Cerita Para Ibu Membangun Aset Keluarga dari Teras Rumah

Jakarta — Tepuk tangan di panggung Miss Cimory Awards 2026 pekan lalu menandai lebih dari sekadar seremoni penghargaan. Di balik gaun sederhana dan senyum para penerima apresiasi, tersimpan cerita tentang perubahan cara pandang.
Cara pandang yang berubah itu adalah dari sekadar mencari penghasilan harian, menjadi membangun masa depan keluarga. Dari teras rumah, dapur kecil, hingga lingkungan sekitar, lahir pola ekonomi baru yang perlahan tapi pasti menguatkan fondasi keluarga Indonesia.
Ribuan ibu rumah tangga yang tergabung dalam program Miss Cimory kini tak lagi memaknai pendapatan sebagai uang yang habis hari itu juga.
Mereka belajar mengelola, menyisihkan, dan mengubahnya menjadi aset, mulai dari tanah, emas, pendidikan anak, hingga usaha berkelanjutan. Di titik inilah, kemandirian ekonomi mulai menemukan bentuknya yang paling nyata.
“Bagi kami, pencapaian terbesar Miss Cimory bukan angka penjualan, tapi ketika para ibu mulai membangun aset. Saat pendapatan berubah menjadi tanah, emas, atau pendidikan anak, di situlah kemandirian ekonomi benar-benar terjadi,” kata Hendri Viarta, Direktur Cimory Group, dikutip Selasa (27/1/2026).
Semangat itulah yang terasa kuat sepanjang Miss Cimory Awards 2026. Program yang awalnya dirancang sebagai peluang usaha rumahan, kini berkembang menjadi ruang belajar finansial, tempat para ibu menata masa depan.
Masa Depan Dimulai dari Rumah
Miss Cimory mengantarkan produk dari teras-teras rumah hingga bisa memantapkan masa depan. (Cimory)
Cerita para pemenang tahun ini menjadi potret nyata bagaimana konsistensi pelan-pelan mengubah hidup. Ibu Niar (45), asal Tegal, bergabung dengan Miss Cimory sejak 2017.
Awalnya, Niar mengaku penghasilan dari usaha ini ia jadikan tambahan untuk memenuhi kebutuhan harian. Namun seiring waktu, cara berpikirnya berubah.
“Dulu fokusnya cukup hari ini. Sekarang saya berpikir lima sampai sepuluh tahun ke depan. Mulai dari punya rumah sendiri sampai biaya kuliah anak,” katanya.
Di Bandung, Ibu Dini (41) memilih jalan berbeda. Hasil penjualan yogurt tidak habis begitu saja, melainkan ia ubah menjadi aset jangka panjang. Hasilnya cukup luar biasa, emas, dua unit rumah, satu mobil, hingga usaha laundry yang kini menopang ekonomi keluarga di masa depan.
Sementara itu di Jakarta, Ibu Sunanti (49) mampu memodali bengkel milik sang suami dan menguliahkan kedua anaknya hingga lulus sarjana.
Kisah lain datang dari Ibu Darini (51) di Pondok Aren. Dari ketekunan bertahun-tahun, ia kini memiliki sebidang sawah produktif, rumah kontrakan, mobil, serta tabungan keluarga yang stabil. Perjalanan itu juga mengantarkannya menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Cerita-cerita ini menunjukkan satu hal sederhana namun penting: ketika seorang ibu berdaya, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia menjalar ke keluarga, anak-anak, bahkan lingkungan sekitar.
Disiplin sebagai Pondasi yang Tak Terlihat
Miss Cimory Awards 2026. (Cimory)
Keberhasilan tersebut tentu bukan hasil instan. Di balik pencapaian para Miss Cimory, ada disiplin harian yang terus dilatih. Pada Miss Cimory Awards 2026, sebanyak 461 ibu menerima penghargaan atas konsistensi dan pertumbuhan mereka sepanjang tahun.
Sebanyak 199 ibu meraih kategori Growth Business, sementara 211 lainnya mendapat apresiasi Growth People sebagai motor pertumbuhan komunitas.
Apresiasi juga diberikan kepada 25 ibu kategori Best MP di lini produk daging olahan, serta 25 ibu kategori Best CMD untuk performa terbaik di produk susu dan dairy.
Puncaknya, Ibu Tianisah Siregar (51) dari Cimory Center Jawa Barat dinobatkan sebagai Best Miss Cimory 2025 berkat performa paripurna dan konsistensi luar biasa.
Salah satu fondasi utama dari perjalanan ini adalah Noon Ceremony (NC). Setiap hari pukul 13.00, para ibu berkumpul secara daring maupun luring, untuk belajar.
Bukan hanya soal produk, tetapi juga tentang disiplin waktu, cara berpikir terstruktur, literasi digital, hingga memandang penghasilan sebagai alat perencanaan jangka panjang.
“Miss Cimory bukan sekadar program jangka pendek, tapi sistem pembelajaran hidup. Dari disiplin harian, ibu-ibu belajar merencanakan masa depan, bukan hanya bertahan hari ini,” kata Hendri.
