Perlindungan Dengue di Tempat Kerja Jadi Kunci Jaga Produktivitas Karyawan

Jakarta – Ancaman dengue kini tak lagi bisa dipandang sebagai isu kesehatan semata. Di tengah aktivitas kerja yang padat dan mobilitas tinggi, penyakit ini justru menjadi salah satu faktor yang berpotensi mengganggu produktivitas karyawan dan keberlangsungan operasional perusahaan.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, hingga pertengahan April 2026 terdapat lebih dari 30 ribu kasus infeksi dengue di Indonesia yang tersebar di ratusan kabupaten dan kota.
Angka ini menunjukkan bahwa risiko penularan masih tinggi, termasuk di kelompok usia produktif yang aktif bekerja setiap hari.
Kondisi ini mendorong perubahan cara pandang, bahwa perlindungan terhadap dengue perlu menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga performa kerja.
Menurut M. Yusuf, Direktur Bina Pengujian K3 Kementerian Ketenagakerjaan RI, dengue kini juga berkaitan langsung dengan aspek keselamatan kerja.
“Dengue tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu kesehatan, melainkan juga merupakan bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja. Tempat kerja memiliki potensi menjadi lokasi risiko penularan apabila tidak dikelola secara optimal,” jelasnya, dalam acara SIAP Lawan Dengue di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Upaya pencegahan di lingkungan kerja pun menjadi semakin relevan. Mulai dari menjaga kebersihan area kerja, pemberantasan sarang nyamuk secara rutin, hingga edukasi karyawan tentang perilaku hidup bersih dan sehat menjadi langkah yang perlu dilakukan secara konsisten dan terintegrasi.
Dari sisi industri kesehatan, pendekatan ini juga dinilai penting untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih kuat. Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menekankan bahwa dampak dengue tidak hanya dirasakan secara personal.
“Dengue masih menjadi tantangan kesehatan yang terjadi sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja. Karena itu, kesiapsiagaan perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang konsisten,” ujarnya.
Sinergi Aksi Perusahaan Lawan Dengue. (Ist)
Ia juga melihat bahwa tempat kerja bisa menjadi titik awal perlindungan yang lebih sistematis. Perusahaan dinilai memiliki peran penting dalam memastikan kesehatan karyawan tetap terjaga di tengah risiko yang ada.
Sejalan dengan itu, dunia usaha juga didorong untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
Hal ini juga disampaikan oleh Shinta Widjaja Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan KADIN.
“Sektor swasta memiliki peran penting dalam membangun kesehatan tenaga kerja. Pada akhirnya, kesejahteraan karyawan merupakan fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan perusahaan,” tegasnya.
Pendekatan kolaboratif pun menjadi kunci, mengingat upaya pencegahan dengue tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara perusahaan, pemerintah, hingga berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan perlindungan yang lebih inklusif dan merata.
Di sisi lain, masih terdapat tantangan dalam meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap berbagai metode pencegahan, termasuk vaksinasi dengue.
Faktor seperti akses dan biaya masih menjadi pertimbangan bagi sebagian pekerja, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih tepat sasaran.
Namun demikian, semakin banyak perusahaan yang mulai menyadari pentingnya langkah preventif ini. Dari edukasi internal hingga pengelolaan lingkungan kerja, upaya-upaya tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan stabilitas bisnis.
Pada akhirnya, perlindungan terhadap dengue di tempat kerja bukan sekadar respons terhadap risiko kesehatan, tetapi bagian dari investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.
