Bukan Cuma Haus, Kekurangan Air Minum Berkualitas Bisa Ganggu Kinerja Ginjal

Jakarta – Kekurangan cairan kerap dipahami sebatas rasa haus. Padahal, dehidrasi dapat berdampak lebih luas, termasuk mengganggu kinerja ginjal bila terjadi berulang dan dalam jangka panjang.
Asupan cairan harian berperan penting menjaga keseimbangan metabolisme, fungsi organ, hingga kemampuan tubuh untuk tetap fokus menjalani aktivitas.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam Dr. Cynthia Natalia, tubuh masih mampu beradaptasi ketika kekurangan cairan dalam waktu singkat. Namun, setelah beberapa jam tanpa hidrasi, kadar cairan akan menurun secara perlahan.
Kondisi ini semakin terasa saat tubuh tidak terhidrasi selama sekitar tiga jam. Sejumlah gejala ringan seperti sakit kepala, rasa lelah, kulit lebih kering, hingga warna urine yang semakin pekat menjadi tanda awal dehidrasi.
Jika dibiarkan, kata Cynthia, kebiasaan kurang minum air putih dapat berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.
“Kurang minum air putih bukan hanya soal rasa haus, tapi juga berdampak pada kinerja tubuh secara menyeluruh,” ujar Cynthia, dikutip dari laman resmi Rumah Sakit Tzu Chi Hospital.
Salah satu organ yang paling terdampak adalah ginjal. Dehidrasi kronis dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal akibat penumpukan mineral yang tidak terlarut dengan baik.
Selain itu, gangguan konsentrasi dan kelelahan berkepanjangan juga kerap muncul, terutama pada pekerja aktif dan kelompok usia lanjut.
Tak Hanya Cukup, Air Minum Juga Harus Berkualitas
Menjaga hidrasi ideal dianjurkan dilakukan secara berkala, setidaknya setiap satu hingga dua jam. Namun, kuantitas saja tidak cukup. Jenis air minum yang dikonsumsi juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan ginjal.
Penelitian yang dilakukan oleh Bint-E-Zahra, ahli biologi molekuler dari Institute of Molecular Biology & Biotechnology Bahauddin Zakariya University, Pakistan, menunjukkan bahwa konsumsi air minum murni berkaitan dengan penurunan risiko gangguan fungsi ginjal dibandingkan minuman berperisa dan mengandung gula.
Temuan ini menegaskan pentingnya memilih air minum yang aman dan minim kontaminan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Dalam konteks tersebut, Amidis hadir sebagai air minum murni yang diproses melalui teknologi multifiltrasi dan distilasi. Proses pemurnian dilakukan dengan pemasakan pada suhu tinggi untuk memastikan air yang dihasilkan bebas dari kontaminan.
Head of Marketing Amidis, Astrid Adelaide Siregar menuturkan, Amidis adalah satu-satunya air murni yang diproses melalui teknologi multifiltrasi dan dimasak dengan pemanasan 110 derajat celcius (distilasi).
“Uap air yang dihasilkan benar-benar murni untuk dikonsumsi karena tidak ada kontaminan apapun,” ujar Astrid .
Selain menekankan kualitas air, Amidis juga menghadirkan galon sekali pakai berukuran 15 liter yang telah berlabel BPA Free, sebagai solusi praktis dan higienis bagi keluarga modern yang mengutamakan keamanan konsumsi air minum.
“Memastikan Keluarga Indonesia mendapatkan air minum dengan kualitas terbaik merupakan visi dan misi dari Amidis,” ungkap Susilo Gunadi, Commercial Director PT Amidis Tirta Mulia.
