URnews

Usung Proyek Energi Listrik Bersih, Tim Madrasah TechnoNatura Depok Juara Kompetisi Inovasi Samsung

Ken Yunita, Senin, 18 September 2023 11.22 | Waktu baca 4 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Usung Proyek Energi Listrik Bersih, Tim Madrasah TechnoNatura Depok Juara Kompetisi Inovasi Samsung
Image: Kemenag

Jakarta - Prestasi diraih oleh Tim Madrasah TechnoNatura Depok saat mengikuti Samsung Solve for Tomorrow (SSFT) 2023. Mereka mengusung proyek Power on Demand untuk menciptakan energi listrik bersih.

Tim yang beranggotakan Abdurrohman Haniyah, Emirrasya Mohamad Mayko Saleh, Muhammad Ikmal Taqi, dan Fariz Marsal Musyaffa ini telah menyisihkan ratusan ide yang masuk ke dalam kompetisi. Mereka pun berhak atas hadiah produk Samsung senilai Rp 150 juta.

SSFT adalah wadah untuk mendorong anak-anak muda mengemukakan ide-ide yang dapat membawa perubahan. Lewat program ini, Samsung ingin anak-anak di bangku SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah mampu berinovasi sejak dini.

“Potensi anak-anak muda Indonesia sangat besar menjadi generasi penerus dan calon pemimpin masa depan untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Simon Lee, President Samsung Electronics Indonesia saat pengumuman pemenang SSFT di   di The Habitate, Jakarta, Rabu (13/9/2023).

Dalam SSFT kali ini, ada 309 ide yang dikirimkan. Dari jumlah itu kemudian dipilih 40 semi-finalis yang kemudian mengikuti boot camp mentoring dan pelatihan design thinking untuk mempertajam idenya menjadi perencanaan yang efektif.

Dari 40, tim diperkecil lagi menjadi 15. Mereka bertarung di babak final. Mereka melakukan sesi presentasi dan interview dengan dewan juri dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Kementerian Agama, Pusat Penelitian Teknologi Informasi & Komunikasi – Institute Teknologi Bandung, dan tim dari Samsung.

Tim Madrasah TechnoNatura Depok yang juga dikenal dengan Tim Dasher ini mengembangkan teknologi pembangkit listrik berbasis biomassa yang menghasilkan hidrogen dengan proses gasifikasi dan terkoneksi dengan Artificial Intelligence (AI).

Proses kerjanya dimulai dari masuknya pelet biomassa ke dalam reaktor gasifikasi. Proses gasifikasi ini terjadi pada suhu tinggi sekitar 700-1000 derajat Celcius. Gas yang ada akan terpisah lalu membentuk SynGas dengan unsur H2, CO2, CO, CH4. SynGas yang sudah murni bisa keluar dari reaktor gasifikasi.

Pada ajang ini, Tim Dasher juga mengenalkan alat bernama H2 Nose. Ini merupakan alat pendeteksi zat berupa aroma, bau, dan gas. Alat ini dapat memudahkan proyek pengolahan biomassa menjadi energi dengan identifikasi awal biomassa.

H2 Nose merupakan alat berbasis sensor. Di dalamnya terdapat 16 sensor yang dapat mendeteksi dan menganalisis jenis dari bahan yang tertangkap oleh sensor yang ada. Di sinilah AI bekerja dalam proses produksi energi tersebut.

Semangat yang dibawa oleh Tim Dasher adalah transisi energi dari energi berbasis fosil ke energi yang ramah lingkungan. Mereka sangat menginginkan Indonesia menjadi negara yang mandiri energi.

"Kami janji 2045 negara ini mandiri, kami memberi solusi produksi hidrogen berbasis AI," ungkap mereka saat sesi presentasi.

Mereka juga mengungkapkan inovasi ini dapat digunakan dalam sektor industri energi, pemerintahan maupun masyarakat umum.

"Hasil kami berpotensi digunakan oleh Industri energi, pemerintah dan umum. Kita juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan," tambah mereka.

Tawaran kerja sama juga menghampiri mereka, salah satunya adalah kerja sama dengan PT After Oil yang memiliki proyek energi di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam hal ini Tim Dasher berperan sebagai pihak yang mengoptimalisasi gasifikasi.

"Kita dari awal kerja sama dengan PT After Oil, kebetulan mereka punya proyek di IKN, kemudian kita diajak untuk mengoptimalisasi gasifikasi mereka," ungkap mereka.

Plt Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Muchammad Sidik Sisdiyanto mengaku senang para siswa madrasah diberi kesempatan melalui Samsung Solve for Tomorrow untuk menunjukkan ide dan kreativitas mereka dalam memecahkan masalah-masalah sosial di masyarakat.

“Samsung Solve for Tomorrow membuktikan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat bisa datang dari siapa saja, asalkan punya keberanian serta kemauan untuk belajar dan memanfaatkan teknologi untuk merancang solusi yang menakjubkan dan bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

"Kompetisi ini adalah peluang yang sangat baik bagi dunia pendidikan madrasah di Indonesia untuk terus menggali potensi anak-anak muda untuk masa depan yang lebih baik,” sambungnya.

Juara kedua dari SSFT 2023 adalah tim RGB dari SMA Negeri 8 Jakarta. Tim ini menciptakan KeywordRBG, aplikasi belajar yang mengintegrasikan AI dan gamification untuk membuat kegiatan belajar di kelas semakin menyenangkan.

Juara III, kelompok Qalam Malaq dari SMA Negeri 78 Jakarta yang menciptakan solusi Microalgae Aquarium (Malaq) berisi microalgae yang efektif mengubah karbondioksida menjadi oksigen, cocok untuk menangani masalah polusi udara di perkotaan.

Kedua tim masing-masing mendapat hadiah produk Samsung senilai senilai Rp 70 juta, runner up kedua senilai Rp 45 juta. Ada juga pemenang People Choice yang mendapatkan hadiah produk Samsung senilai Rp 25 juta.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait