URnews

Reduksi Alam Semesta dan Kemanusiaan, Menghadirkan Relasi Artificial

Firman Kurniawan S, Selasa, 8 Agustus 2023 20.27 | Waktu baca 6 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Reduksi Alam Semesta dan Kemanusiaan, Menghadirkan Relasi Artificial
Image: istimewa

Jakarta - Saat bumi sakit akibat global warming yang kemudian disebut oleh Sekjen PBB Antonio Guteres, sebagai global boiling tak mudah menjadikannya kembali sehat. Ini lantaran bumi, langit, beserta isinya, hadir di hadapan manusia bukan sebagai material maupun substansi yang dibangun oleh keutuhan penginderaan.

Mata yang menatap gulungan ombak, telinga yang menangkap deburannya dan hidung yang mencium aroma laut. Reduksinya menghentikan  aktivasi panca indera, menghadirkan keutuhan. Persepsi tentang laut maupun unsur bumi yang lain, hari ini makin dihadirkan sebagai data.

Foto di Instagram, rangkaian kata para influencer di Twitter, juga penilaian dengan mengetuk sejumlah bintang, di Google Maps. Alam semesta tampil sebagai efek aktivitas komunal, yang kemudian memaksa keseragaman persepsi individu.

Tapi gejala di atas, sama sekali bukan hal baru. Yang seakan muncul mendadak sebagai serangan kilat, jadi perilaku global. Juga tak tepat jika dianggap sebagai gejala parsial, yang menyertai maraknya penggunaan perangkat digital.

Gejala melipat alam semesta sebagai artikulasi, audisi dan visualisasi telah berlangsung lama. Bahkan sama tuanya dengan aktivitas ilmuwan dan pengembangan teknologi, yang mencoba memahami alam semesta lewat gejala-gejalanya.

Dua paragraf pembuka di atas, merupakan parafrase penulis yang disusun berdasar buah pikiran Karen Amstrong, 2022. Seluruhnya termuat lewat buku terbarunya, “Sacred Nature: How We Can Recover Our Bond with The Natural World”.

Pada pokoknya Amstrong menyebut, relasi manusia dengan alam semesta dalam keadaan tereduksi. Dari semula yang dihadirkan menggunakan keutuhan panca indera, dan tentunya diikuti penggunaan akal budi, menjadi pembentukan persepsi sebagai hasil tafsir.

Tafsir berdasarkan ilmu pengetahuan, tafsir melalui kitab suci, dan hari ini, dihadirkan lewat penggunaan teknologi informasi.

Proses menghadirkan alam semesta melalui teknologi informasi berlangsung singkat, bahkan ‘sepele’. Saat terdapat tempat menakjubkan, dihadiahi rating bintang 5.

Sedangkan jika sebaliknya, didepresiasi buruk. Ini pula yang sempat menghebohkan jagat digital, saat Putra Gubernur Jawa Barat, Emmeril Khan Mumtadz hanyut di Sungai Aare-Swiss.

Putra kesayangan Pak Gubernur yang kemudian ditemukan dalam keadaan wafat ini, mendorong sentimen buruk pengguna perangkat digital. Sungai Aare diberi rating rendah. Tentu saja mengganggu reputasinya. Penilaian diberikan tanpa benar-benar mempersepsi keadaan alam secara utuh.

Perilaku-perilaku sejenis semacam itu, hanya memperlebar jarak manusia dengan alam semesta. Manakala muncul tuntutan kepedulian memperbaiki tempat hidupnya, alih-alih tergerak untuk bertindak, yang mengemuka justru sikap skeptis. Alam semesta kian sakit. Keadaannya bakal baik jika relasi manusia dengannya, diperbaiki lebih dulu.

Reduksi pengalaman manusia oleh perangkat teknologi informasi, juga terjadi saat seseorang berelasi dengan manusia lainnya. Jika tak semua orang mampu membayangkannya, serial TV asal Inggris Black Mirror, mampu mengilutrasikannya dengan baik.

Lewat kisah-kisah yang umumnya berakhir kelam akibat terlalu bergantung pada teknologi, di session 3 episode 1 dikisahkan Lacie, perempuan muda yang jadi korban sistem rating. Pada episode yang berjudul ‘Nosedive’ itu, ditunjukkan cara kerja relasi manusia yang dimampatkan pengalamannya pada akumulasi rating.

Saat seseorang bertemu orang lainnya, rasa kagum, sepakat, apresiasi atau justru perasaan tak suka, dinyatakan dengan pemberian rating. Apresiasi untuk meghargai, dan depresiasi untuk menyesali.

Akibat sistem apresiasi dan depresiasi, total rating yang dikumpulkan seseorang terus berubah. Bergerak dari skala 1 hingga 5. Seluruhnya berimplikasi pada kehidupan sosial, maupun ekonomi seseorang. Makin tinggi rating, makin terhormat posisi sosial seseorang. Ini juga berpengaruh pada fasilitas ekonomi yang bakal dinikmatinya.

Dalam cerita itu, Lacie terobsesi menaikkan rating yang diperolehnya. Ini lantaran jika dirinya mampu menaikkan rating dari posisi 4.2 ke 4.5, ia berhak mengkonversi prestasinya sebagai potongan harga sebesar 20%, untuk menyewa rumah tinggal. Sedangkan Ches, teman sekantornya, juga terlibat pada kesibukan sejenis lantaran rating-nya yang terus terdepresiasi.

Depresiasi yang dipicu oleh perpisahan Ches dengan Gordon, pasangan sejenisnya. Perpisahan orang yang saling mencintai, dinilai buruk oleh lingkungan sosialnya. Depresiasi rating Ches yang terus terjadi, menyebabkannya dipecat dari tempatnya bekerja.

Rating tertentu yang diraih seseorang, jadi ukuran kelayakan menikmati fasilitas sosial maupun ekonomi tertentu. Dalam relasi yang diatur secara ini, mendorong seluruh penduduk mematutkan diri untuk memperoleh apresisasi dari orang lain.

Kepatutan sosial seseorang diproyeksikan sebagai penerimaan khalayak yang direpresentasikan sebagai rating. Makin dapat diterima tercermin dari rating yang diraih.

Seluruhnya terlepas dari keinginan diri yang otentik. Otentisitas sulit memperoleh ruang. Demi apresiasi, seseorang harus keluar dari dirinya, bahkan jika harus tak bahagia. Ini artinya, kebahagiaan kemudian bergeser pada peraihan rating.

Bukan pada pengalaman individual yang tersusun oleh panca indera dan proses akal budinya. Bahagiakah manusia hidup dengan cara itu?

George Herbert Mead, 1934, lewat bahan kuliah yang kemudian dibukukan oleh mahasiswa yang mengaguminya Herbert Blumer yang diberi judul sebagai ‘Mind, Self and Society, From the Standpoint of a Social Behaviorist’, mengungkapkan adanya interaksi simbolik antar manusia.

Manusia memperoleh makna simbol, perilaku-perilaku manusia adalah simbol lewat interaksi yang dilangsungkannya. Manakala interaksi terus berlanjut, tercapai makna yang signifikan.

Lewat interaksi ini pula, manusia memperoleh makna tentang dirinya, self. Diri manusia terdiri dari ‘saya yang otentik’, ini disebut I. Juga ‘saya yang sosial’, ini disebut sebagai me.

Antara I dan me selalu terlibat ketegangan: diri yang ingin mewujudkan secara otentik, sekaligus dibatasi oleh norma sosial yang memaksanya harus tampil mengikuti kehendak sosial.

Ini pula yang terjadi pada film Nosedive yang diproduksi tahun 2016 di atas. Manakala relasi manusia direduksi lewat penyematan rating, maka bukan keutuhan yang hadir.

1691500577-66BlackMirrorNosedive.jpgSumber: null

Akumulasi apresiasi atau anjloknya depresiasi, jadi yang terpenting. Manusia tak dilihat sebagai produk ruang dan waktu yang terus mengalami perubahan, melainkan material dan substansi yang siap dinilai secara real time.

Manakala orang lain hendak menyematkan rating, dirinya harus ditampilkan sesuai norma peninggi rating. Atau risikonya depresiasi. Perjuangan manusia akhirnya sebatas memenuhi apresiasi orang lain, yang direpresentasikan lewat rating.

Bukan mencapai perilaku otentik. ‘Saya yang otentik’ harus rela ditindas, digantikan ‘saya yang sosial’ demi rating yang terpelihara. Namun sayangnya manakala rating tinggi itu tercapai, seluruhnya hanya pengalaman artificial. Bukan keutuhan pengalaman manusia.

Itu pulalah yang akhirnya dialami Lacie. Depresiasi demi depresiasi terus dialami, bahkan sempat menjebloskannya ke penjara kota. Ini lantaran dalam satu upaya memburu rating, Lacie terlibat keributan di bandara. Pada titik inilah justru Lacie disadarkan: dirinya berbahagia saat tak peduli lagi pada rating yang disematkan orang lain. Lacie dapat tampil otentik.

Baik tulisan Karen Amstrong maupun serial Black Mirror Nosedive di atas, diilutrasikan kian aktual lewat serial ‘Celebrity’. Serial bergenre drama asal Korea ini, merupakan karya sutradara Kim Cheol Kyu dan penulis cerita Kim Yi Young, yang diedarkan pertama kalinya pada 30 Juni 2023.

1691500701-b89827d4e13ff9b099fc532cf59034f8.jpgSumber: null

Sebagaimana keprihatinan Amstrong maupun Film Nosedive, yang mempersoalkan reduksi pengalaman terhadap alam semesta maupun manusia, serial ini juga mengisahkan manusia yang dinilai sekedar lewat tampilannnya di perangkat teknologi.

Jalan cerita Celebrity berpusat pada Seo Ah Ri, BINIIMON dan Gabin Society. Seluruhnya diwarnai oleh hasrat, etos maupun intrik membangun popularitas. Juga niat yang kuat menghancurkan popularitas pesaing.

Dalam ke-12 episodenya, emosi penonton dengan lihai dipermainkan: senang, gemas, marah, hadir silih berganti. Namun semuanya berujung pada munculnya kesadaran: yang tampil di hadapan perangkat digital alih-alih tak utuh, bahkan tak punya pijakan kebenaran. Seluruhnya artificial.

Mungkin popularitas yang memang berhasil diraih, setidaknya menurut persepsi yang memperjuangkannya. Namun lantaran tak terbangun oleh keutuhan pengalaman manusia, hanya kepuasan ilusif yang didapat. Semuanya menyisakan ruang hampa.

Inikah sisi gelap teknologi informasi: sekadar menampilkan ilusi kesempurnaan, seraya menyembunyikan yang cacat? Manakala pengalaman inderawi yang utuh diganti oleh yang artificial, tak bisa dielakkan: hanya kehampaan yang diraih. Inilah realitas hari ini, yang jadi perilaku yang kian menggejala di tengah peradaban.

Dan jika memang itu ujungnya, manusia makin jauh dari kenyataan. Di hadapan teknologi informasi, bumi dan manusia tak lain pasien. Dengan penyakit yang sulit disembuhkan.

*) Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital

**) Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis, bukan pandangan Urbanasia

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait