Surabaya - Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengaku masih belum berani membuka sekolah tatap muka di wilayahnya. Kira-kira kenapa ya alasannya?

Risma mengungkapkan salah satu alasan Pemkot Surabaya belum berani menggelar sekolah tatap muka karena proses swab untuk warga sekolah, baik guru, petugas sekolah, hingga para siswa belum rampung.

“Ndak ini masih diswab (guru),”kata Risma kepada wartawan di tengah kunjungan kerjanya di Taman Suroboyo, Jumat (13/11/2020).

Risma mengatakan ia belum berani berkomentar karena kondisi pandemi yang masih tak menentu. Seperti halnya beberapa waktu lalu, usai ribuan guru SD dan SMP di Surabaya menjalani swab.

“Saya belum berani ngomong lagi karena dulu sudah kami siapkan tapi ternyata kemudian banyak guru yang positif (COVID-19). Saya belum berani (beri kepastian), nanti kita lihat aja,” pungkasnya.

Sebelumnya Pemkot mengatakan sebanyak 7.407 guru SD dan SMP, termasuk petugas sekolah, seperti petugas kebersihan, keamanan dan TU serta petugas lainnya sudah menjalani swab. Namun sayangnya ada 126 orang yang invalid sehingga harus swab ulang.

“Dari 7.407 guru yang dites swab, hasilnya yang positif 180 guru dan yang negatif 7.101 guru. Bagi yang positif langsung kami rawat dan saat ini mereka sudah sembuh semuanya. Kemudian sisanya sebanyak 126 guru masih dinyatakan invalid, sehingga mereka akan dites kembali untuk memastikan kesehatannya,” kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara, Jumat (5/11/2020) lalu.

Sementara itu Dinas Pendidikan Kota Surabaya juga belum membeberkan data mana saja sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Jika daftar tersebut telah diserahkan, maka Satgas COVID-19 dan Dinas Kesehatan serta Dinas Pendidikan Kota Surabaya akan merapatkan secara teknis uji coba sekolah tatap muka guys.

“Tentunya, nanti siswa-siswa ini akan dilakukan tes swab terlebih dahulu. Ketika siswa itu dites swab, maka orang tuanya akan menyesuaikan atau akan dites swab juga,” pungkas Febri.

Komentar
paper plane