menu
user
URnews

Siswi di Prancis Akui Berbohong soal Guru Prancis yang Dipenggal

Eronika Dwi,
sekitar 1 bulan yang lalu
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Siswi di Prancis Akui Berbohong soal Guru Prancis yang Dipenggal
Image: Samuel Paty guru sejarah dan prancis yang tewas dipenggal karena kebohongan siswinya. (Twitter @Sifaoui)

Jakarta - Seorang siswi di Prancis mengaku telah berbohong dan menyebarkan klaim palsu terhadap guru sejarah dan bahasa Prancis, Samuel Paty yang dibunuh dengan dipenggal karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas.

"Dia (siswi tersebut) berbohong karena merasa ceroboh, karena teman-teman sekelasnya meminta dia menjadi juru bicara," kata Mbeko Tabula, pengacara siswa itu, dikutip dari AFP, Rabu (10/3/2021).

Sebelumnya, siswi tersebut mengklaim bahwa Samuel telah meminta murid beragama Islam untuk meninggalkan kelas saat dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad. Padahal yang sebenarnya terjadi, Samuel tidak ada di kelas tersebut.

Akibat klaim tersebut, sang ayah dari siswi itu langsung mengajukan gugatan hukum. Sang ayah juga memimpin kampanye daring untuk melawan Samuel.

Sang ayah mengunggah video di Facebook yang menyerukan protes terhadap Samuel. Dia pun mendapat dukungan dari beberapa pihak, termasuk pelaku pemenggalan bernama Abdullah Anzorov.

Abdullah, pemuda berusia 18 tahun asal Chechnya sekaligus seorang ekstremis Islam itu diketahui sempat bertukar pesan melalui WhatsApp dengan ayah siswi tersebut

Penyerangan itu dilakukan Abdullah saat Samuel dalam perjalan pulang dari sekolah tempatnya mengajar di Conflans-Sainte-Honorine, Prancis pada Oktober lalu.

Polisi pun menambak mati Abdullah tak lama setelah serangan tersebut. Sementara sang ayah dan 16 orang lainnya ditahan atas pembunuhan Samuel.

Selain itu, lima siswa sekolah tersebut juga ditahan karena dicurigai membantu Abdullah dalam menemukan keberadaan Samuel dengan memberi imbalan uang.

Sementara siswi yang menjadi awal terjadinya pemenggalan tersebut dituduh melakukan pencemaran nama baik.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait