beautydoozy skinner
urbanasia skinner
URstyle

Peneliti UGM: Eucalyptus Belum Terbukti Bisa Bunuh Virus Corona

Nivita Saldyni,
10 Juli 2020 10.59.21 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Peneliti UGM: Eucalyptus Belum Terbukti Bisa Bunuh Virus Corona
Image: Inovasi produk eucalyptus dari Kementerian Pertanian (Sumber : Balitbangtan Kementan)

Yogyakarta - Peneliti UGM, Rini Pujiarti, Ph.D., menyebut eucalyptus belum terbukti bisa membunuh virus corona. Sebab masih belum ada uji klinis yang membuktikan bahwa eucalyptus yang diklaim bisa jadi obat COVID-19 ini bisa membunuh virus corona.

Menurut Dosen Fakultas Kehutanan UGM ini, butuh penelitian lanjutan untuk membuktikannya. Sementara itu hingga saat ini baru penelitian in vitro dan molecular docking atau simulasi komputer yang telah dilakukan dengan menyamakan molekul zat aktif pada eucalyptus dengan molekul protein virus SARS-CoV-2.

"Eucalyptus memang memiliki potensi sebagai antivirus karena adanya kandungan zat aktif pada minyak atsiri eucalyptus. Namun, jika diklaim bahwa eucalyptus dapat membunuh virus corona penyebab COVID-19 masih perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut," kata Rini dalam rilis resmi, Jumat (10/7/2020).

Kendati demikian, ia tetap menilai hal ini sebagai terobosan yang baik untuk memanfaatkan bahan alam sebagai antivirus COVID-19, yaitu tanaman eucalyptus. Sebab eucalyptus memiliki zat aktif 1,8-cineole atau eucalyptol yang berpotensi sebagai anti COVID-19.

Nah, zat aktif ini adalah komponen kimia utama dari minyak atsiri eucalyptus yang memiliki bioaktivitas sebagai antivirus. Tapi gak menutup kemungkinan juga nih kalau efektivitas muncul akibat sinergi efek dari beberapa senyawa yang ada pada minyak atsiri eucalyptus sendiri.

Perlu Urbanreaders ketahui, kayu putih dan eucalyptus bukan tanaman yang sama ya. Meski satu family, dua tanaman ini benar-benar berbeda. Sebab, minyak kayu putih yang ada di Indonesia diperoleh dari distilasi daun Melaleuca spp., sedangkan minyak eucalyptus diperoleh dari distilasi daun Eucalyptus spp.

Menurut Rini, eucalyptus dan minyak atsiri eucalyptus udah digunakan sebagai pengobatan tradisional sejak lama. Ekstrak daun eucalyptus ini biasanya digunakan secara langsung untuk meredakan flu, asma, dan masalah pernafasan lain, meringankan nyeri tubuh, mengatasi masalah flak gigi dan pendarahan pada mulut, gusi, dan gigi, sebagai aromateraphy untuk mengurangi stres, mengatasi gigitan serangga, dan anti nyamuk.

Minyak atsiri eucalyptus juga bermanfaat sebagai antibakteri, antivirus, antioksidan, antiinflamasi, dan antioksidan.

"Pengembangan tanaman ini sebagai produk kesehatan dan lainnya sangat prospektif, beberapa penelitian yang telah saya lakukan terhadap minyak atsiri eucalyptus menunjukkan bahwa eucalyptus memiliki bioakivitas sebagai repelan terhadap serangga, anti rayap, dan anti jamur," pungkasnya Rini.

Sementara itu hingga kini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan terus mengembangkan produk eucalyptus. Mulai dari roll on, inhaler, dan kalung aromaterapi. Produk kesehatan itu kini telah mendapat izin Badan POM untuk kriteria produk jamu.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait