beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URnews

Mengenal Sosok Sarah Gilbert, Ilmuwan Pencipta Vaksin AstraZeneca

Deandra Salsabila,
10 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Mengenal Sosok Sarah Gilbert, Ilmuwan Pencipta Vaksin AstraZeneca
Image: Sarah Gilbert, ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca.(Dok. UNIVERSITY OF OXFORD)

Jakarta - Meningkatnya lonjakan kasus COVID-19 merupakan hal yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Tak hanya itu, vaksin juga ikut ramai diperbicarakan karena merupakan salah satu senjata untuk melawan COVID-19.

Baru-baru ini, Sarah Gilbert, seorang ilmuwan vaksin COVID-19 AstraZeneca mendapatkan standing ovation di ajang Wimbledon 2021. 

Momen tersebut terjadi pada hari pertama turnamen Wimbledon akhir Juni lalu. Prof Gilbert duduk di barisan penonton di lapangan tengah saat pembawa acara menyebutkan sosok-sosok inspirational yang menjadi tamu dalam turnamen tersebut.

Saat nama Prof Gilbert disebut sebagai 'pemimpin yang telah mengembangkan vaksin anti-COVID', terdengar ramainya tepukan tangan di seluruh arena. Satu persatu penonton pun mulai berdiri untuk memberikan penghormatan sambil terus bertepuk tangan.

Wanita yang lahir di Northamptonshire pada April 1962 ini mulai menekuni vaksinologi di Oxford pada 2004 dan menjadi profesor di Jenner Institute. 

Prof Gilbert juga mengembangkan dan menguji vaksin flu universal pada 2011. Selain itu, ia juga memimpin uji klinis pertama vaksin Ebola pada 2024, lalu MERS (Middle East Respiratory Syndrome).

Pada Desember 2020, Inggris menyetujui vaksin COVID-19 yang dikembangkannya bersama rekan-rekannya. Ibu dari tiga anak kembar ini akhirnya mendapatkan ide untuk mengembangkan vaksin tersebut setelah China mempublikasikan kode genetik virus. 

Butuh beberapa minggu untuk membuat vaksin yang bekerja melawan COVID-19 di laboratorium. Setelah itu, batch pertama mulai diproduksi pada awal April, ketika rezim pengujian yang ketat diperluas. Prof Gilbert menggambarkan proses tersebut sebagai serangkaian langkah kecil daripada menjadi momen terobosan besar.

"Sejak awal, kami melihatnya sebagai perlombaan melawan virus, bukan perlombaan melawan pengembang vaksin lain. Kami adalah universitas dan kami tidak berada di sini untuk menghasilkan uang,” ujar Prof Gilbert dikutip melalui BCC, Senin (19/7/2021).

Temannya, Dr. Anne Moore seorang ahli biokimia juga mengatakan jika Prof Gilbert adalah seseorang yang tidak ingin menjadi pusat perhatian. Wah, Prof Gilbert ini memang pantas untuk dijadikan panutan dan sangat berjasa, ya Urbanreaders!

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait