibisionis bahaya karena kita tidak bisa tahu kalau orang ini ekshibisionis sebelum kita mengetahui perilakunya. Maka, Santi mengatakan, kita harus mengenali lebih lanjut, misalnya perilaku ketika dia mengirim gambar atau video. 

Ketika kita menemukan seseorang yang mengalami ekshibisionis, Santi menegaskan bahwa kita tidak dapat hanya menasihatinya. Kita perlu membawanya ke tenaga profesional untuk terapi. Namun, terapi perilaku saja tidak cukup, perlu ada obat yang diberikan.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait