Festival Lampion, Perayaan Budaya Tanpa Aliran Listrik Khas Singosari Malang

Malang - Gegap gempita perayaan budaya biasanya identik dengen gemerlap lampu dan suara sound system yang menggema. Namun tidak dengan Festival Lampion yang menjadi ikon Singosari, Kabupaten Malang.
Festival satu ini bisa dibilang cukup unik. Peserta pawai lampion tak boleh menggunakan mobil truck atau bak terbuka untuk mengusung lampion yang telah dibuat.
Mereka hanya diizinkan menggunakan kendaraan non mesin seperti gerobak, becak atau dengan cara dipikul.
Pun mereka dilarang menggunakan sound sistem, musik atau bunyi bunyian. Yang diizinkan adalah segala jenis perkusi atau alat musik tradisional yang tidak menggunakan listrik.
Baca juga: Wow, Museum Angkut Datangkan Helikopter Legendaris Kepresidenan RI
Juga dilarang membawa sajam, senpi, miras, narkoba, kembang api, petasan dan flare. Hebatnya lagi, seluruh peserta diwajibkan membawa kantong sampah untuk menjaga kebersihan rute.
Festival Lampion Singosari ini menjadi destinasi wisata yang baru dan menjadi ikon bagi Kecamatan Singosari. Untuk tahun ini, festival diadakan dalam rangka menyemarakkan hari jadi Kabupaten Malang, mengambil tema, ' Singosari Bangkit'. Diikuti 24 peserta, dari seluruh desa dan UPT yang ada di Kecamatan Singosari.
Bupati Malang, Drs HM Sanusi MM., juga tampak hadir pada puncak acara yang di pusatkan di Lapangan Tumapel, Singosari, kemarin (17/11/2019).
Dalam sambutannya, Bupati memberikan apresiasi pada pelaksanaan Singosari Lampion Festival yang telah memasuki pelaksanaan di tahun ketiga.
Baca juga: Viral di Twitter, Keindahan Pantai Oetune Indonesia Ini Mirip Gurun Sahara!
Ia berharap, kegiatan unik semacam ini dapat dilaksanakan secara rutin, dan mampu dikemas menjadi salah satu obyek menarik yang memiliki nilai jual bagi para wisatawan.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya menyambut baik kegiatan ini, kedepan jika pelaksanaan ini terus dikembangkan. Festival lampion ini bisa menjadi destinasi wisata di Kecamatan Singosari, dan kegiatan ini bisa menggerakkan perekonomian di masyarakat. Khususnya di wilayah Singosari," ucapnya.
Sanusi menjelaskan, pembangunan di Kabupaten Malang secara jelas telah ditentukan dengan mengedepankan tiga strategi utama, salah satunya menempatkan bidang pariwisata sebagai fokus pembangunan.
Tak hanya bicara tentang obyek wisata alam atau obyek wisata buatan, seiring berjalannya waktu, pola pariwisata saat ini juga mengedepankan event pariwisata serta fasilitas dan infrastruktur pariwisata sebagai bagian penting dalam menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
Baca juga: Rekomendasi Sunday Brunch di Hotel Bandung, Bisa Dicoba Nih
“Terkait fasilitas dan infrastruktur, tugas utama ada di tangan pemerintah, dengan tetap melibatkan peran semua pihak untuk mempercepat pencapaiannya. Sedangkan, untuk event pariwisata tentu lebih terbuka lagi, karena siapapun dapat menjadi inisiatornya," katanya.
Festival lampiron ini adalah satu-satunya yang secara rutin diselenggarakan di Kabupaten Malang. Agenda ini dikemas dengan konsep memadukan budaya, dan keterlibatan semua komponen, utamanya dari kalangan usia muda.
“Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi obyek wisata berbasis event yang semakin menarik. Saya juga berharap agar kegiatan semacam ini dapat direplikasi dengan model yang berbeda, atau dengan kata lain mampu menampilkan kearifan lokal di masing-masing kecamatan di Kabupaten Malang," pungkasnya.