URstyle

Live Draping Jadi Sorotan di IFPC 2026, Lahirkan Desainer Muda Berdaya Saing

Urbanasia, Minggu, 29 Maret 2026 22.52 | Waktu baca 3 menit
WhatsApp ShareFacebook ShareTwitter ShareLinkedin Share
Live Draping Jadi Sorotan di IFPC 2026, Lahirkan Desainer Muda Berdaya Saing
Image: Para finalis IFPC 2026 di panggung Ramadan Runway. (Urbanasia)

Jakarta - Ada yang berbeda dari gelaran Indonesia Fashionpreneur Competition 2026 tahun ini. Bukan hanya soal koleksi atau konsep desain, tetapi juga cara para finalis mengeksekusi ide mereka secara langsung di atas panggung.

Sembilan finalis terlihat sibuk merangkai wastra bermotif megamendung khas Cirebon dalam sesi Live Draping. Momen ini menjadi salah satu bagian paling ditunggu karena dilakukan secara spontan di atas runway Ramadan Runway 2026.

Kompetisi hasil kolaborasi Sparks Fashion Academy dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia ini mengangkat tema ‘The Reconstruct Garden’ dengan pendekatan Evo Fabric. 

Konsep ini mendorong peserta untuk tidak hanya mendesain, tetapi juga mengolah kain menjadi sesuatu yang baru dan memiliki nilai lebih.

Founder dan CEO SFA, Floery Dwi Mustika, menjelaskan bahwa Live Draping menjadi pembeda utama dalam penyelenggaraan tahun ini. 

“Live Draping itu jadi keunikan penyelenggaraan IFPC 2026 dan menjadi aspek penting dalam penilaian juri,” katanya usai penjurian di Mall Kota Kasablanka, Sabtu (28/3/2026).

Lebih jauh, konsep Evo Fabric membuka ruang eksplorasi yang lebih luas bagi para peserta. Mereka tidak hanya dituntut menghadirkan visual menarik, tetapi juga menciptakan kain dengan karakter unik yang kemudian diwujudkan langsung di atas panggung sebagai bagian dari pertunjukan.

Dari sembilan finalis yang tampil, dewan juri yang terdiri dari Leny Rafael, Sally Giovanny, dan Elissa CH akhirnya menetapkan tiga pemenang. 

Edita meraih posisi ketiga dengan nilai 7,75, disusul Zayyan di posisi kedua dengan nilai 7,93, sementara Devina keluar sebagai juara pertama dengan nilai sempurna di angka 8.

Para pemenang tidak hanya mendapatkan hadiah uang tunai, tetapi juga beasiswa pendidikan yang membuka peluang lebih besar untuk berkembang di industri fashion. 

Bagi Floery, kompetisi ini memang dirancang tidak sekadar mencari desain terbaik, tetapi juga membentuk generasi baru pelaku industri.

“Tidak hanya produk atau desain, tapi juga bisnis dan brand-nya,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa IFPC sejak awal diposisikan sebagai ajang untuk melahirkan fashionpreneur muda yang siap bersaing.

Selain kompetisi, hari kedelapan Ramadan Runway 2026 juga diisi dengan fashion show bertajuk ‘The Reconstruct Garden’ yang menampilkan eksplorasi desain dari siswa dan alumni SFA. 

Koleksi yang dihadirkan mengusung pendekatan siluet maksimalis dengan detail fragmented dan styling asimetris yang menciptakan tampilan segar dan eksperimental.

Melalui karya-karya tersebut, terlihat bagaimana proses rekonstruksi menjadi inti dari setiap desain. Bahwa keindahan tidak selalu hadir dari sesuatu yang baru, tetapi bisa lahir kembali dari transformasi yang kreatif dan berani.

Delapan desainer turut ambil bagian dalam fashion show ini, mulai dari Cheryl Aziza hingga Cutemonster by Ninditha, masing-masing membawa interpretasi unik terhadap tema yang sama. 

Keseluruhan rangkaian ini memperlihatkan bahwa industri fashion tidak hanya bergerak di ranah estetika, tetapi juga terus berkembang sebagai ruang eksplorasi ide dan bisnis yang berkelanjutan.

Komentar
paper plane

Berita Terkait
    Berita Terkait