URstyle

Dari Wastra ke Evo Fabric, Cara Baru Desainer Muda Baca Masa Depan Fashion

Urbanasia, Minggu, 5 April 2026 22.50 | Waktu baca 2 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Dari Wastra ke Evo Fabric, Cara Baru Desainer Muda Baca Masa Depan Fashion
Image: Para finalis IFPC 2026 dan desainer SFA di Ramadan Rhapsody 2026. (Ist)

Jakarta - Di tengah geliat industri fashion yang terus berubah, cara desainer melihat kain pun ikut berevolusi. Kalau dulu wastra identik dengan nilai tradisi, kini generasi baru mulai membacanya ulang lewat pendekatan yang lebih adaptif dan eksperimental.

Hal ini terasa di panggung Indonesia Fashionpreneur Competition (IFPC) 2026, yang menjadi bagian dari Ramadan Rhapsody 2026. 

Sepuluh finalis tampil membawa pendekatan baru lewat konsep Evo Fabric, sebuah cara melihat kain bukan lagi sebagai bahan dasar, tapi sebagai medium inovasi.

Lewat Evo Fabric, para desainer muda mencoba ‘menghidupkan’ wastra dengan pendekatan yang lebih dinamis. Mereka mengolah kain menjadi bentuk yang tidak hanya menarik secara visual, tapi juga punya fungsi dan nilai yang lebih luas.

Founder dan CEO Sparks Fashion Academy, Floery Dwi Mustika, menjelaskan bahwa pendekatan ini memang dirancang untuk mendorong eksplorasi lebih jauh. 

“Peserta IFPC 2026 diajak membuat konsep desain kain yang selaras dengan tema ‘The Reconstruct Garden’ sebagai refleksi kehidupan, pertumbuhan, dan regenerasi,” katanya, dikutip Minggu (5/4/2026). 

Di runway, tiap koleksi terasa seperti interpretasi baru atas kain. Ada yang bermain di struktur, ada yang menonjolkan tekstur, dan ada juga yang mengeksplorasi teknik hingga menghasilkan siluet yang tidak biasa.

Evo Fabric sendiri bukan sekadar konsep visual. Ia masuk dalam kategori performance fabric, yang berarti dirancang dengan fungsi tertentu, lebih tahan, lebih nyaman, dan bisa beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya.

Pendekatan ini jadi menarik karena menggeser cara pandang terhadap fashion. Dari yang sebelumnya fokus pada estetika, kini bergerak ke arah yang lebih menyeluruh, yang menggabungkan fungsi, teknologi, dan keberlanjutan.

“Evo Fabric bukan tren sesaat, tapi representasi masa depan fashion yang lebih bertanggung jawab,” lanjut Floery.

Selain karya para finalis, panggung juga diisi koleksi desainer dari Sparks Fashion Academy yang menampilkan siluet maksimalis, detail fragmented, dan styling asimetris. Semua koleksi terasa seperti bagian dari satu narasi besar tentang transformasi.

Di titik ini, jelas terlihat bahwa desainer muda Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti tren. Mereka mulai membangun cara berpikir baru, termasuk dalam membaca ulang wastra sebagai bagian dari masa depan fashion.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait