Ramadan Rhapsody 2026: Saat Modes Fashion Tetap Laku Meski Ekonomi Lesu

Jakarta - Sebulan penuh, lantai dasar Pakuwon Mall Bekasi berubah jadi ruang yang hidup dan penuh energi. Bukan cuma soal fashion show atau deretan tenant yang estetik, tapi tentang bagaimana orang-orang tetap datang, melihat, mencoba, lalu akhirnya membeli di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.
Ramadan Rhapsody 2026 resmi ditutup, tapi cerita di baliknya justru menarik untuk dibaca lebih dalam. Event yang digelar sejak 4 sampai 29 Maret 2026 ini menjadi edisi kedua kolaborasi Fashion Rhapsody, APPMI, dan Pakuwon Mall Bekasi, sekaligus menjadi barometer kecil tentang kondisi industri modest fashion saat ini.
Area Main Atrium hampir tidak pernah benar-benar sepi. Pengunjung datang silih berganti, menjelajahi koleksi busana muslim, aksesori, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan Lebaran lainnya yang ditawarkan oleh desainer dan pengusaha UMKM lokal.
Ramadan Rhapsody bukan sekadar event tahunan, melainkan semacam ‘pulse check’ untuk industri modest fashion di Indonesia. Dari cara orang datang, melihat, hingga memutuskan bertransaksi, semuanya mencerminkan bagaimana pasar sedang bergerak.
Di tengah daya beli yang cenderung melemah, Ramadan Rhapsody 2026 tetap berhasil mencatatkan omzet hingga Rp1,1 Miliar. Angka ini mungkin tidak melonjak drastis dibandingkan ekspektasi, tetapi justru terasa signifikan karena diraih dalam kondisi pasar yang sedang menahan pengeluaran.
Ketua Ramadan Rhapsody 2026, Leny Rafael, menyebut capaian ini sebagai sinyal positif bagi industri kreatif, khususnya sektor fashion. Ia menilai angka tersebut mampu menumbuhkan optimisme untuk penyelenggaraan di tahun berikutnya, sekaligus menunjukkan bahwa pasar masih ada dan tetap bergerak.
“Alhamdulillah, penyelenggaraan Ramadan Rhapsody 2026 berhasil mendatangkan omzet sebesar Rp1,1 Miliar sehingga membuat industri kreatif pada sektor fashion optimistis menyambut tahun berikutnya,” kata Leny dalam sambutannya, Sabtu (28/3/2026).
Secara keseluruhan terjadi peningkatan omzet sekitar 30% dibandingkan tahun lalu. Kategori yang paling banyak diburu tetap konsisten, yakni busana muslim, aksesori, serta berbagai kebutuhan penunjang penampilan saat Lebaran.
Dari sisi tren, preferensi konsumen juga cukup jelas selama event berlangsung. Tunik menjadi salah satu item yang paling diminati, sementara warna butter yellow muncul sebagai pilihan favorit karena memberikan kesan segar namun tetap elegan untuk momen hari raya.
Meski begitu, realitas ekonomi tetap terasa di balik capaian tersebut. Dana mengakui bahwa hasil tahun ini belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi, mengingat kondisi ekonomi global dan domestik yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Namun, kehati-hatian itu tidak serta-merta menghentikan konsumsi. Masyarakat tetap berbelanja, hanya saja dengan pertimbangan yang lebih matang, terutama untuk produk yang dianggap memiliki nilai dan kualitas lebih baik.
Selain fashion, sektor kecantikan juga ikut mencuri perhatian sepanjang penyelenggaraan. Brand seperti Red Berry dan Revlon hadir tidak hanya sebagai makeup partner, tetapi juga membawa pendekatan edukatif melalui talkshow, tips, dan tren makeup untuk Lebaran.
Ramadan Rhapsody tetap mempertahankan daya tarik utamanya sebagai ruang experience. Selain menghadirkan fashion show dari belasan desainer, event ini juga dilengkapi dengan workshop, talkshow, hingga penampilan musisi seperti Vina Panduwinata, Yovie & Nuno, dan Nabila Taqiyyah yang semakin menghidupkan suasana.
