URstyle

APPMI Dorong Kemandirian Ekonomi di Bidang Fashion Berdasarkan Identitas Kultural

Urbanasia, Sabtu, 28 Maret 2026 22.17 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
APPMI Dorong Kemandirian Ekonomi di Bidang Fashion Berdasarkan Identitas Kultural
Image: Koleksi Melookmel pada Pra Tendance APPMI 2027 di gelaran Ramadan Runway 2026. (Ramadan Runway)

Jakarta - Di tengah ritme dunia yang makin cepat, fashion justru menemukan cara untuk melambat: mendengarkan, meresapi, lalu tumbuh. 

Lewat parade busana Pra Tendance 2027 bertajuk Eternal Bloom, Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) menghadirkan bukan sekadar koleksi, tapi arah baru bagaimana fashion akan bergerak ke depan.

Digelar dalam rangkaian Ramadan Runway 2026 di Kota Kasablanka, Pra Tendance menjadi semacam ‘kompas’ bagi para pelaku industri kreatif, untuk membaca selera pasar masa depan. 

Bukan tren sesaat, tapi panduan yang berangkat dari akar budaya, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih relevan dengan generasi hari ini.

Di sinilah titik menariknya. Alih-alih mengejar globalisasi secara mentah, fashion Indonesia justru bergerak dari dalam. Dari heritage, dari cerita, dari identitas yang sudah lama hidup tapi kini diolah ulang.

“Heritage dari kekayaan kultur di setiap provinsi di Indonesia menjadi sumber inspirasi sehingga tidak hanya digunakan tetapi pula ditransformasi agar dapat digemari anak muda lalu menembus pasar nasional, kemudian internasional. Dengan begitu lahirlah kemandirian ekonomi dari sektor fashion berdasarkan identitas kultural,” ujar Ketua Umum APPMI, Poppy Dharsono, Jumat (27/3/2026). 

Pernyataan itu seperti jadi benang merah dari keseluruhan konsep Eternal Bloom. Bunga yang mekar bukan cuma visual. Ia adalah metafora. Tentang proses, tentang perubahan, tentang fase hidup yang terus bergerak tanpa henti.

Creative Director Ramadan Runway 2026, Ariy Arka, menerjemahkan gagasan itu ke dalam pendekatan desain yang terasa hidup. 

Siluet dibuat seolah bertumbuh, layer terbuka perlahan seperti kelopak, material terasa ringan dan ‘bernapas’, sementara warna-warna gradasi menggambarkan perjalanan dari gelap menuju terang.

“Eternal Bloom merupakan perwujudan dari keindahan nan tidak pernah berhenti tumbuh. Ia bukan sekadar bunga mekar, melainkan simbol dari perjalanan manusia terus berkembang, bertransformasi, dan menemukan bentuk terbaiknya dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Pendekatan ini membuat fashion terasa lebih personal. Bukan lagi sekadar apa yang dikenakan, tapi bagaimana seseorang sedang berada dalam fase tertentu dalam hidupnya. Ada ruang untuk rapuh, ada ruang untuk bangkit, dan semuanya punya bentuk visualnya sendiri.

“Lebih dari sekadar koleksi, Eternal Bloom adalah sebuah narasi. Ia mengajak setiap individu untuk melihat fashion bukan hanya sebagai busana untuk dikenakan, tetapi sebagai refleksi dari proses menjadi, a continuous becoming,” lanjut Ariy.

Narasi itu kemudian diterjemahkan lebih konkret lewat lima sub-tema yang jadi highlight Pra Tendance 2027. 

Ada Heat-Resistant Tailor yang mengedepankan tailoring nyaman untuk iklim tropis, Nomadic Resort Wear yang fleksibel mengikuti gaya hidup dinamis, hingga Reimagined Stripe yang mengolah ulang motif klasik jadi lebih kontemporer.

Di sisi lain, Organic Texture dan Natured Led Color membawa eksplorasi yang lebih dekat dengan alam, baik dari segi material maupun palet warna. 

Tekstur yang terinspirasi dari kayu, tanah, hingga batu, berpadu dengan warna-warna yang terasa seperti diambil langsung dari lanskap hutan.

Semua ini terasa seperti satu pesan besar: fashion tidak lagi berdiri sendiri. Ia terhubung dengan cara hidup, cara berpikir, bahkan cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait